Sehangat Coklat Panas di Kota Dingin

Coklat panas ditengah kota yang dingin


28
28 points

Kota Batu tak pernah sehangat ini sebelumnya. Meski rintik hujan turun menghantam bumi, menggenangi jalanan, sekelompok awan kelabu beradu dengan gelapnya langit malam di kota itu, namun ada sisi hangat tersendiri yang tengah menemanimu. Di salah satu warung kecil pinggir jalan, kamu tampak sedang berteduh menghindari rintik hujan yang turun. Kedua tanganmu menggenggam sebuah cangkir putih berisi coklat panas yang tadi sempat kamu pesan, menemukan segelintir kehangatan. Senyum mengembang dari bibir ranummu.

Pernahkah kalian merasa seperti tengah diperhatikan oleh seseorang? Setiap gerak-gerik yang kalian lakukan menjadi pusat perhatiannya. Kalian menjadi dunianya saat itu juga.

Sepertinya hal itu sedang terjadi padamu sekarang. Ada sepasang mata yang sedari tadi tak lepas memperhatikanmu, memandang binar matamu di antara langit temaram yang tampak sendu. Sebab hujan masih bersikeras enggan berlalu.

Dia, yang sedang duduk tepat di depanmu itu juga melakukan hal yang sama sepertimu. Mencari kehangatan dari secangkir kopi hitam yang tersaji di atas meja. Menggenggam cangkir itu dengan kedua tangannya.

Manis, karena dia sedang memandangimu sekarang. Padahal yang sebenarnya kopi hitam yang dipesannya itu adalah kopi pahit pada umumnya, sepahit alur kehidupannya.

Omong kosong jika kamu tak menyadari tindakannya sedari tadi. Kamu membohongi dirimu sendiri dan orang lain dengan mengatakan bahwa kamu tidak salah tingkah karenanya.

Tampaknya kamu sudah mahir menyembunyikan segalanya dan berhasil membuat seolah-olah tak terjadi apa-apa. Hanya keheningan yang saat ini menemani kalian. Terlepas dari bisingnya rintik hujan yang menghantam jalanan.

Namun tiba-tiba keheningan itu terpecah.

Dia bertanya, “Apakah kamu merasa senang hari ini?”

Kamu mengangguk pelan.

Dia bertanya, “Apakah kamu merasa lelah setelah jalan-jalan seharian ini?”

Kamu menggeleng cepat.

Dia bertanya, “Kapan kira-kira hujan akan segera reda?”

Kamu mengangkat bahu, tanda bahwa kamu tidak tahu.

Dan dia bertanya, “Apakah kamu suka secangkir coklat panas yang kamu genggam itu?”

Kamu tersenyum lebar, menunjukkan deretan gigimu yang rapi.

Seperti anak kecil, lucu sekali.

Tentu saja. Sebenarnya dia juga sudah tahu akan hal itu. Kamu penggemar coklat kelas akut. Segala jenis coklat pasti kamu suka. Kamu selalu antusias tentang segala hal berbau coklat. Aku benar, bukan?

Dia terlalu banyak bertanya dan kamu terus menutup rapat-rapat mulutmu, kecuali untuk menyesap coklat panasmu itu. Rupanya, bahasa tubuhmu lebih aktif malam itu.

Setelah hening beberapa saat, matanya masih menatapmu lekat. Tampaknya masih ada hal lain yang ingin dia tanyakan padamu. Sedangkan kamu masih sibuk bermain-main dengan secangkir coklat panasmu yang tinggal setengah itu. Menikmati kepulan asap tipis yang membelai wajahmu. Menemukan sedikit kehangatan.

Dia kembali bertanya, apakah kamu bersedia untuk menjadi kekasihnya? Dengan tatapan yang hangat dan lengkung senyum setelahnya.

Karena sedikit terkejut, mencoba mencerna baik-baik pertanyaan yang baru saja kamu dengar. Seketika kamu melongo. Awas, air liurmu bisa menetes nanti! Untung saja kamu tidak sedang meneguk coklat panasmu. Bisa-bisa kamu akan tersedak setelah mendengar pertanyaan yang tak terduga itu.

Matamu terbelalak, kemudian mengerjap cepat beberapa kali. Tubuhmu serasa melayang. Jantungmu pun berdegup lebih cepat dari biasanya. Oh, sial! Kamu benar-benar terlihat seperti orang bodoh sekarang.

“Omong kosong apa kali ini?” batinmu.

Hei, itu bukan omong kosong! Bukankah itu sebuah pertanyaan yang membutuhkan jawaban? Anak kecil zaman sekarang saja juga tahu kalau itu sebuah pertanyaan. Kurasa sekarang kamu sudah benar-benar berubah menjadi orang bodoh.

Oke, tenang! Sekarang kamu hanya perlu menjawabnya. Menjawab pertanyaan yang tak terduga itu.

“Tapi bagaimana aku akan menjawabnya? Dengan bahasa tubuh?”

Tidak! Jangan dengan bahasa tubuh, kali ini, tapi dengan ucapan.

Kenapa? Karena itu akan lebih terdengar meyakinkan. Ingat! dengan ucapan lantang, bukan dengan bahasa tubuh, oke?

Tapi, tunggu! Tampaknya ada sesuatu yang sedang menyangkut di tenggorokanmu. Apakah di dalam coklat panas yang kamu minum tadi ada kerikilnya, dan kamu telah menelannya dengan sengaja?

Sepertinya tidak. Tapi kenapa kamu masih bersusah payah membiarkan mulutmu untuk sekadar terbuka? Padahal saat melongo tadi, mulut itu bisa terbuka dengan mudah, kan?

Atau mungkin kamu memang sudah terbiasa membicarakan hal-hal yang tidak karuan dengannya, sehingga kamu merasa dibuat kesulitan saat menghadapi situasi yang cukup serius seperti saat ini? Ayolah! Bukankah hal ini cukup mudah?

Tidak masalah. Tenang dulu, rileks dulu. Tahan sebentar! Jangan panik. Kamu bisa menghadapinya.

Tarik napas, embuskan!

Tarik napas, embuskan!

Tarik napas, embuskan!

“Kenapa malah seperti orang yang mau melahirkan sih?” kamu menggerutu dalam hati. Maaf, tapi memang aku sedang mengerjaimu sekarang. Hahahaa…

Oke, sudah cukup. Kamu harus bicara sekarang juga! Kamu harus menjawab pertanyaan yang tak terduga itu! Tak perlu dengan kalimat yang panjang kali lebar kali tinggi samadengan volume balok. Tak usah menjawab dengan kalimat yang bertele-tele. Itu hanya akan membuang-buang waktu. Cukup jawab dengan sepatah kata saja, “Ya.”

Sangat mudah, bukan? Tidak perlu dibuat ribet. Sepatah kata itu saja sudah cukup mewakili perasaanmu selama ini, aku yakin itu.
Tapi, apa yang terjadi sekarang? Nyatakah yang sedang kulihat ini? Alih-alih bersuara, melontarkan sepatah kata itu saja, kamu malah hanya mengangguk pelan. Dengan gerakan yang sedikit kaku dari biasanya. Seperti seseorang yang tiba-tiba terkena serangan sakit leher.

Baca Juga: Mimpi dalam Mimpi

Aduh, jawaban macam apa itu? Kenapa harus menggunakan bahasa tubuh, padahal jelas-jelas aku sudah melarangnya tadi. Lagi-lagi kamu hanya mampu menggerakkan sendi di lehermu itu. Kamu hanya mengenal perihal sendi angguk dan sendi geleng saja. Dasar gadis ini, sangat tidak memahami situasi serius seperti saat ini.

Tapi kamu malah menggerutu dan bersikeras menuduh bahwa akulah yang tidak mengerti situasimu sekarang. Aku pun hanya bisa tertawa kecil. Menertawakan tindakan bodohmu itu.

Kamu masih diam dalam posisi seperti orang yang bodoh, dengan mata yang terus mengerjap, kamu mencoba menangkap bagian tubuhmu yang terus berdegup cepat. Jangan coba-coba menghentikannya, cukup kendalikan dengan baik saja. Atau kamu bisa berakhir di tempat saat itu juga. Hei, aku tidak sedang berbohong.

“Hahahahaha hahahahahahaaa…”

Tunggu!

Kenapa tiba-tiba dia tertawa begitu kencang? Apa yang sebenarnya sedang terjadi? Aneh. Ada yang tidak beres sepertinya. Tawanya semakin kencang. Semua orang yang sedang berada di warung kecil itu pun seketika memandangi kalian sekarang. Bahkan, hujan semakin ramai berbondong-bondong jatuh hanya untuk menyaksikan suatu peristiwa yang sedang terjadi padamu.

Dia masih terus tertawa, semakin kencang, semakin terbahak-bahak. Dan kamu semakin dibuat malu karenanya. Orang-orang mungkin sudah menganggapnya gila sekarang. Dan kamu dianggap telah berteman dengan orang gila, yang artinya kamu juga akan dianggap ketularan gila oleh mereka.

Kamu berusaha untuk tetap tenang, namun hatimu sama sekali tidak menunjukkan ketenangan. Semuanya kacau. Jantungmu kembali dibuat berdegup kencang, kali ini jauh lebih kencang.
Karena merasa begitu malu, kamu memejamkan mata rapat-rapat.

Namun tawanya justru semakin terngiang-ngiang di kepalamu. Dan itu sangat melukai perasaanmu. Kamu mencoba mengabaikan suara tawanya, menutup kedua telingamu dengan  sekuat tenaga.

Tenangkan hatimu dan jangan menangis! Cukup tutup mata dan telingamu rapat-rapat. Kumohon jangan menangis!

Setelah beberapa saat, tawa itu perlahan lenyap. Kamu merasa sedikit lega, namun tubuhmu masih lemas. Kamu mencoba memberanikan diri untuk membuka mata.

Ketika kamu sudah benar-benar tersadar, kamu tengah berada di atas kasur kesayanganmu dengan posisi merebah. Bagaimana bisa? Kamu tampak bingung dan bertanya-tanya. Sementara sinar mentari tampak sibuk mengintip lewat celah ventilasi, menyilaukan matamu.

Seketika matamu terbelalak, terbuka sempurna. Tubuhmu langsung terduduk. Tanganmu bergerak perlahan mencari sisi lengan lainnya.

“Aww!”

Kamu mengaduh kesakitan karena baru saja mencubitnya. Kamu pikir, kamu sedang melakukan syuting sebuah adegan seperti di sinetron kesayangan ibu-ibu komplek itu, ya?

Kamu masih tidak percaya dengan apa yang sedang kamu alami. Apa yang sebenarnya terjadi? Dengan kecepatan penuh layaknya sambaran kilat, kamu bergegas menggerakkan tubuhmu ke sisi tempat tidur. Mencari sebuah benda yang biasa kamu letakkan di atas nakas, ponselmu. Setelah tampak ketemu, kamu langsung membukanya dan menatap layarnya lekat-lekat.

“November 2022?”

 

Baca Juga: Hilangnya Si Pembawa Kabar Berita


Like it? Share with your friends!

28
28 points

Novice

0 Comments

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *