5 Bahaya Ketika Mendaki Gunung, Jangan Cuma Modal Nekat saja!

Mulai dari hipotermia hingga kaki dapat terkilir


Mendaki gunung bagi sebagian orang merupakan hal yang mengasyikan. Apalagi jika kamu memang hobi mendaki gunung.

Namun, dibalik asyiknya kegiatan mendaki gunung, ada bahaya yang mengancam. Untuk itu sebelum mendaki gunung, diperlukan pengetahuan tentang teknik, etika dan wawasan tentang gunung yang akan kamu daki.

Apa saja bahaya yang menyertai para pendaki gunung, Yuk simak!

1. Hipotermia

Mendaki Gunung (pixabay.com/Squirrel_photos)

Hipotermia menjadi urutan pertama bahaya dalam mendaki gunung, karena sering terjadi. Pada dasarnya, tubuh manusia memiliki mekanisme yang dapat menjaga suhu tubuh pada titik normalnya yaitu 36,5 – 37,5 celcius. Mendaki gunung adalah perjalanan menembus wilayah dengan suhu dingin yang ekstrim.

Pada saat melewati wilayah sangat dingin, kemampuan tubuh menghasilkan panas lebih sedikit dibandingkan panas yang hilang. Ketika hal tersebut terjadi, maka saat itulah hipotermia mulai dirasakan.

Hipotermia bisa terjadi karena hal-hal yang kadang disepelekan oleh pendaki. Seperti mengenakan pakaian basah, tidak menggunakan jaket, perut dalam kondisi kosong dan konsumsi minuman beralkohol. Terkadang penderita juga telat menyadari bahwa kondisi suhu tubuhnya menurun secara drastis.

Untuk penanganannya, pastikan penderita mengenakan pakaian pakaian kering dan tebal. Pastikan juga tempat yang digunakan kering dan terlindung dari angin. Ketika semua sudah dilakukan, coba untuk berikan minuman hangat dan makanan-makanan manis untuk menjaga suhu tubuh dari dalam. Dampingi juga penderita karena dapat membantu menjaga suhu lingkungan.

Selain itu, pendamping dapat membantu menjaga kesadaran penderita karena pada level tertentu penderita bisa mulai kehilangan kesadaran bahkan merasa kepanasan dan membuka pakaiannya atau disebut dengan Paradoxical Undressing.

2. Hipoksia

Ilustrasi kadar oksigen tipis (pixabay.com/simon)

Semakin tinggi suatu tempat dari permukaan laut, maka kadar oksigen akan semakin menipis. Semakin tinggi gunung yang di daki, semakin tipis pula kadar oksigen. Mendaki gunung adalah kegiatan fisik yang justru membutuhkan pasokan oksigen yang baik dalam tubuh. Hipoksia muncul ketika kadar oksigen yang menipis tersebut mempengaruhi sistem jantung, pembuluh darah dan pernapasan.

Hipoksia ditandai dengan sesak napas, kepala pusing, batuk-batuk dan kondisi tubuh melemas. Untuk menangani hipoksia adalah dengan meningkatkan kembali supply oksigen kepada penderita.

Hal pertama dapat dilakukan dengan pemberian tabung oksigen bantuan kepada penderita. Kemudian longgarkan pakaian penderita seperti ikat pinggang dan kancing kerah agar sirkulasi udara lebih lancar dan tidak sesak. Segera mobilisasi penderita ke tempat yang lebih rendah dengan kadar oksigen lebih tinggi.

3. Keracunan Gas

Kawah gunung berapi (pixabay.com/sasint)

Indonesia memiliki banyak gunung api yang masih aktif. Terbentang dari Sumatera, Jawa, Bali hingga Papua. Beberapa gunung berapi aktif memiliki kawah terbuka dan secara terus menerus mengeluarkan gas beracun dari dalamnya.

Untuk menghindari resiko terpapar gas beracun pada gunung berapi, beberapa hal yang harus diperhatikan yaitu mengenali tipe gunung yang akan didaki, mengikuti jalur pendakian yang sudah ditentukan pengelola, tidak mendaki puncak apabila dilarang dan membaca petunjuk alam dan arah angin.

Baca Juga: Mudah Lelah dan Bosan Saat Olahraga?, Ikuti 7 Tips Berikut Ini !

4. Lecet dan luka

Peralatan mendaki gunung (limakaki.com)

Salah satu kecelakaan yang sering terjadi di kalangan pendaki gunung ialah kaki lecet, yang bisa disebabkan dari kesalahan pemilihan dan pemakaian sepatu, kaos kaki, ataupun menggunakan sendal gunung.

Banyak pendaki pemula, yang menggunakan sendal gunung ketika mendaki. Padahal mendaki gunung yang aman dan nyaman ialah dengan memakai sepatu.

Perpaduan sepatu dan kaos kaki yang kurang sesuai juga bisa membuat kaki lecet. Pakailah sepatu gunung, karena sesuai namanya memang diperuntukkan naik gunung.

Ketika mendaki, anggota tubuh kita sangat berpotensi untuk terbentur, ataupun jatuh. Untuk itu, diperlukan alat pengaman seperti tali, sarung tangan, penutup kepala, ataupun senter jika melakukan pendakian pada malam hari.

5. Terkilir

Ilustrasi mendaki gunung (Unsplash.com/Toomas Tartes)

Pemakaian alas kaki yang tidak tepat juga dapat membuat kecelakaan seperti terkilir. Ditambah lagi dengan kurangnya pemahaman tentang medan saat pendakian.

Salah satu cara agar beban tubuh teralokasikan dengan merata saat melangkah di pendakian ialah dengan menggunakan trekking pole atau tongkat. Bisa juga menggunakan batang kayu tak terpakai yang ditemukan. Melangkah dengan trekking pole di tangan, juga bisa mengurangi beban di kaki, sehingga tenaga bisa lebih hemat.

Masih banyak bahaya lain yang mengintai para pendaki gunung seperti tersesat, kelelahan, hewan buas, dan lain sebagainya. Untuk itu diperlukan persiapan yang matang sebelum kamu mendaki. Jadi, jangan hanya punya modal nekat atau ikut-ikutan saja ya.

Baca Juga: 5 Manfaat Mendaki Gunung Bagi Kesehatan


Like it? Share with your friends!

Life is Beautiful

0 Comments

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *