Senja Berpuisi di Beranda Rumahku

Akan selalu ada rupa senja. Entah hujan atau reda. Entah redup atau nyala. Entah sejenak atau selamanya. Entahlah. Mungkinkah akhir cerita kita?


24

TEMARAM SENJAKU

Senja kembali terbenam di matamu
Di ufuk paling temaram itu
Kupandangi biasnya bersama bibir membisu
Dengan cara diam paling riuh

Sesaat setelah wangimu berlalu
Mengepul kesunyian dari secangkir kopi yang baru saja kuseduh
Pernah kucoba melambungkan harapan
Di antara derap asa yang bergemuruh
Sebait doa turut menyertainya

Bahagia itu pernah sejenak nyata
Sebelum pada akhirnya kau taburi dusta
Jangan sekalipun kau tanya derai air mata
Sebab kini ia sempurna merupa telaga
Kau telah berhasil membuat temaram senjaku redup
Di antara pekatnya sunyi yang mengusik degub

***

RONA JINGGA

Di langit barat
Telah kusaksikan hadirnya
Yang perlahan memudar
Tertelan gulita
Bagaimana mungkin
Aku tak dibuat dilema
Menyukai rona yang mesra
Atau membenci jeda yang sementara
Masih tangguh kupaksakan
Memandang satu kisah kepergian
Berharap esok kembali datang
Meski kutahu akhirnya
Akan mencipta cukup sekian

***

RENDEZVOUS

Di suatu senja
Engkau menjelma hangat
Pada langit yang perlahan pekat
Beberapa pasang burung terbang dengan memikat
Menembus pandang yang melekat

Di tempat ini
Perjumpaan kita tanpa sengaja
Tercetuslah keinginan untuk saling menjaga

Masih di tempat yang sama
Akhir kisah kita tercipta
Selisih yang kian menegang
Jarak yang kian merenggang
Meminta ragamu pulang

***

HIKAYAT SANG SENJA

Sungguh,
tak ada yang lebih indah daripada senja sore hari
Ketika ia hadir dengan segala rona dan aroma yang selalu bergradasi

Sungguh,
tak ada yang lebih menyenangkan daripada senja sore hari
Saat kau terduduk dan pandangmu tertuju pada pesona lazuardi

Namun,
tak ada yang lebih menyakitkan daripada senja sore hari
Ketika malam perlahan harus merampas segala hal yang indah dan menyenangkan itu
Lagi dan lagi

***

DI KAKI LANGIT

Seperti senja tempo hari
Tak pernah ada keraguan
Pada diri mentari untuk pergi
Burung-burung kembali berpulang
Sayapnya dikepak dengan lekas
Lihatlah warna yang menyala
Di lengkung langit terpahat
Seperti kerinduan yang perlahan terbaca
Usai tercatat

Seperti senja tempo hari
Tak ada yang mengubahnya menjadi lain
Seperti dedaunan yang mulai renyap
Cintaku tak sekadar main-main
Rinduku kian mekar sebelum terlelap

***

Baca Juga: Warna yang Tak Sama

 

BekelSego adalah media yang menyediakan platform untuk menulis, semua karya tulis sepenuhnya tanggung jawab penulis.


Like it? Share with your friends!

24

Senior

0 Comments

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *