Mengenal Dasun, Galangan Kapal Kuno di Lasem Sejak Zaman Majapahit


Ilustrasi Galangan Kapal Dasun di Lasem (twitter.com/@@kesengsemlasem)

Pernah ke Lasem? Kota kecil di wilayah Kabupaten Rembang yang mendapat julukan Tiongkok Kecil, Kota Tua, Kota Santri dan juga Kota Batik. Banyaknya julukan itu tidak sekedar julukan tapi Lasem memang sudah terkenal dari sononya. Sudah terkenal sejak kuno.

Lasem yang awalnya merupakan kerajaan di era Majapahit yang dipimpin oleh Bhre Lasem Duhitendu Dewi (Dewi Indu Purnamawulan). Lasem sekarang hanyalah sebuah kecamatan yang terdiri atas 20 desa. Salah satunya adalah Dasun.

Dasun disebutkan dalam peta Belanda tahun 1858 dengan nama Dassoen dicetak tebal dan besar. Ini menunjukkan bahwa Dasun diperhitungkan dan berpengaruh dalam tata kehidupan di Rembang dan Hindia Belanda. Dasun masuk dalam distrik Binagoen. Saat itu Rembang terdiri atas 6 distrik yaitu Waroe, Sulang, Pamotan, Binangoen, Kragan, dan Sedan.

Mengutip buku Dasun: Jejak Langkah dan Visi Kemajuannya karya Exsan Ali Setyonugroho, saya mendapati bahwa desa Dasun memiliki beberapa keunikan yang layak diketahui oleh sobat Bekelsego.

1. Asal usul nama Dasun

Nama Dasun cukup terkenal. Menurut cerita masyarakat, ada tiga versi asal usul nama Dasun. Versi pertama, dasun berasal dari akronim Ndas-ndasane Dusun atau kepalanya dusun. Ini disebabkan Dasun merupakan tempat memroduksi kapal-kapal militer Majapahit dan Demak. Tempat yang penting bagi kedua kerajaan tersebut. Karena pentingnya itu, sehingga disebut Ndase Dusun (kepalanya desa) dan disingkat menjadi Dasun. Ini setidaknya mirip dengan pengucapan warga Rembang dan sekitarnya pada suatu tempat. Seperti Mojorembun disebutnya Jrembun, Kaliori disebut Nglori, Majasemi disebut Jasem.

Versi kedua, Dasun berasal dari istilah Ndas susun-susun atau kepala yang bertumpuk. Diceritakan bahwa Lasem sebagai pelabuhan besar di era kolonial digunakan untuk penyelundupan candu. Karena candu dilarang, maka setiap orang yang melihat penyelundupan candu baik pria wanita anak-anak dan dewasa akan dibunuh. Sebab banyaknya orang yang dibunuh itu muncul istilah Dasun (Ndas susun-susun). Bukti jika di Lasem pernah jadi transit narkoba jenis candu atau opium adalah adanya bangunan rumah yang disebut Lawang Ombo yang menghadap ke sungai Dasun dan memiliki lorong rahasia bawah tanah.

Versi ketiga ialah ada pembabat hutan bernama Daisun. Tokoh ini membuka hutan di kawasan pinggir pantai dan mengolah tanah dengan tekun. Hasilnya sangat menakjubkan dan menarik warga lain untuk datang dan bertempat tinggal di wilayah tersebut. Karena Daisun orang yang pertama tinggal di situ maka ditasbihkan sebagai pemimpin dan namanya digunakan sebagai nama tempat tersebut. Seperti Natadiningrat, tempatnya disebit Natadiningratan, tempat tinggal sayid jadi sayidan. Penyebutan Daisun lama-lama berganti menjadi Dasun. Itu kata orang-orang tua di Dasun.

Baca Juga:

2. Memiliki empat punden

Dasun memiliki empat punden yaitu Punden Mbah Rejeng, Punden Mbah Kongso, Punden Mbah Gowak dan Punden Mbah Guru. Punden Mbah Rejeng ditandai dengan batu berukuran sedang yang menjadi tapal batas antara tambak bandeng/garam dan pemukiman. Dinamai rejeng atau rejengan karena lokasinya ada di rejengan. Rejeng adalah istilah untuk menyebut lokasi dengan kemiringan tajam dan struktur tanah yang keras.

Punden Mbah Kongso terletak di tengah desa. Nama Kongso pun diambil dari nama pembuka hutan pertama, Daisun. Setelah lanjut usia Daisun mengubah namanya menjadi Kongso. Jadinya, nama muda menjadi nama desa. Makam pendiri desa itu dijadikan pusat kegiatan saat bersih desa dan disakralkan masyarakat Dasun.

Punden Mbah Gowak ini dikenal angker. Karena tidak cukup bersih dan dimungkinkan ada hewan berbisa. Disebut angker agar anak-anak tidak bermain di tempat yang tidak cukup bersih tersebut. Di sini sering diadakan pagelaran seni sebagai media hiburan dan meningkatkan solidaritas kelompok.

Punden Mbah Guru sudah tidak diketahui pasti sebab saat penjajahan Jepang, terjadi relokasi paksa warga Dasun dan diisi pendatang dari Klaten membentuk kampung baru yaitu Karanganyar.

3. Ada Kampung Bugis dan Karanganyar dari Klaten

Dasun sebagai titik kumpul masyarakat, mau tidak mau menjadi pertemuan golongan masyarakat. ibarat kata di situ ada gula, ada semut. Sebagai tempat ramai, Dasun didatangi oleh orang Bugis yang memperdagangkan rempah-rempah. Mereka bukan warga Dasun. Mereka hanya domisili sementara waktu untuk berjualan dan meninggalkannya. Tahun berikutnya datang lagi ke rumah mereka. Tempat hunian orang-orang Bugis disebut sebagai Kampung Bugis. Ini sesuai dengan dokumen peta Kaart van de Residentie Rembang tahun 1866.

Karanganyar terbentuk dari migrasi orang Klaten dan Solo saat penjajahan Jepang dan berdiri di tanah bekas pabrik galangan kapal Jepang. Migrasi ini terus terjadi dan beranak pinak. Mereka juga berinteraksi dengan warga asli Dasun melalui perkawinan. Jadi, warga Dasun tidak hanya berasal dari warga asli, tapi juga banyak pendatang sejak dulu.

4. Galangan kapal kuno Dasun sudah ada sejak zaman Majapahit

Lasem sejak zaman Majapahit sudah terkenal dengan galangan kapalnya. Ini bisa diterima sebab wilayah Rembang, Lasem, Pamotan, Pancur dan sekitarnya merupakan penghasil kayu jati. Bahan baku utama pembuatan kapal. Tersedianya bahan baku yang berlimpah menjadikan Lasem cocok menjadi pusat pembuatan kapal. Ini dimanfaatkan betul oleh Majapahit dan Demak dengan membangun armada kapal militer dengan Dasun sebagai pusat galangan kapalnya.

VOC tahun 1651 membuat 3 kapal kici (yatch) di Dasun, Lasem. VOC menguasai galangan kapal Dasun saat Daniel Dupree memimpin galangan kapal di Dasun, Rembang. Galangan kapal Dasun berganti kepemilikan dan beroperasi terus. Bahkan pada tahun 1840, 1856 dan 1858, galangan kapal Dasun mampu membuat kapal 11, 14 dan 18. Suatu pencapaian yang besar. Berarti dalam satu bulan menghasilkan satu kapal. Sebuah galangan kapal besar di zamannya.

Pada jaman pendudukan Jepang, galangan kapal Dasun melibatkan 44.000 buruh Indonesia dan 415 teknisi Jepang. Tahun 1942 galangan kapal Dasun menghasilkan 150 kapal bertenaga disel, 127 kapal (1943) dan 343 kapal (1944). Sebuah galangan kapal yang besar.

Pada awal kemerdekaan, galangan kapal ini masih berproduksi walau berganti-ganti pemilik. Namun, sejak awal 1949, saat agresi militer Belanda terjadi, galangan kapal dibumihanguskan tentara republik. Ini menandai berakhirnya galangan kapal kuno Dasun sejak era Majapahit dan tinggal sisa dan cerita kebesaran masa lalu.

Baca Juga:

5. Potensi wisata situs cagar budaya

Dasun yang dulu terkenal dengan galangan kapal, mencoba bangkit dan menata wilayahnya dengan memanfaatkan potensi yang ada. Salah satunya situs cagar budayanya. Situs-situs cagar budaya yang ada di Dasun yaitu situs Dok Kapal Dasun, situs Sumur Omben, situs Sumur Pengecekan, situs Umpak Kantor Bea Cukai Pelabuhan Lasem, situs Bong Belanda, situs Tegal Pabrik Kapal dan Tambak Dusun.

Demikian, mengenang kembali Dasun, galangan kapal kuno di Lasem sejak era Majapahit. Semoga bermanfaat.

Baca Juga: Buddha Zamrud, Upacara Pemindahannya Diperingati Setiap Tanggal 22 Maret!

BekelSego adalah media yang menyediakan platform untuk menulis, semua karya tulis sepenuhnya tanggung jawab penulis.


Senior