Puisi Ini Kosong

Bukan otak atau hati, apalagi rumah tak berpenghuni. Ini hanyalah secawan puisi, kosong di segala sisi. Selamat menikmati!


Tok! Tok! Tok!

Selamat malam tuan dan puan sekalian
Kabar baikkah hendak kujumpa?
Harap pula demikian
Tuan dan puan janganlah tak baik-baik saja
Lekaslah hamba mengantarkan cerita

Maafkan kami, tuan dan puan sekalian
Tiada secarik puisi untuk anda, kali ini
Yang mungkin bisa kami sajikan
Telah habis
Sabar dan diam kami
Karena telah tuan dan puan tepis menepi
Kepercayaan yang lebih dari arti

Maafkan kami
Hanyalah tersisa selayang caci
Barangkali tuan dan puan sekalian sudi?
Sembari pura-pura sedikit tuli
Ah, tuan dan puan ini lucu sekali

Maafkan kami, sekali lagi
Pada kata-kata paling terakhir ini
Tiadalah berarti
Jiwa-jiwa kami terkoyak
Lalu remuk
Tak berbentuk

***

Diksi Sederhana

Diksiku sederhana
Hanya secuil upil di dalam lubang kecil
Nyaris tak tampak bahkan tersempil
Dicari untuk dibuang pergi
Tiada berarti

Diksiku sederhana
Hanya sebutir air dari kelopak mata sembab
Tak menyenangkan
Sebatas menghadirkan kesedihan
Tiada harapan

Diksiku sederhana
Hanya seujung kuku hitam di jemari lentikmu
Selalu kau bersihkan
Kau potong lalu terbuang
Tiada terkenang

Diksiku sederhana
Tak perlu kau cela
Abaikan saja bila tak suka
Diksi ini kehendakku
Dari pemberontakan di dasar kalbu

***

Solidaritas Terbatas

Katanya harus kompak
Biar bisa sama-sama menyerukan salam sempak
Semangat!
Kompak!
Katanya solidaritas tanpa batas
Biar sama-sama bisa segera terbang bebas
Katanya harus bersatu
Biar sama-sama bisa segera menjemput rindu

Kata-katanya hanya omong kosong
Nyatanya semua itu bohong
Ah, tak apa
Peduli apa
Mereka hanya sedang berkompetisi
Sibuk mengagungkan diri sendiri
Berpacu untuk menjadi nomor satu
Dengan cara bersikap sok lugu
Iya dan tidak selalu menipu
Hu hu hu lucu

***

Aduh Mantan

Sabtu sore aku bergegas
Berdandan rapi menenteng tas
Menatap cermin di muka dengan puas
Sembari duduk manis di kursi teras
Aku menanti seseorang datang memakai jas
Setelah satu pesan baru saja kubalas

Namun
Waktu sudah lewat di menit kesebelas
Belum juga muncul kendaraan yang melintas

Sial!
Hujan tiba-tiba turun begitu deras
Segalanya tak tampak cukup jelas
Pekarangan dibiaki rintik hingga lengas
Aku memaki, berteriak dengan keras

Tunggu!
Aku sudah kelewat batas
Dan teringat dengan lekas
Perjalanan cintaku telah kandas
Aku terbangun dari tidurku yang pulas
Aduh-aduh mantan
Mengapa kenangan tentangmu begitu membekas

***

Baca Juga: SYAIR RINDU BINTANG BELUKU

BekelSego adalah media yang menyediakan platform untuk menulis, semua karya tulis sepenuhnya tanggung jawab penulis.


Like it? Share with your friends!

0 Comments

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *