Gunting

Gunting. Benda itu terlihat sangat menarik di mata Linda. Benda kecil yang bisa dilipat, berwarna perak dengan dua lingkaran sebagai pegangan.


“Terkadang kamu tidak akan pernah tahu nilai suatu momen sampai itu menjadi kenangan.” Dr Seuss

****
Linda tak berkedip melihat sesuatu tergeletak di meja belajar, Mas Ajat kakaknya. Benda itu terlihat sangat menarik di mata Linda. Benda kecil yang bisa dilipat, berwarna perak dengan dua lingkaran sebagai pegangan. Hebatnya benda itu bisa memotong-motong kertas, daun, juga lainnya.

Tanpa sepengetahuan kakaknya, Linda memasukkan benda itu ke dalam tas sekolah. Besok ia akan memamerkan benda itu pada teman-teman di kelas. Terutama Sena dan Murti sahabatnya.

Di bulan Ramadhan Linda berangkat ke sekolah lebih pagi dari biasanya. Ia telah berada di ruang kelas satu, bersama Murti dan Sena. Dengan bangga ia mengeluarkan benda yang ia anggap keren dari dalam tasnya.

“Liat, aku punya ini !” Linda tersenyum lebar sambil mengangkat benda di tangannya. Melihat wajah-wajah kagum teman-temannya, Linda merasa bangga.

“Wahhh, yuk kita main, masak-masakan di belakang!” ajak Sena.

“Yuk,” sahut Murti dan Linda kompak. Tanpa aba-aba mereka bergegas ke belakang sekolahan.

Sekolah SD Sendang Tiga, terletak di pedesaan di bawah kaki bukit. Jadi tak heran jika pekarangan di sekitar banyak ditumbuhi aneka tanaman. Selain kembang Turi dan pohon beringin besar-besar. Pagar sekolah bagian belakang terbuat dari tanaman Daun Mangkokan, yang tumbuh berjajar. Bentuk daun yang menyerupai mangkuk membuat anak-anak perempuan sering memanfaatkannya sebagai alat bermain masak-masakan.

Anak-anak itu menggunakan Daun Mangkokan sebagai wadah-wadah untuk menyimpan dedaunan yang telah mereka potong. Ketiganya sesekali berganti peran, siapa yang menjadi ibu, anak dan pedagang. Sehingga bisa bergantian dalam menggunakan gunting.

Mereka sangat menikmati permainan. Hingga lonceng tanda masuk kelas berdentang memanggil. Buru-buru ketiganya membuang daun-daunan ke tong sampah. Kemudian berlari ke kelas. Beruntung, kedatangan ketiganya bersamaan dengan Bu Gina, wali kelas mereka. Sehingga mereka tidak terlambat dan tidak mendapatkan hukuman.

Dua jam pelajaran berlalu, tiba kembali kini pada jam istirahat pertama. Riuh suara anak-anak bergemuruh seperti kawanan lebah. Hingga waktu istirahat usai dan hening sesaat ketika guru kembali masuk kelas dan mengajat.

Hari senin di awal Bulan Mei berlalu dengan cepat. Jarum pendek jam dinding di kelas menunjuk angka sepuluh dan jarum panjang ke angka dua belas. Anak-anak bersorak gembira karena waktu pulang telah tiba. Begitu pula dengan Linda. Akan tetapi tetapi kemudian ia panik. Kerana gunting miliknya tidak ada dalam tas.

Linda memilih pulang terakhir. Setelah bersalaman dengan Bu Gina dan memastikan guru wali kelasnya keluar kelas. Linda kembali ke bangkunya. Disusul Murti dan Sena yang sedari tadi menunggunya.

“Guntingku ilang,” ujar Linda mulai panik.

Murti yang mendengar keluhan Linda, membantu mencarinya.
“Tadi pagi, dibawa gak dari belakang,” tanya Murti, memancing ingatan Linda.

“Dibawa kok. Aku inget ditaruh di sini,” terang Linda sambil menunjuk saku tas paling depan.

“Kenapa?” tanya Sena dari meja belakang.

“Guntingku ilang,” jawab Linda hampir menangis.

“Guntingku juga ilang,” keluh Sena.

“Loh, emangnya kamu punya gunting?” Murti dan Linda merasa heran.

“Punya, tadi ada di atas tas!”

“Tapi!” Linda dan Murti berseru menyangkal pernyataan Sena yang terasa janggal.

Merasa terpojok, Sena menangis histeris. Membuat teman-teman yang masih di kelas berkerumun mengelilingi mereka bertiga. Begitu juga Linda, perasaannya campur aduk. Merasa takut karena kehilangan gunting, juga takut karena menjadi penyebab Sena menangis.

Linda dan Sena yang masih di dalam kelas dan menangis, memancing perhatian anak-anak kelas dua, yang baru masuk. Karena kelas itu digunakan bergantian antara kelas satu dan dua. Tanpa dikomando, anak-anak mengerumuni mereka karena penasaran dengan apa yang terjadi.

Murti yang kebingungan menyelinap keluar kerumunan dan memanggil Mas Ajat di ruang kelas enam.

Mas Ajat yang mendengar penuturan Murti, segera berlari ke ruang kelas satu. Bersama Murti, Mas Ajat menyelinap ke kerumunan dan menghampiri adiknya. Melihat Mas Ajat datang, Linda berhenti menangis. Begitu juga dengan Sena.

Murti menjelaskan apa yang terjadi dan akhirnya satu persatu anak-anak yang berkerumun bubar. Mas Ajat membimbing Linda keluar kelas dan mengajaknya duduk di bangku di halaman sekolah. Setelah pamit ke Mas Ajat, Murti dan Sena pulang duluan.

Suasana sudah sepi tinggal Linda dan Mas Ajat yang masih duduk di bangku bersama kakaknya. Tanpa bertanya, Mas Ajat mengerti, gunting yang menjadi masalah adalah gunting miliknya, yang diambil Linda diam-diam. Bukan karena gunting yang hilang tetapi karena dimarahi Mas Ajat, Linda terdiam. Ia hanya menunduk merasa bersalah.

“Sudah, sekarang pulang. Lain kali, tidak boleh ambil barang orang lagi. Bilang, minta ijin dulu!” ucap Mas Ajat, malu dan kesal dengan kelakuan adiknya.

Linda mencium punggung tangan Mas Ajat terlebih dahulu sebelum pulang. Kendati merasa bersalah tetapi ia juga merasa kesal dengan kakaknya.

“Kalau bilang nanti gak boleh pinjam,” sungut Linda.

Mas Ajat garuk-garuk kepala yang tak gatal. Ia ingat, kerap menolak permintaan Linda, saat ingin meminjam barang-barangnya.

“Ya, Mas Salah. Mas minta maaf suka pelit,” sahut Mas Ajat.

Linda tersenyum mendengar jawaban Mas Ajat. Ia merasa lega dan senang. Gadis kecil itu menghentikan langkahnya dan berbalik lagi ke arah kakaknya.

“Kalau udah ketemu, dede pinjem guntingnya ya,” sahut Linda cepat.

“Iya, tapi jangan buat gunting-gunting daun lagi, nanti cepet karatan.” Mas Ajat mengajukan syarat.

“Siap!” ujar Linda sambil mengangkat tangan dan menempelkan ke jidat lebarnya.

“Tapi kamu mau cari gunting itu dimana?”

Mendengar pertanyaan itu Linda menunduk, air mukanya berubah sedih kembali.

Mas Ajat melirik ke arah teman-temannya yang berlarian masuk kelas. Kemudian kembali melihat wajah sedih adiknya.

“Sudah, sekarang pulang duluan, Mas masih ada kelas,” ujar Mas Ajat.

“Iya,” sahut Linda sambil berlari pulang, meninggalkan kakaknya.
****

Setelah kejadian itu, Linda, Murti dan Sena tak lagi akrab seperti biasanya. Murti yang tidak berpihak, memilih diam. Sehingga ketiganya tak pernah main bersama-sama lagi.

Waktu berlalu tak terasa hari Rabu telah tiba. Itu artinya Linda, Murti dan Sena sudah tiga hari bertengkar. Meskipun sudah tidak ada perasaan marah, Linda masih enggan menyapa Sena.

“Linda!”

Linda yang datang pagi ke kelas, tengok kanan kiri mendengar seseorang memanggil namanya. Ia perhatikan pintu depan, tidak ada siapapun. Kemudian menoleh ke pintu belakang, pun tidak ada siapapun.

“Linda!”
Murti dan Sena memanggil lagi. Namun ketika melongok ke kelas dari pintu depan, Linda menoleh pintu belakang, hingga detik berikutnya. Tatapan ketiganya bertemu. Dari pintu depan, Murti dan Sena masuk sambil tertawa. Begitu juga Linda, menyambut kedua sahabatnya dengan tersenyum lebar.

“Ini,” Sena menyodorkan telapak tangan berisi gunting.

“Maaf ya, aku,” ucap Sena menyesal.

“Iya,” Linda menyahut cepat. Meraih gunting itu dengan tangan kanannya. Kemudian tangan kirinya menarik tangan Sena dan mengajaknya berlari ke kelas enam. Murti ikut berlari menyusul.

Linda melongok ke kelas enam. Kedua matanya mencari-cari sosok Mas Ajat di antara anak-anak lainnya. Sedikit heran ia tidak mendapati Mas Ajat di bangkunya. Namun tiba-tiba, ia berteriak ketika seseorang mengagetkannya.

“Dor!” seru Mas Ajat dari arah belakang.

Melihat adiknya berteriak kaget, Mas Ajat tertawa, begitu juga anak-anak lain yang melihat kejadian itu.

“Mas Ajat!” Linda bersungut-sungut kesal. Namun hanya sesaat, karena ia teringat tujuannya mencari kakaknya.

“Mas, Guntingnya ketemu. Makasih ya, Mas,” ucap Linda sambil tersenyum.

Mas Ajat tersenyum dan mengambil gunting itu dari tangan Linda.

“Ketemu dimana?” tanya Mas Ajat. Namun kemudian ia menyesali pertanyaannya, saat melihat raut muka Sena berubah.

Mas Ajat, teringat penjelasan Linda waktu itu.

“Maaf, Mas, aku yang …,” ujar Sena sambil menunduk. Kedua matanya mulai berkaca-kaca

“Sena, terima kasih ya. Kamu sudah berani dan jujur. Kamu hebat!” puji Mas Ajat, sambil mengusap bahu Sena.

Sena mendongak dan tersenyum, ia merasa lega dan senang.  Kemudian ia menghapus setitik air matanya yang sempat menetes ke pipi.

“Sudah, kalian kembali ke kelas ya,”  perintah Mas Ajat, yang disambut anggukan kepala oleh ketiganya.

Sena, Murti dan Linda kembali ke ruang kelasnya. Melihat para guru keluar kantor, mereka berlari cepat. Agar lebih dulu sampai kelas sebelum wali kelas mereka.

Gunting telah kembali ke Mas Ajat. Artinya masalah selesai. Setelah gunting dikembalikan ke Mas Ajat, ketiganya kembali bersama-sama. Tidak ada lagi pertengkaran, mereka main bersama lagi tanpa beban.

Dengan mengakui kesalahan dan meminta maaf, menjadi akhir permasalahan dan pertengkaran. Linda dan Sena menyadari kesalahan mereka. Dalam hati keduanya berjanji tidak akan mengulanginya lagi. Sperti tidak pernah terjadi apa-apa, ketiganya bermain seperti biasa.

Mutia AH
Ruji, 24 April.

Baca Juga: Kue Lebaran Untuk Bona

BekelSego adalah media yang menyediakan platform untuk menulis, semua karya tulis sepenuhnya tanggung jawab penulis.


Like it? Share with your friends!

Senior

One Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *