Luka Berbalut Bahagia

Apapun yang aku rasakan hari ini harus tetap aku syukuri. Aku berharap hari esok lebih baik, kalimat yang selalu aku ucapkan setiap hari sebagai penguat langkahku.


Malam semakin larut, aku memejamkan mataku dan terlelap dalam tidurku. Jam menunjukkan pukul 6 pagi, sinar matahari mulai menyapa kamarku dari sudut-sudut celah jendela aku berjalan membukanya terlihat mobil putih terparkir di halaman depan rumahku.

“Siapa yang datang datang, pagi-pagi sekali.” tanyaku dalam hati.

Aku turun ke bawah untuk melihat siapa pemilik mobil putih itu. Terdengar obrolan yang begitu hangat dan mengasyikkan dari bawah. Aku seperti tidak asing dengan suara itu dan berjalan menuju ruang tamu.

“Loh, Nia. Sudah bangun?”

Aku terdiam melihat siapa yang kulihat dan tidak menjawab pertanyaan ibu. Aku berlari ke kamarku dan mengunci pintu. Aku masih tidak percaya dengan apa yang kulihat barusan, air mataku jatuh membasahi pipi.

“Nia, kamu kenapa? kamu sakit?”

“Nia baik bu.”

“Ya sudah turun yuk. Rendi sudah menunggumu di bawah.”

Aku menenangkan diriku, aku tidak boleh terlihat lemah atau terpuruk saat dia meninggalkanku dulu.

“Hai, Nia.”

“Hai, Ren.”

“Gimana kabarnya?”

“Seperti yang kamu lihat sekarang, aku baik-baik aja”

“Syukurlah”

“Hari ini kamu ada waktu gak? Aku mau mengajak kamu keluar” lanjutnya.

“Kemana?”

“Ke taman, ada yang mau aku bicarakan sama kamu”

Rendi mengajakku ke taman, tempat di mana aku dan dia dulu sering ke sini saat semuanya terlihat indah.

“Nia, aku minta maaf karena aku sudah menyakiti kamu dan meninggalkan kamu untuk seseorang yang baru. Aku bodoh meninggalkan kamu saat itu.”

“Awalnya aku sakit saat kamu berbohong padaku tapi sekarang aku sudah memaafkanmu, Ren.” Aku mencoba menatap matanya meski sebenarnya sulit untukku berhadapan lagi dengannya.

“Aku minta maaf, aku menyesal. Aku mohon kasih aku kesempatan untuk perbaiki hubungan kita lagi.”

Rendi mengeluarkan kotak cincin dan memperlihatkannya padaku. “Nia, maukah kamu menikah denganku?”

Rasa sesak di dada dan air mata yang tidak mampu aku tahan lagi, sungguh ini sangat menyakitkan buatku.

“Ren, aku udah maafin kamu dan aku udah mengikhlaskan kamu pergi dari hidupku tapi aku gak bisa menerima kamu kembali.”

“Aku tahu aku salah, Ni. Tolong kasih aku kesempatan sekali ini untuk memperbaiki hubungan kita lagi, aku gak bisa kehilangan kamu lagi.”

“Maaf Ren, aku gak bisa.”

Aku berlari menjauhi Rendi dan memanggil taksi yang kebetulan datang ke arahku. Aku sudah tidak ingin menangisinya tapi kenapa sekarang aku menangisinya lagi. Kenapa semesta mengirimkan dia kembali setalah apa yang dia lakukan padaku. Sejak kejadian itu Rendi sudah tidak datang lagi ke rumah atau menemuiku ke kampus tapi sering kali mengirimkan pesan dan telpon yang terkadang aku abaikan.

“Nia, ibu boleh masuk?”

Ibu menghampiriku dan duduk di atas kasurku. Aku ikut duduk di samping ibu dan ibu memulai percakapan yang aku tahu tujuan dari percakapan ini.

“Nak, ibu tahu apa yang kamu rasakan dan apa yang kamu alami waktu itu. Ibu tahu kamu masih terluka tapi ibu sudah pernah bilang padamu, apapun keputusannya kamu harus bisa memaafkan.”

“Nia sudah memaafkan bu, tapi kenapa di saat Nia sudah mengikhlaskan dia pergi malah sekarang dia kembali. Nia gak mau terluka lagi bu.”

Ibu memelukku sambil berkata “Nak, jika semesta sudah berbicara dan memutuskan kita bisa apa? Jika dia benar-benar kembali padamu dan tidak akan lagi menyakiti. Apakah Nia mau kembali padanya?”

“Gak tahu bu, Nia bingung.”

Seminggu tanpa kehadiran Rendi, cukup membuatku tenang saat terakhir kali dia datang ke rumah, aku meminta waktu untuk memikirkan ini semua dan dia mengerti.

Aku berjalan tanpa sadar bahwa aku sudah berada di taman. Aku duduk di kursi taman yang biasa aku duduk dengannya. Aku menenangkan diriku sejenak sebelum aku pulang ke rumah.

“Di cari-cari ternyata di sini”

“Rama, kamu kok-“

“Iya, aku di sini. Tadi aku ke rumahmu untuk pinjam catatan tapi kamu gak ada kata ibumu kamu pasti ke taman, makanya aku ke sini.”

“Kenapa?”

“Enggak, aku gak apa-apa.”

“Udah gak usah bohong, kamu itu gak pandai bohong di depan aku tahu.”

Aku melihat Rama dengan menunjukkan wajah sinisku dan memalingkannya.

“Nia, Nia, pasti karena Rendi ya?”

“Ikuti apa kata hati kamu, apa mau hati kamu.”

“Ram, aku masih sayang sama dia tapi aku gak bisa melupakan perbuatan dia padaku. Dia meninggalkan aku 2 tahun itu saja masih menyisakan luka di hati aku. Aku udah ikhlas dia pergi tapi kenapa sekarang dia kembali dengan meminta aku menjadi bagian hidupnya?”

“Kita gak pernah tahu apa yang terjadi di hari esok. Mungkin kamu sudah mengikhlaskannya dan memaafkannya tapi relung hati kamu masih menyayanginya bukan? Semesta kadang gak bisa adil tapi tahu apa yang membuat kita bahagia. Contohnya ya kamu saat ini, semesta menghadirkan Rendi kembali ke kehidupan kamu bukan untuk menyakiti tapi membangun dan memperbaiki semuanya.”

“Tapi tetap aja masih menyakiti hati aku, Ram.”

“Mungkin kamu belum benar-benar ikhlas Nia. Aku tahu ini menyakitkan buat kamu tapi kembali lagi ikuti apa kata hati kamu. Kata hati gak pernah salah, kalau kamu masih menyayangi dan menginginkanya kembali coba berikan dia kesempatan untuk memperbaiki semuanya yang sudah dia hancurkan.”

Rama mengantarkanku pulang, setelah motor Rama melaju semakin jauh aku masuk dan berjalan ke kamarku mengambil ponsel mengirimkan pesan kepada Rendi bahwa besok aku ingin bertemu dengannya di taman.

Sampai di taman, kulihat Rendi sudah menungguku, aku berjalan menghampiri.

“Nia, aku benar-benar minta maaf sama kamu.”

“Aku gak tahu apa yang membuat kamu kembali, aku juga gak tahu kenapa semesta mengirimmu kembali aku gak pernah tahu jawabannya tapi aku percaya jika memang semesta memberikan kebahagiaan padaku dengan menerimamu kembali, lantas aku harus apa? Karena kata hati aku masih ingin bersama kamu, Ren.”

“Aku minta maaf sudah meninggalkan kamu karena orang lain. Aku menyesal ketika aku harus kehilangan kamu, maaf sudah membuat kamu terluka karena perbuatanku yang begitu menyakitkan buatmu. Aku sungguh minta maaf, aku tahu permintaan maafku belum cukup untuk bisa menyembuhkan lukamu.” ucapnya lirih sambil menundukkan kepala.

“Baguslah kalau kamu menyadari itu. Apa yang membuat kamu kembali dan apa kamu bisa janji tidak akan menyakitiku lagi?”

“Aku janji tidak akan menyakiti kamu lagi, Nia. Aku sayang sama kamu.”

Rendi memelukku dan berkata bahwa dirinya masih menyayangiku dengan suara terisak. Aku membalas pelukannya dengan erat. Apakah memang semesta menginginkan aku bahagia bersamanya kembali? Kalau benar begitu, tolong jangan membuatku merasakan luka itu lagi.

Rendi mengeluarkan kotak cincin dan membukanya.

“Nia, aku tahu aku banyak salah dalam hubungan kita, aku kurang usaha untuk mempertahankannya malah aku goyah dan meninggalkan kamu karena keegoisan aku dan pergi dengan orang lain. Aku janji tidak akan menyakiti kamu lagi dan membiarkan kamu pergi lagi dari hidup aku.”

Aku menganggukkan kepalaku sambil menyeka air mata. Rendi meraih tanganku dan menyematkan cincin itu di jari manisku.

“Terima kasih sudah memberiku kesempatan, Nia.”

Malam ini adalah malam di mana aku benar-benar bahagia, luka yang aku rasakan berubah menjadi bahagia. Jika benar keputusanku menerimanya kembali, aku ingin luka itu hilang dan tidak akan lagi aku rasakan bersamanya. Aku tahu hidup ada tentang datang dan pergi, jika waktu itu semesta membiarkannya pergi dari hidupku dengan menyisakan luka maka kini semesta mengizinkannya datang ke hidupku dengan membawa bahagia dan sedikit menghapus luka. Aku berharap ini adalah selamanya, selamanya tidak ada lagi luka bersamanya.

Baca Juga: Wanita Naif

BekelSego adalah media yang menyediakan platform untuk menulis, semua karya tulis sepenuhnya tanggung jawab penulis.


Like it? Share with your friends!

0 Comments

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *