Tempat yang Menerimaku

Tempat yang memiliki sebuah lonceng kecil di atas pintunya. Begitu aku masuk, aku langsung disambut oleh sebuah papan yang bertuliskan SEMUA SETARA. Itu kata-kata yang memberiku semangat.


Tempat itu memiliki sebuah lonceng kecil di atas pintunya. Letak lonceng itu sedikit ke bawah sehingga ketika ada yang mendorong atau menarik pintu, lonceng itu akan berbunyi. Kling. Suara dari lonceng kecil itulah yang paling kusukai dari tempat itu.

Pemilik tempat itu adalah seorang perempuan muda yang mungkin usianya akhir dua puluhan. Aku tidak akan menanyakan usianya karena itu tidak sopan menurut aturan umum. Terlebih lagi, tidak ada alasan khusus yang mengharuskan seseorang mengetahui usia orang lain. Kalau toh alasannya demi agar bisa bersikap sopan dengan tidak keliru menggunakan kata ganti orang, bukankah akan lebih bagus kalau kita bersikap sopan kepada siapa pun?

Ada sebuah slogan yang kusukai di tempat itu. Slogan itu ditulis dengan tinta dan dipajang di dekat konter yang lurus dengan pintu masuk dan ada juga yang dipasang di atas pintu untuk selalu mengingatkan pengunjung yang hendak pergi dari tempat itu. Slogan itu tertulis: SEMUA SETARA. Barangkali hanya di tempat sempit itu sajalah tindakan-tindakan rasis atau semacamnya benar-benar tidak ada. Semua pengunjung menghormati satu sama lain dan tidak pernah membedakan wujud, warna kulit, dan segala hal yang menyangkut identitas.

Aku menemukan tempat itu pada suatu malam ketika hujan begitu deras mengguyur kota. Aku berteduh di teras tempat itu tanpa sengaja setelah pulang dari pekerjaan yang kubenci. Maksudku, aku membenci orang-orang yang bekerja di sana karena mereka memperlakukan seseorang secara setara. Aku adalah salah satu dari sekian banyak orang yang mengalami ketidakadilan semacam itu.

Saat itu pemiliki tempat itu sedang keluar untuk mengambil papan nama dan hendak memasukkannya. Tempat itu sebenarnya sudah hendak tutup.
Ketika pemilik tempat itu keluar, aku sebenarnya ketakutan. Di dalam benakku sudah terpatri bahwa orang-orang akan memperlakukanku dengan buruk, tanpa terkecuali, karena saking banyaknya orang-orang yang memperlakukanku demikian. Hanya ada dua orang di dunia ini yang begitu mengasihiku sebelum aku mengenal tempat itu, yakni ayah dan ibuku. Tapi, ketika si pemilik tempat itu tersenyum ramah kepadaku, ketakutanku sedikit berkurang.

“Mau berteduh di dalam? Aku bisa membuatkan kopi atau minuman hangat yang lain kalau berkenan.” Suaranya lembut dan penuh kasih sayang. Membuatku terkenang pada suara ibuku bertahun-tahun lalu.

“Apa boleh?” tanyaku gugup.

“Tentu. Masuklah. Hujan sepertinya belum akan reda dalam waktu dekat.”

Aku berpikir sejenak. Kuharap dia berbicara jujur. Aku punya beberapa pengalaman buruk ketika ditawari hal semacam itu. Mereka awalnya begitu baik, tapi setelah di tempat sepi mereka mulai memukuliku tanpa ampun. Setelah puas menganiayaku, mereka biasanya menampilkan wajah riang seolah seluruh beban yang tadi berada di pundak mereka terangkat sepenuhnya. Karena hal itulah, meskipun yang menawariku begitu ramah, aku tetap curiga. Meski demikian, pada akhirnya aku tetap menerima tawaran itu. Perempuan itu terlihat bahagia ketika aku mengangguk.

Ketika perempuan itu mendorong pintu, terdengar suara lonceng kecil berdenting. Itu suara yang menenangkan. Gemanya seperti langsung menuju hatiku dan memenuhi setiap relungnya. Denting itu melemaskan setiap ototku yang menegang selama seharian ini.
Begitu aku masuk, aku langsung disambut oleh sebuah papan yang bertuliskan SEMUA SETARA. Itu kata-kata yang memberiku semangat. Kata-kata semacam itu sebenarnya terus digaungkan di luar sana oleh para petinggi, aktivis-aktivis, dan beberapa tokoh penting lainnya. Tapi kata-kata berapi-api yang mereka ucapkan tidak lebih dari sebuah tong kosong yang nyaring bunyinya. Jika kata-kata mereka benar-benar berguna, sekarang mungkin aku sudah tidak akan gemetar lagi ketika bertemu orang lain. Aku akan berjalan di dalam kota tanpa rasa takut sedikit pun. Orang-orang tidak akan menatap sinis diriku dan anak-anak mereka tidak akan ketakutan melihatku.

Ada tiga meja bundar di tempat itu. Di ujungnya terdapat sebuah sofa yang memanjang. Ada juga sebuah konter yang memiliki enam buah kursi dengan permukaan berbentuk lingkaran. Aku duduk di salah satu kursi di konter. Perempuan itu masuk ke sebuah pintu yang ada di belakang konter dan segera keluar untuk menyerahkan handuk kepadaku. Aku menerimanya sambil mengucapkan kata terima kasih kepadanya. Kulapi kepalaku agar air yang berada di sana terserap kain handuk dan tidak terlalu basah lagi.

“Kau suka apa?”

“Teh saja, kurasa.”

“Sebentar, ya.”

Dia mengambil gelas dan meracik teh.

“Siapa namamu?”

“Aswatama.”

“Nama yang bagus.”

Aku tidak tahu dari mana bagusnya nama yang diambil dari salah satu tokoh pewayangan yang membela kubu yang jahat itu. Aku cukup menderita dengan nama yang diambil dari tokoh yang jahat itu, yang tidak punya rasa kasihan dengan menghabisi kelima putra Pandawa ketika mereka tidur dan berniat menghabisi tokoh yang masih dalam kandungan di akhir Baratayudha. Aku seperti membawa derita Aswatama yang dikutuk untuk mengembara selama-lamanya dengan menyandang penyakit kusta. Jika mereka memang menyukai Mahabharata, mereka masih bisa memilih nama-nama yang memiliki tindak laku mulia seperti Yudistira, Bima, atau Janaka, misalnya.

“Namaku Asih. Aku mewarisi tempat ini dari ayahku.” Dia meletakkan teh racikannya di hadapanku. Teh itu menguarkan aroma melati. Aroma yang memanjakan hidungku. “Kau baru saja pulang bekerja, Aswatama?”

Aku mengangguk.

Dia menyadari perubahan pada raut wajahku. Dia kemudian mengelus rambutku. Elusannya benar-benar tulus. Aku merasa malu dan tidak berdaya di hadapannya. Apakah dia seorang peri? Atau dewi yang turun ke bumi untuk memberikan perlindungan bagi yang tertindas? Tapi, bagaimanapun aku melihatnya, wujudnya benar-benar hanya seorang manusia biasa. Dilihat dari ujung rambutnya sampai telapak kakinya dia benar-benar hanya manusia biasa. Manusia biasa yang berbeda dari kebanyakan manusia biasa yang kutemui selama ini.

“Kau sepertinya mendapatkan hari yang berat,” katanya lagi dengan suara keibuan. Suaranya mengingatkanku kepada ibuku sekali lagi yang disembelih oleh para manusia yang tidak tahu diri hanya karena ibuku melakukan kesalahan kecil ketika bekerja sebagai pembantu rumah tangga. Menurut yang kudengar dari ayahku, dia hanya tidak sengaja memecahkan vas bunga. Bahkan jika vas bunga itu berharga triliunan, tetap saja tidak sepadan dengan nyawa seseorang. Tak seorang pun dapat mengukur harga nyawa seseorang.
Aku tidak tahan lagi untuk menahan tangisanku. Kutumpahkan semuanya sampai cukup membasahi permukaan meja. Aku menunduk dan malu untuk menatap wajah perempuan kedua yang begitu baik kepadaku setelah ibuku itu. Selama aku menangis, Asih terus mengelus rambutku.

“Datanglah ke sini ketika kau mengalami hari-hari yang berat. Di tempat ini, kau akan menemukan obat untuk segala luka yang kaualami selama menjalani hari-hari semacam itu.”

Kali ini suara Asih terdengar serak dan sedikit tergagap. Aku yakin dia juga ikut menangis, ikut merasakan penderitaan yang kualami. Setelah beberapa saat dia bahkan memelukku dan mengelus punggungku.

“Ibu,” kataku lirih. Aku terkenang kepada ibuku lagi, juga merindukannya. Elusan Asih pada punggungku itulah yang membangkitkan perasaan nostalgia itu.

“Kau boleh menganggapku ibumu jika mau.”

Semenjak saat itu aku secara rutin pergi ke tempat itu. Aku akan duduk di konter atau di sofa panjang yang berada di ujung ruangan. Aku akan selalu memesan teh melati buatan Asih yang memanjakan hidungku. Aku akan duduk di salah satu kursi di sana, menikmati teh melati buatan Asih, dan sesekali berbicara dengannya atau orang-orang lain yang mengunjungi tempat itu. Aku juga akan menunggu lonceng kecil di atas pintu berdenting. Suara itu benar-benar mendamaikan hatiku.

Satu hal lain yang kusukai dari tempat ini adalah tidak satu pun dari mereka, baik Asih maupun pengunjung lain, yang mempermasalahkan kepalaku yang hampir menyerupai kepala seekor kuda dengan moncong yang agak memanjang dan surai yang ada di punggungku. Tidak satu pun dari mereka yang ketakutan dengan wajahku dan melempariku dengan batu atau benda lain yang berada di dekat mereka sambil memaki, “Monster!” Mereka menerima bentuk tubuhku dan tidak pernah mencoba mencari kekurangan di dalamnya.

7 Februari 2022—5 Agustus 2022

Baca Juga: Surat Kabar Alzela


Like it? Share with your friends!

0 Comments

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *