Rahasia Teman

Rumahnya menjadi bulan-bulanan dikunjungi oleh debt collector. Rumah Kontrakan yang tidak terlalu luas, ia berjuang mencicilnya


“Ojek-ojek.. ojek, Pak, Bu..” Teriak Jali sembari menyeka keringat yang mengucur deras dari pelipisnya. Matahari siang ini begitu terik. Sedari pagi tadi tak kunjung mendapati penumpang. Ayah yang telah berstatus duda ini hidup bersama Rizal, seorang putranya yang berumur tujuh tahun. Istrinya beberapa pekan lalu telah meninggal karena sakit, masih menyisakan kekosongan dan kehampaan dalam hatinya.

“Bapak Pulang…” Ucap Jali tiba di rumahnya.

“Maaf ya, nak. Hari ini kita makan tahu dan tempe lagi, ya”

“Iya, Ayah. Ini enak kok..” sambil melahap makanan yang diberikan oleh Jali.

Ia dan anaknya bertahan dengan kehidupan yang serba sederhana. Rumahnya menjadi bulan-bulanan dikunjungi oleh debt collector. Rumah Kontrakan yang tidak terlalu luas, ia berjuang mencicilnya. Lima hari lalu dia memohon-mohon, bahkan sampai-sampai ia bersimpuh di hadapan algojo yang datang menagih, meski begitu tetap saja meninggalkan memar di wajahnya. Ia terus berusaha tegar di hadapan anaknya. Karena ia harapan satu-satunya oleh putranya. Sehingga apapun yang terjadi, Jali akan menjadi superhero yang selalu melindungi anaknya.

***

“Tok..tok.. tok..”. Suara  ketukan pintu.

Jali gelisah mendengar ketukan pintu itu. Sesuatu yang mengkhawatirkan akan terjadi lagi. Dugaannya lagi-lagi tepat. Ia sedikit menyingkap tirai gorden, terlihat tiga orang berpakaian hitam, jaket kulit tebal dan celana sobek-sobek. Satu orang kepalanya botak mengkilat, satunya gondrong terikat dan satunya lagi gondrong acak-acakan. Itu mereka. Algojo yang setiap saat menghajar Jali jika tak kunjung menyerahkan setoran kontrakannya. Dua menit berlalu, Jali masih bergulat dengan pikirannya. Entah dengan alasan apalagi yang akan ia katakan.

“Jali! Jali, woi buka pintunya!” Teriak si botak.

Kali ini bukan ketukan tangan lagi. Tendangan menghujam pintu rumah Jali. Dua, tiga kali hantaman.

“Ayah… aku takut.” Putranya ketakutan mendengar pintu digedor-gedor. Sementara tangannya masih mengepal makanan yang belum habis.

“Tenang, Nak. Semua baik-baik saja. Ayah ada di sini.” Ucap Jali menenangkan anaknya.

Jali memberanikan diri membuka kunci pintu, menarik gagang pintu, mencoba membuka.

“Ayah… jangan.” Ucap putranya dengan derai air matanya yang terus jatuh.

“Sudah, tenang ya. Rizal sembunyi saja di belakang, boleh?”

“Tapi, Yah…”

“Tidak apa-apa, Ayah mau bicara dengan tamu dulu ya, Nak”

“Baik, Ayah.”

Tiga, empat hingga lima kali hantaman kaki ke pintu rumah Jali. Kini ia memberanikan diri membuka pintu. Pintu baru setengah terbuka, si botak begitu cepat mencengkram kerak baju Jali.

“Mana yang kau janjikan, ha? Bayar sekarang!” Kata si botak.

“Maaf sekali, Bang. Sekarang ini belum ada”. Ucap Jali memohon-mohon.

“Halah… kau permainkan kita, ya!

Tendangan dengan cepat menghujam perut Jali. Dua orang lainnya memegangi kedua tangan Jali. Dua hantaman kepalan tangan menyasar di wajah Jali. Menyusul dua tendangan lagi menyebabkan ia tersungkur ke lantai. Mengucur darah dari pelipis dan hidungnya.

“Ampun, Bang. Be.. besok, besok saya kasih uang setorannya, Bang.” Ia bersujud memohon agar diberikan waktu lagi untuk membayar setorannya.

“Awas saja, besok kau bohongi kita, jangan harap kau masih menetap di sini! Atau kau mau terjadi sesuatu dengan putramu? Hah?” Bentak seorang pria gondrong.

“Jangan, Bang, tolong… saya janji, Bang.”

Ketiga algojo itu kemudian meninggalkan rumah Jali setelah puas membuat Jali babak belur.

***

Seperti biasanya. Di pangkalan ojek ini masih begitu sepi. Penumpang tak kunjung menghampiri. Padahal matahari sudah tampak meninggi. Panas – lapar, belum lagi menahan sakit karena dihajar algojo kemarin.

“Jali, kau kena hajar lagi?” Tanya Syarif, teman sepangkalan Jali.

“Iya, seperti biasa, Syarif”

“Kasihan sekali kau, Jali. Kalau aku ni banyak harta, sudah kubantu kau dari dulu. Tetapi yah, nasibku tak jauh pula darimu, Jali. Ha-ha” Syarif beradu nasib dan melepaskan tawanya.

“Ha-ha. Untung-untungan bisa dapat kawan senasib seperti kau, Syarif. Setidaknya ini salah satu kebahagiaan yang Tuhan berikan padaku. Kadang kita menuntut kebahagiaan yang kita mau, tapi tanpa sadar Tuhan sudah memberikan kebahagiaan yang kita tidak sadari, ya.” Kata Jali sedikit untuk menguatkan dirinya.

Syarif melihat dari kejauhan, dua orang sedang berjalan ke arah mereka.

“Ojek, pak?” tawar Jali ke salah seorang pejalan kaki.

Kesempatan emas, Jali dan Syarif tak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini. Mau berapapun bayarannya, setidaknya bisa mengisi kantong mereka yang telah kering sejak pagi. Dan sejauh apapun mereka tetap mengantarkan kedua orang itu.

***

Sudah satu jam perjalanan ditempuh, tapi tak kunjung tiba di titik pengantaran. Selama perjalanan, hanya ada permintaan belok sana, belok sini. Belum ada kejelasan lokasi pengantarannya.

Motor supra-x 125cc merah hitam yang dikendarai Jali tiba di jalanan terjal, berbatu dan lebar jalan hanya semeter saja, tentu saja motornya ngos-ngosan, bunyi gesekan rantai dan gear yang semakin kasar, tarikan gas yang mentok. Sementara Syarif menyusul dari belakangnya.

Kring..kring… notifikasi berbunyi di ponsel Syarif. Tapi Syarif tak memedulikan notifikasi itu, dan terus melanjutkan perjalanannya.

Tepat dua jam setengah perjalanan ditempuh, sebuah pisau tertodong di leher Jali.

“Terus lanjutkan perjalanan, sampai di puncak sana. Dan jangan bertindak macam-macam!” penumpang itu menodong Jali dengan senjata tajam. Jali tak punya pilihan lain. Di situasi seperti ini, ia hanya memikirkan putranya. Kacau – kepala dan hatinya begitu sesak. Tak di rumahnya, di sini pun ia harus menghadapi beratnya masalah hidup.

Ia menengok ke spion motornya. Tepat dugaannya, Syarif juga dengan posisi yang sama. Tertodong oleh penjahat ini.

Tepat di puncak Pati ini, enam orang telah menyambut kedatangan mereka. Senjata laras Panjang AK47, busur lengkap dengan anak panah, kapak, parang dan belati tampak jelas di tangan mereka.

“Merunduk cepat!” ucap seorang penjahat itu.

Jali dan Syarif dikepung oleh delapan orang penjahat. Senapan dan busur panah mengarah ke mereka berdua.

“Sayang sekali, ya. Nasib kalian berdua akan berakhir di sini, bossku.” Seorang dengan penutup mata sebelah menghampiri dan berbicara ke mereka berdua. Sepertinya orang ini adalah ketua kelompok penjahat biadab ini.

“Larilah, Jali.” Ucap Syarif berbisik pelan sembari tersenyum ke arah Jali.

“Ha, bodoh! Kau gila, Syarif, tidak mungkin saya meninggalkan kau. Lari pun kita juga tidak bisa, Syarif.”

“Bisa.. sekali saja saya meminta, Jal. Larilah. Larilah kubilang! Teriak Syarif sembari mengamuk sembarang ke delapan orang yang mengepung mereka. Tanpa pikir Panjang, Jali mengikuti apa yang diucapkan Syarif. Jali melihat ke bagian kirinya jurang yang curam, tanpa banyak pikir segera ia melompat. Sementara Syarif masih mengamuk pasrah. Ternyata Syarif berusaha mengulur waktu untuk Jali.

“Kau bodoh sekali, Syarif. Bodoh!” Ia melompat dan menengok ke arah Syarif, tanpa sadar air matanya menetes seketika. Syarif tersenyum dengan sangat ikhlas, tak lama lima tembakan peluru AK47, dua anak panah menghujam tubuh Syarif dan diakhiri dengan tusukan parang ke tubuh Syarif. Syarif bersimbah darah, tubuhnya terkapar di tanah penuh bebatuan. Sementara Jali terguling-guling dari puncak Pati dan jatuh dua puluh meter ke bawah. Tampaknya para penjahat itu tak bergeming untuk mengejar Jali, mereka sangat yakin setelah melompat ke jurang itu tak ada jaminan bagi Jali untuk hidup.

***

“Yah… ayah, buka matamu, Ayah.” Suara anak kecil membangunkan Jali. Putranya membangunkan Jali yang tengah terbaring di rumah sakit setelah sehari lamanya tak sadarkan diri. Ia ditemukan oleh warga sekitar dan segera melarikannya ke rumah sakit untuk segera diobati. Syukur, nasibnya tak buruk-buruk juga. Tuhan masih menyayanginya, lewat perantara yang Tuhan kehendaki.

***

Setelah lima hari dirawat. Jali kembali ke rumah bersama putranya. Jali mendapat info bahwa penjahat yang menjebak mereka di puncak Pati adalah kelompok penjahat bersenjata yang telah berbulan-bulan menjadi buron. Mereka berdua dimanfaatkan oleh dua orang anggota kriminal yang sedang dalam pelarian dari kejaran polisi menuju markas persembunyian mereka.

Ia pun tak menyangka, sahabat sepangkalannya akan mengorbankan diri untuknya. Dua kali, Jali berlepas diri dari nasib buruk yang menimpanya. Jika tak mati dibunuh oleh para penjahat itu, mungkin saja hidupnya akan berakhir setelah terguling-guling dari puncak yang tinggi. Tapi takdir berkehendak lain.

Informasi yang mengejutkan bagi Jali juga adalah, tanpa ia ketahui bahwa sahabat sepangkalannya, Syarif, adalah seorang intel yang diutus untuk memata-matai kelompok penjahat bersenjata. Syarif berani mengorbankan dirinya, selain untuk menyelamatkan Jali sebagai warga sipil, tugasnya tuntas sebagai mata-mata, menitipkannya kepada Jali untuk memberitahu markas persembunyian penjahat biadab itu. Seakan-akan Syarif berkata “Selanjutnya adalah tugas kau, Jali.”.

“Sekali lagi, Syarif, ini adalah salah satu kebahagiaan yang Tuhan berikan padaku. Kadang kita menuntut kebahagiaan yang kita mau, tapi tanpa sadar Tuhan sudah memberikan kebahagiaan yang kita tidak sadari. Bagian dari kebahagiaan itu ialah bersahabat dengan kau, Syarif. Terima kasih.” Ucap Jali setelah mendaratkan pukulannya menghajar tiga algojo debt collector untuk pertama kalinya.

“Akan kutuntaskan semuanya, Syarif.”

Baca Juga: Seorang Pria Putus Asa

BekelSego adalah media yang menyediakan platform untuk menulis, semua karya tulis sepenuhnya tanggung jawab penulis.


Like it? Share with your friends!

Novice

0 Comments

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *