Di Batas Khayal

“Relakan dia, Alya. Jangan terus mengkhayalkan keberadaanya. Iklaskan, agar tidak berat bebannya,” bisik Kanaya sambil mengelus punggung Alya.


 

“Bangun!”

Alya langsung terjaga mendengar suara Bara yang membangunkannya. Setelah dilihatnya, ternyata jam sudah menunjukkan pukul 06.30.

“Haduh, bakal terlambat lagi, nih,” gumam Alya.

Segera gadis 25 tahun itu melesat menuju kamar mandi. Alya selesai mandi dalam waktu singkat.

“Mandi kilat lagi? Atau jangan-jangan cuma cuci muka?” tanya Bara.

Alya hanya nyengir menanggapinya.

“Telat bangun lagi, Alya? Ayo buruan sarapan,” tegur sang ibu yang sudah siap di meja makan.

Alya melirik Bara yang kini duduk di sebelah ibunya. Dilemparkannya seulas senyum padanya, sebelum mulai menyuap nasi goreng yang sudah mulai dingin. Terdengar ibunya mendesah sedih, sambil menatap wajahnya. Alya tertunduk sembari meneruskan suapannya. Ia merasa sepertinya Bara juga menatapnya sedih.

“Alya berangkat dulu, Bu,” pamitnya segera setelah selesai makan.

Ibunya mengangguk, lalu berbisik, “Kau berangkat sendirian?”

Alya terdiam sejenak, melirik Bara yang bersiap mengikutinya. Sekilas terlihat bayangan muram di wajah sang ibu.

Tanpa menjawab, Alya langsung berbalik dan melangkahkan kakinya. Tentu saja Bara mengikuti di sebelahnya. Alya melangkah dalam kebisuan. Entah, sedih atau bahagiakah ia berjalan berdampingan dengan Bara saat ini?

Alya menyetop angkot. Dia duduk persis di belakang sopir. Di hadapannya duduk seorang pria paruh baya, dengan senyum yang membuatnya tidak nyaman.

“Perbaiki dudukmu!” tegur Bara.

Alya segera memperbaiki posisi duduknya, membuat lelaki di hadapannya tampak kecewa, lalu mengalihkan pandangan.

“Selalu duduk sembarangan, mengundang orang lain berpikiran kotor,” omel Bara.

Alya hanya tersenyum mendengar omelan yang penuh perhatian itu.

Sampai di tujuan, Alya membayar sejumlah uang untuk dua orang kepada sopir. Dirinya tersentak ketika sopir memberikan kembalian. Lama gadis itu berdiri mematung di tepi jalan.

Bara hanya berdiri memandangnya dalam diam. Dengan langkah limbung Alya berjalan menuju kafe trempatnya bekerja. Bara mengikutinya perlahan. 

“Kamu kenapa, Alya?” ucap Kanaya, temannya yang juga pemilik kafe.

Dialah sahabat yang semakin menunjukkan kekhawatinnya pada Alya, sejak tragedi seminggu lalu.

“Alya, kamu baik-baik saja?” ulangnya.

“Sopir angkot hanya menerima ongkos untuk satu orang saja. Padahal aku bersama Bara,” Jawab Alya sambil menatap Bara. Alya tidak bisa memahami wajah Bara yang kini terlihat sedih.

Kanaya segera memeluk erat Alya. 

“Kamu pulang saja, ya. Jangan bekerja hari ini,”ucap Kanaya.

“Mengapa? Aku sudah siap kerja, kok. Apalagi Bara menemaniku hari ini.”

Alya melemparkan senyum pada Bara yang berdiri di samping jendela.

“Di mana Bara?” bisik Kanaya.

“Itu di ….” Ucapan Alya terhenti. Tangannya menunjuk ruang kosong di samping jendela. 

Seketika tangisnya pecah. Bara tidak lagi terlihat di mana pun.

“Relakan dia, Alya. Jangan terus mengkhayalkan keberadaanya. Iklaskan, agar tidak berat bebannya,” bisik Kanaya sambil mengelus punggung Alya.

Seketika tangan Alya menggenggam liontin bentuk hati yang berisi fotonya dan almarhum Bara, kekasihnya.

***

“Sepertinya Alya belum bisa menerima kematian Bara, Bu,” ujar Kanaya kepada ibu Alya.

Setelah peristiwa di kafe tadi, Kanaya mengantarkan Alya yang sedang terguncang, pulang ke rumah. Setelah Alya beristirahat di kamarnya, Kanaya mendiskusikan keadaannya kepada sang ibu.

“Ibu juga menyadari itu dan merasa khawatir. Alya sering tersenyum pada tembok, kursi, dan ruang kosong lain. Sepertinya dia melihat Bara di sana,” jawab ibu Alya.

“Dia mengkhayalkan itu, Bu. Dia enggan merasa kehilangan Bara.” Kanaya mendesah, lalu melanjutkan, “kita harus bagaimana, Bu?”

Kedua orang hanya terdiam selama beberapa waktu. Hening menyelimuti, membuat suasana menjadi tidak nyaman. Keduanya mengkhawatirkan keadaan gadis manis kesayangan mereka.

Seminggu yang lalu, Bara dan Alya sedang berboncengan pulang dari pernikahan sepupu Bara. Entah kenapa, tiba-tiba motor Bara oleng dan menabrak mobil dari arah berlawanan.

Bara meninggal dunia di tempat, sementara Alya tidak sadarkan diri selama tiga hari. Saat Alya pulih, dia hanya dapat menemui pusara kekasihnya. Bisa jadi itulah yang membuat pikirannya menolak kehilangan sang kekasih.

Gadis berambut sebahu itu selalu mengkhayalkan sang kekasih ada di dekatnya. Selalu menjaga dan mengingatkannya jika dia ceroboh seperti biasanya. 

Ibunya yang pertama menyadari hal ini, yaitu ketika Alya mulai tersenyum pada udara. Bahkan, Alya terlihat kian ceria, seolah tidak sedang berduka. Tentu saja, hal ini membuat sang ibu khawatir.

Sebenarnya, Alya sempat histeris ketika mengetahui Bara telah meninggal dunia. Dia menjerit dan sibuk memukul-pukulkan tangan ke kepalanya. Ibu, dan orang-orang lain sampai kerepotan menghentikannya.

Alya bahkan masih menangis meraung ketika mengunjungi makam kekasihnya itu. Dia terus-menerus memanggil nama Bara, seolah lelaki kesayangannya itu bakal kembali bersamanya.

Tentu saja, Bara tidak akan kembali lagi. Kesedihan Alya memuncak ketika mengikuti tahlil. Namun, saat itu, rupanya dia memiliki jalan keluar dari kesedihannya. Dia mulai membayangkan kehadiran Bara di sisinya.

Sejak itu, Alya tampak kembali ceria, bahkan lebih dari sebelumnya. Awalnya sang ibu senang melihatnya. Wanita paruh baya itu mengira Alya sudah bisa menerima kenyataan bahwa kekasihnya sudah meinggal.

Sayangnya, semua itu awal dari kesedihan sang ibu. Ternyata Alya lebih ceria karena mengkhayalkan keberadaan Bara. Sang ibu khawatir kesehatan mental anaknya telah terganggu.

***

Kanaya telah pulang setelah beberapa waktu menemani ibu Alya. Kini, hanya tinggal sang ibu di ruang tengah, sementara Alya masih di kamarnya.

“Apa yang harus aku lakukan, Mas? Alya kita sedang menderita karena kesedihannya. Aku khawatir pada kesehatan mentalnya,” keluh ibu sambil memandangi foto almarhum ayah Alya.

Tiga tahun lalu, ibu juga mengalami kesedihan yang sama. Suami tercintanya juga meninggal mendadak akibat serangan jantung. Kala itu, ibu tidak dapat menangis. Namun, dadanya terasa sesak. 

Sampai para tamu yang mengikuti tahlil sudah pulang semua, ibu pun masih tidak menangis. Hanya tatapannya kosong dan susah diajak komunikasi. Malamnya, kakak ibu mencoba berbicara dengan adiknya.

“Dia sudah pergi, Dik,” ujar budhenya Alya.

Seketika tangis yang selama ini tertahan di dada ibu tumpah semuanya. Bahkan pundaknya berguncang hebat akibat tangisnya. Kesedihannya terasa ketika hanya tinggal berdua dengan kakaknya.

Ibu Alya baru bisa menangis ketika Alya sudah tidur. Mungkin secara tidak sadar otaknya memerintah untuk menahan duka itu dan tidak menunjukkannnya di depan Alya.

Kini, rupanya kesedihan yang sama menyapa anaknya. Sayangnya, Alya mengatasi dengan cara yang salah.

***

Alya duduk bersama sang ibu di teras rumah. Dua cangkir cokelat panas dan brownies turut menemani. Keduanya adalah kesukaan Alya.

“Alya, tiga tahun lalu ibu sedih karena kehilangan ayahmu. Namun, ibu bertahan karena ada kamu yang menjadi penyemangat,” ujar ibunya membuka percakapan.

“Kini, maukah Alya bertahan demi ibu?” lanjutnya.

Alya hanya menarik napas panjang. Pandangannya menuju ke satu titik.

“Alya melihat ada Bara di sana?” tunjuk sang ibu ke titik yang dipandang Alya.

Seketika gadis itu tersentak. Tangisnya pecah.

Ibu segera mendekat, memeluk, serta mengusap rambut anak semata wayangnya.

“Alya tidak bisa melihat Bara lagi, Bu, sejak kemarin Ibu dan Kanaya mengajak Alya ke makamnya,” ucap gadis itu di sela tangisnya.

“Alya sekarang sendirian, Bu. Rasanya sakit kehilangan dirinya,” lanjutnya.

“Terima kenyataan, Nak. Memang sakit, tapi ini yang harus kamu jalani. Jangan mengkhayalkan kehadirannya lagi. Biarkan dia tenang di sana,” bisik ibunya sambil terus membelai lembut rambutnya.

“Kenang dia, Nak. Tapi kamu tidak boleh egois. Mengkayalkan keberadaannya seolah dia masih hidup, tidak hanya merusakmu, tetapi juga membuat Bara tidak tenang di sana,” pungkas sang ibu.

***

Sebulan sejak kematian Bara, tampaknya Alya kembali pulih. Dia sudah tidak lagi mengkhayalkan kekasihnya. Kehidupannya pun kembali seperti biasanya.

Sore itu, dia bersama Kanaya sedang jalan-jalan di mall. Mereka sibuk memilih tas, ketika sekelebat bayangan tampak di kaca dan membuat Alya tersentak.

Seketika Alya mengejar sosok itu yang kini hanya tampak punggungnya. Kanaya yang kaget melihat Alya berlari pergi pun otomatis mengejarnya.

“Alya! Kamu mengejar siapa?” tanya Kanaya sambil tersengah-engah.

“Bara. Aku barusan melihat Bara. Itu dia. Kejar, Kanaya!” jawab Alya sambil kembali berlari mengejar seseorang, di antara kerumunan pengunjung mall.

“Hah? Bara?” gumam Kanaya.

Akhirnya Kanaya berhasil mengejar Alya. Tapi dilihatnya sahabatnya itu dengan kasar membalikkan tubuh seorang laki-laki.

Alya menyadari bahwa itu bukanlah Bara. Seketika tangisnya pecah. Alya melolong dalam duka dan pilu hatinya.

Kanaya segera memeluk Alya yang jatuh terduduk sambil terus menjerit. Dipeluknya sahabatnya itu. Kanaya hanya mampu mengusap punggung Alya, turut menangis bersama sahabatnya itu.

“Iklaskan dia Alya, Iklaskan …,” bisik Kanaya berulang kali di telinga Alya.

Dan orang-orang di sekeliling mereka, hanya bergerombol sambil memandang kebingungan.

 

Baca Juga: Tempat yang Menerimaku

 

BekelSego adalah media yang menyediakan platform untuk menulis, semua karya tulis sepenuhnya tanggung jawab penulis.


Like it? Share with your friends!

Novice

0 Comments

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *