Sajak-sajak Monolog Dini Hari

Puisi kontemplasi kala meneguk kopi menjelang pagi!


Mati Rasa

Sedalam perut bumi kasih ini menghujam

Magma di dalam benakku tenang tak gelegak

Aku sunyi dalam kisah kusam

Meski kalut menyemaki otak dan saling berparak

Kesiap sepi masih jua melirik masam

Apa harus menanggung malu diarak serak

 

Bilakah bilangan kosong dalam dada terhitung

Angka-angka hampa senantiasa tertabung

Teriakan-teriakan sepi bunyi

Genggaman-genggaman terasa mati

Cinta menaburi puisi

Meski empati tidur di setiap baitnya

Simpati lelap dalam pusara aksara

 

Miskin nian risik angin lengang saat gelap

Bising hilang nyaring

Dengking kurang lengking

Cuap tiada bercakap

Derap dekap terasa gagap

Mati bunyi!

 

Teman

Adalah lirih sahabat setia

Menjadi lilin membakar diri

Untuk cahaya menjangkau kamu

Retina tempatku menatap dari jendela benak

 

Apakah ruang tersisa

Dari berbagai kenang paling akrab

Bersua ketika ingin tertawa

Atau sekadar menjemput sendu kala terdengar

Lagu-lagu kebangsaan

 

Sisihkan pendar dan debar

Lirik hola halo teks-teks terakhir

Untuk kubaca saat sepi mencabik hati

Sebagai taman bermain do’a malam

Teman tererat sepanjang sejarah

 

Mata Suara

Zaman semakin sulit di tubuh do’a-do’a

Semua kesukaran menjunjung sembahyang paling kusyu’

Mesin-mesin akal kehilangan kompresi

Sedang mata melautkan harapan

Di tangan cintalah segala tenteram dan cukup tergenggam

 

Zaman semakin sulit bagi yang lemah

Tak terbit mentari untuk yang fakir dan tiri

Setan-setan tambah gigih memalsu laku

Di mana? Di mana para pecinta untukku mencari suaka?

 

Mantra-mantra nenek moyang semakin panjang

Mewariskan silsilah penghisap darah

Tubuhku tumbal untuk para jagal

Jiwaku sesaji untuk segala anomali negeri

Pancar! Berpendarlah cahaya:

 

Hai, ini irah halrihal imub nipmimep!

Kasih, palremeg gnay urab irah iainurak.

Hu, hu, hu, hu, hu…

 

Oh Kasih,

Mesin aku, aku mesin-Mu.

 

Malam Minggu

Karena melawat pusara nanti

Saat kumandang adzan untuk kedua kali

Pada rembulan lima belas tiada bermuka duka

Jangan ada sesal yang merampas kekal

 

Terkadang terdengar kabar jauh bertabur keluh

Petasan dan terompet meledaki jiwa disulut penuh

Jenuh

 

Di mana-mana,

Kesendirian

Kesedihan

Kesepian

Diringkus malam minggu

 

HUH, tapi purnama sudah lama mati

Sejak kau

Lepaskan rangkul

Malam minggu kawin lari

dengan kekasih baru

 

Restu

Aku sungguh ingin tersenyum selebar-lebarnya

Melaju menuju pintumu

Lalu memberi restu

Kepada tolak dan tampik

Menggambarkan haru sekaligus sedih yang unik

Dan meluruhkan segala beban apik

 

Aku sungguh akan tertawa

Tiada berduka

Hanya do’aku terasa asing

Dan kuselami bahagia yang aneh

Serta sendu biru untukmu

 

Bahkan jika memungkinkan terbahak

Untuk harapan yang pernah koyak

Akan kuizinkan pedih dan asin kawin

Di bawah terang bulan

Dengan bingkai foto yang melulu selfie

Gitar yang lupa bunyi

Kopi basi

 

Yogyakarta, 2017 – 2018.

Baca Juga: Senja Berpuisi di Beranda Rumahku

BekelSego adalah media yang menyediakan platform untuk menulis, semua karya tulis sepenuhnya tanggung jawab penulis.


Like it? Share with your friends!

Senior

0 Comments

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *