Kisah Heroik Para Hewan Dalam Novel Kapten Bhukal: The Battle of Alas Tua

Manusia bukanlah satu-satunya makhluk yang menghuni planet bumi. Bersama hewan dan tumbuhan, seharusnya mereka dapat hidup berdampingan secara damai.


Ada begitu banyak novel bertemakan patriotisme yang pernah saya baca, baik itu karya pengarang dalam negeri maupun mancanegara. Kisah-kisah heroik para tokoh dalam memperjuangkan kemerdekaan atau mempertahankan tanah kelahiran dari para penjajah selalu berhasil meninggalkan kesan mendalam di hati saya.

Baru-baru ini, saya berhasil mengkhatamkan satu novel dengan tema serupa. Bedanya, tokoh dalam novel ini bukan lagi manusia, melainkan para hewan yang tinggal di hutan.

Novel tersebut berjudul Kapten Bhukal: The Battle of Alas Tua. Fakta bahwa novel ini ditulis oleh pengarang Indonesia sedikit mengejutkan saya. Pasalnya, tak banyak penulis Tanah Air yang mengusung novel bertokohkan makhluk hidup selain manusia.

Identitas Buku

  • Judul Novel : Kapten Bukhal: the Battle of Alas Tua
  • Penulis : Arul Chandrana
  • Penerbit : Metamind, Tiga Serangkai
  • Tahun terbit : Agustus, 2016
  • Tebal : 381 halaman
  • Genre : Komedi, aksi, petualangan, fabel

Ringkasan Cerita Novel Kapten Bukhal: The Battle of Alas Tua

Berlatar di Pulau Bawean, novel Kapten Bukhal: The Battle of Alas Tuamenceritakan tentang seekor simpanse yang muncul secara misterius di Gunong Bengko, perkampungan yang dihuni oleh para monyet. Simpanse itu memperkenalkan diri sebagai Bhukal dan mengaku berasal dari kawasan yang jauh bernama Gunong Siboko.

Secara fisik, Bhukal berbeda dengan monyet-monyet Gunong Bengko. Ia tidak berekor dan memiliki warna bulu yang lebih gelap. Selain itu, pengetahuan dan kecerdasannya melebihi batas rata-rata yang dimiliki para monyet hutan pada umumnya.

Baca Juga:

Meskipun telah diterima secara resmi oleh pemimpin para monyet Gunong Bengko, kehadiran Bhukal tak ayal menimbulkan kecurigaan dan rasa tidak suka di hati beberapa monyet lain. Bersama dua rekan yang baru ia kenal, Jarkok dan Bocol, Bhukal kerap menjadi bahan olok-olok, dihina, serta direndahkan oleh monyet-monyet lain. Hal tersebut kemudian mendorongnya untuk bertaruh melakukan tindakan yang sebelumnya tak pernah berhasil dilakukan monyet-monyet Gunong Bengko: menerobos perkebunan manusia. Tidak tanggung-tanggung, Bhukal memilih kebun milik penduduk yang dikenal memiliki sistem penjagaan ketat dan penuh jebakan berbahaya.

Pada kesempatan itu, Bukhal menobatkan dirinya sebagai kapten, sedangkan kedua rekannya sebagai letnan dan sersan. Berkat kecerdasannya, Bukhal berhasil mendapatkan kemenangan dalam misinya itu.

Titik balik dari segala keberuntungan yang membawa sang tokoh utama pada puncak gilang gemilang terdapat pada bab 13 dan 14, yaitu ketika Bhukal dan para hewan hutan yang ia pimpin mengalami kekalahan dalam perang melawan manusia. Tak cukup sampai di situ, sang tokoh utama juga mengalami krisis kepercayaan diri karena kebenaran identitasnya berhasil diungkap oleh dua ekor monyet yang sejak semula tidak menyukai keberadaannya.

Konflik antara manusia dan hewan kemudian terjadi. Gunong Bengko menjadi tempat pengungsian bagi para hewan dari perkampungan lain yang terluka. Bhukal memimpin hewan-hewan hutan dalam aksi balas dendam yang kemudian membawa mereka dalam petualangan sekaligus perjuangan tak berkesudahan. Peperangan itu bukan sekadar perkara mempertahankan tanah tempat tinggal mereka dari bangsa penjajah bernama manusia, melainkan juga menyangkut kelestarian lingkungan serta keberlangsungan hidup para penghuni hutan secara keseluruhan.

Ulasan Novel Kapten Bukhal : The Battle of Alas Tua

Novel Kapten Bhukal: The Battle of Alas Tua menyajikan kisah luar biasa yang unik dengan mengangkat tokoh para hewan hutan. Kepiawaian sang penulis, Arul Chandrana, dalam meramu ide menjadi kata-kata membuat cerita terasa hidup dan tidak membosankan. Tingkah konyol dan kepolosan para hewan, perkataan-perkataan Bhukal yang terkadang terkesan asal, serta kegagalan para hewan dalam memahami kata-kata tersebut mampu menghadirkan kelucuan yang menyegarkan.

Hal yang paling menarik dari keseluruhan novel ini adalah cara penulis menempatkan narator. Narator yang mengaku bernama Ilung Lanjang benar-benar bertindak sebagai sosok penutur yang sama sekali tidak terlibat dalam cerita. Di akhir kisah, Ilung Lanjang membuat pengakuan mengejutkan mengenai jati dirinya. Ternyata, ia adalah hantu.

Kapten Bhukal: the Battle of Alas Tua berhasil mengaduk emosi saya. Sedih dan lucu berbaur jadi satu. Deskripsi tentang keadaan hutan Gunong Bengko yang hijau, Alas Tua yang porak-poranda, ladang penduduk yang semrawut setelah isinya dikuras habis para hewan, serta hiruk-pikuk peperangan tergambarkan dengan baik. Saya bahkan merasa seolah-olah sedang melihat langsung monyet-monyet bergerombol santai sambil mencari kutu atau bergelantungan dan melompat dari satu dahan pohon ke dahan pohon lainnya.

Baca Juga:

Saya mencari-cari kekurangan dari novel ini. Ketika identitas Bukhal terungkap, saya pikir penulis akan lupa menjelaskan mengenai tas yang melayang dari udara pada saat awal kedatangan Bhukal di Gunong Bengko dan itu akan menjadi plot hole dari novel ini. Namun, ternyata saya salah. Penulis rupanya telah menyiapkan segala sesuatunya dengan matang sehingga tidak ditemukan cacat logika pada rangkaian cerita.

Ada banyak pesan moral dalam novel ini. Sebagian pesan-pesan itu disampaikan secara eksplisit, sebagian lagi tersembunyi dibalik kehalusan narasi deskriptif sebab-akibat dari ulah manusia serakah yang tidak bertanggung jawab.

Novel ini bukan sekedar menyuguhkan realitas perseteruan tidak langsung antara dua golongan makhluk hidup, yaitu manusia dan hewan, melainkan juga imbauan secara halus untuk lebih peduli terhadap alam dan lingkungan.

Membaca buku ini membuat saya tersadar bahwa sejatinya manusia, hewan, dan tumbuhan memiliki hak yang sama dalam hal mendapatkan kesempatan hidup. Namun, manusia yang mengaku sebagai makhluk paling beradab, nyatanya tidak selalu mengedepankan adab dalam memperlakukan sesama makhluk ciptaan Tuhan.

Baca Juga: Mengambil Kisah Ketegaran Hidup Dari Novel Bidadari Bermata Bening

BekelSego adalah media yang menyediakan platform untuk menulis, semua karya tulis sepenuhnya tanggung jawab penulis.


Like it? Share with your friends!

Legend

One Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *