Seduh Manja Aroma Cokelat Hangat

Pagi ini secangkir cokelat hangat menemani perbincanganku dengan Hea, adikku. Sembari menata pilinan rasa, kuseduh sedikit dengan racikan semangat untuk adikku Hea.


Pagi ini, kuluangkan waktuku untuk duduk santai menikmati secangkir cokelat hangat di kursi halaman depan rumahku. Wangi basah rerumputan dan semerbak bunga melati menemani syahdu. Mataku seolah dimanjakan dengan kupu-kupu yang hinggap menghisap nektar bunga-bunga taman. Sementara sinar matahari masih malu untuk menyengat kota sepagi ini. Damai sekali.

Klotaaaakkk—

Suara barang jatuh tak jauh dari posisiku berada, spontan aku menoleh. Kudapati Hea yang sudah meringis kesakitan memegang perutnya.

“Astaga, Hea! Hati-hati, dong!” pekikku dan segera berlari menuju Hea yang terjerembab menyenggol tong.

Setelah membopongnya menuju kursi di halaman depan rumah, aku ikut duduk di depannya. Kuperhatikan wajah mungilnya yang tampak pucat dan lemah. Sesekali rasa empati muncul dari dalam benakku.

“Kau tak apa? Apa yang sakit?” tanyaku cemas.

Terus terang saja, adikku ini pengidap kanker leukimia. Aku takut kalau dia kenapa-kenapa. 28 Desember kemarin dia sempat kemoterapi untuk yang ke sekian kalinya.

“Nggak apa-apa, Kak,” jawabnya.

“Kamu mau apa? Biar kakak ambilin sini,” kataku dengan sabar.

Hea menggeleng, “Tadinya, aku hanya ingin bermain ke luar.”

Aku menatap  ke arah sosok adikku. Kulit yang pucat pasi, wajah yang lemah, postur tubuh yang ringkih bahkan rambut yang ia pakai bukan rambutnya asli. Ya, rambutnya habis karena pengaruh zat-zat kimia selama kemoterapi.

“Sejak Hea selalu menghabiskan waktu untuk kemo, Hea jadi kehilangan banyak waktu untuk bermain sama teman-teman,” katanya.

Kupandang matanya yang menerawang kosong seolah tak ada semangat untuk hidup. Sejenak rasa iba muncul, kukerutkan keningku dan menatapnya perlahan. Kuusap rambut palsunya yang panjang dan kaku.

“Hei… Jangan be—

“Kak, kapan Hea sembuh?” tanya Hea memutus ucapanku.

“Kau pasti sembuh. Asal kau yakin, tak menyerah dan selalu berdoa pada Yang Kuasa, Sayang,” jawabku.

Sejujurnya aku pun ragu dengan jawaban yang kuberi pada Hea. Aku belum pernah tahu ada orang yang selamat dari penyakit kanker leukimia. Tapi, bagaimana pun aku tidak boleh terlihat lemah di depan Hea. Nanti dia bisa sedih dan patah semangat.

Karena benak yang sudah jenuh, aku putuskan untuk beralih pandang. Kuarahkan netraku ke arah bebungaan yang tumbuh di taman luar. Kedua bola mataku langsung membelalak dengan segar begitu melihat bunga kesayangan tumbuh.

“Hea lihat deh kuncup bunga lily hujan yang itu,” kataku.

“Kenapa memangnya, kak?” tanya Hea.

“Kuncupnya berwarna ungu seperti lebam dan tampak tidak mungkin akan mekar,” kataku menjawab pertanyaan Hea.

Hea membelalakkan matanya dan membuka lebar-lebar mulutnya, dia tampak sangat terkejut dan kaget. Jika kulihat dari binar matanya tampaknya dia tidak mengerti dengan maksudku.

“Ahh, iya. Seperti layu,” ucapnya.

Aku terkekeh lalu menyeduh cokelat hangatku. Sejenak aku menatap ke arah Hea dan menghentikan kekehanku. Kualihkan pembicaraan, sengaja untuk mengajak Hea berpikir.

“Tapi, bunga soka di sebelahnya sangat cantik dengan warna merah yang menggoda, kan?” lanjutku.

Hea mengangguk. Aku senang jika akhirnya dia menanggapi ucapanku secara serius. Kini raut mukanya tampak sedikit berbeda, walau pasi namun sepertinya sudah terlihat kerutan jelas di dahinya.

“Lily hujan yang kecil itu tampak seperti tak berdaya. Dengan kuncup bunganya yang memiliki ciri khas ungu lebam semacam itu disanding dengan bunga soka merah yang tumbuh besar dan lebat. Tampak tidak imbang,” jelasku.

“Benar,” angguk Hea dengan mantap. “Bunga di sampingnya terlihat lebih besar dan kuat dibanding lily hujan yang itu,” imbuhnya.

“Tapi lily hujannya masih tetap hidup dan berusaha mekar,” sambungku.

Aku tersenyum memandang Hea. Senyumku kali ini seolah menambah semangat dalam diriku. Alih-alih berkerling menatap bunga-bunga yang lain, aku berharap Hea juga sama bersemangatnya denganku.

“Iya. Bunga yang ditakdirkan memiliki bentuk yang kecil dan mungil dengan ciri khas warnanya yang lebam, tak menyebabkannya kehilangan kecantikannya. Ia tetap cantik dengan caranya sendiri. Tetap wangi dengan harumnya sendiri menghiasi taman kita,” kataku.

Kutelan ludahku setelah berkata demikian. Tidak lagi kulanjutkan kata-kataku melainkan diam melirik Hea. Mencoba untuk menelaah sejauh mana Hea bisa memikirkan kata-kataku.

“Apa Hea tak ingin seperti itu? Tetap berusaha bersemi sekuat tenaga Hea. Demi mama, papa dan kakak,” sambungku dengan nada yang bergetar.

Dadaku mulai sesak. Aku ingin menangis tapi Hea tidak boleh tahu air mataku. Aku pun akhirnya hanya bisa tersenyum kecut. Berusaha sekuat tenaga untuk menahan air mataku.

Karena bagaimanapun air mata ini tidak boleh jatuh di depan Hea. Aku harus berusaha tegar dan kuat demi adikku. Akan kutunjukkan padanya bahwa aku tidak menyerah untuk membuatnya sembuh.

“Kakak… Tapi Hea tak punya hal spesial seperti itu,” sela Hea.

“Kata siapa? Hea kan spesial buat kakak. Nggak akan ada yang bisa gantikan Hea di dunia ini. Yang punya senyum seperti Hea. Yang semacam Hea lah pokoknya. Hea satu-satunya dan selamanya akan satu-satunya,” kataku.

Kuusap mata kiriku untuk menyeka bulir air mata yang terlanjur menetes. Kuulas sedikit senyum dan kemudian memandang ke arah Hea kembali. Kuperhatikan wajah ayunya yang pucat.

Terlihat banyak beban di pikirannya. Namun tak pernah ia ucapkan. Lingkar hitam di matanya seolah menunjukkan bahwa dirinya sudah lelah. Mungkin capek karena harus terus menerus berusaha memerangi penyakitnya.

“Hea yang semangat, ya. Nggak boleh menyerah,” lanjutku.

Hea terdiam, tak menjawab kata-kataku. Matanya terpaku pada keindahan bunga-bunga di taman. Cukup lama Hea terdiam, aku pun tidak ingin memaksanya untuk berbicara.

Setelah lama hening mendominasi, akhirnya kudengar Hea terbatuk. Kualihkan netraku memandang wajah mungilnya. Sepertinya kali ini ia ingin berbicara, tetap kuperhatikan dirinya dengan lembut.

“Iya, kak. Hea janji, Hea nggak akan menyerah. Hea tetap semangat dan tetap berdoa biar diberi keajaiban. Kalaupun umur Hea tidak panjang lagi, setidaknya Hea sudah menjalani kehidupan Hea dengan baik dan semangat semampu Hea,” kata Hea dengan nada bicara yang datar, tapi senyum mengambang di bibirnya.

Aku tahu arti senyum itu. Aku pun mengerti bahwa Hea tidak bisa berjanji untuk mengerahkan semua kemampuannya melawan penyakitnya. Namun setidaknya ia sudah berusaha.

Tidak banyak kata yang bisa kuucap, selain hanya senyuman. Tetapi sepertinya senyumku ini tidak terlihat oleh Hea. Karena dipandang saja sepertinya Hea hanya menatap kepada kuntum-kuntum bunga yang mekar di luar sana.

Namun tak lama kemudian, Hea menatap ke arahku dengan tatapan matanya yang nanar. Matanya itu tampak kusut dan layu seperti seseorang yang punya penyakit yang tak biasa. Wajahnya pun terlihat kusut dan tak segar.

“Kakak, mama sama papa tak usah khawatir,” sambungnya.

Hea kemudian melebarkan senyumnya. Kali ini, mungkin ia sedang berpikir untuk menenangkan aku lewat pandangan matanya.

“Tidak perlu terlalu memikirkan penyakit Hea. Sebab Hea sudah bisa melawannya sendiri,” ujar Hea.

Aku tersenyum haru. Hea gadis yang masih berumur 10 tahun ini sudah sebijak ini menghadapi hidupnya yang harus melawan kanker leukimia. Padahal seharusnya, ia bisa bermain dengan ceria bersama teman-temannya dan menuntut ilmu dengan tenang di sekolah.

Tiba-tiba aku teringat sesuatu, aku langsung mengusap rambut Hea dan menata poninya. Kutatap perlahan mata cokelatnya yang kaku, di sanalah terpancar perasaan Hea yang tak pernah terucap.

“Sekolah Hea bagaimana?” tanyaku.

“Baik dan tidak ada kendala. Kemarin ada tugas, tapi sudah Hea kerjakan,” katanya sambil tersenyum cerah.

Aku baru teringat jika adik perempuanku ini masih duduk di bangku sekolah. Namun karena leukimianya, ia jadi tidak bisa sering-sering hadir. Aku menegup ludah, berusaha untuk memasang senyum walau getir.

“Bagus, dong. Pintar adik kakak. Besok pagi kamu bangun pagi, ya. Kakak mau ajak kamu jalan-jalan ke Taman Kota cari udara segar,” kataku tersenyum.

“Benar tuh, kak?” tanyanya yang kujawab dengan anggukanku.

“Yeaaayy! Asyik,” pekiknya dengan semangat.

Tak lama setelah memekik, Hea tergelak. Gelakan tawa itu terasa menggairahkan semangatku. Aku akhirnya berhasil membuat Hea semangat lagi walau hanya sebentar. Senang sekali bisa melihat tawa Hea lagi. Aku tahu ini tidak akan selamanya. Semoga Kau masih memberikan harapan padaku bersama dengan adikku ini.

Baca Juga: Bayangan Masa Depan

BekelSego adalah media yang menyediakan platform untuk menulis, semua karya tulis sepenuhnya tanggung jawab penulis.


Like it? Share with your friends!

0 Comments

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *