Belajar Menyelami Makna Kehidupan Melalui Novel Anak Rantau


Novel Anak Rantau

Setelah sukses dengan novel-novel pendahulunya seperti Negeri Lima Menara, Ranah Tiga Warna, dan Rantau Satu Muara. Pria yang kerap disapa Bang Fuadi ini pada tahun 2017 lalu menuliskan salah satu karya terbaiknya, Anak Rantau. Berbeda dengan novel pendahulunya yang terinspirasi dari kisah hidupnya, Novel Anak Rantau merupakan rekaan fiksi sang penulis. Namun, tema yang diangkat masih sama, tentang memaknai perjalanan hidup.

Informasi Novel Anak Rantau

Judul: Anak Rantau
Penerbit: PT Falcon
Cetakan: Pertama, Juli 2017
Halaman: 382 halaman
ISBN: 978-602-60514-9-3

Sinopsis Novel Anak Rantau

Novel Anak Rantau mengisahkan perjalanan hidup seorang remaja bernama Hepi di kampung halaman Ayahandanya, Tanjung Durian, Tanah Minang. Martiaz, Ayahanda Hepi merasa gagal mendidik anak laki-laki semata wayangnya. Setelah mengetahui Hepi tidak naik kelas karena sering bolos sekolah, Ia pun memutuskan membawa Hepi dari tempat tinggalnya, Jakarta menuju kampungnya di Minangkabau. Hepi dititipkan kepada Angku Datuk Marajo, Ayah Martiaz yang berarti adalah kakek Hepi.

Baca Juga:

Hepi yang merasa hidupnya selama ini kurang mendapat kasih sayang Ayahnya tidak terima atas perlakuan Ayahnya yang meninggalkannya di kampung. Hepi merasa ia telah dibuang oleh Ayahnya sendiri. Dalam hati ia berjanji akan kembali ke Jakarta untuk menjawab tantangan Ayahnya yang masih terngiang di telinga, “Laki-laki itu harus berani menanggung perbuatan sendiri. Jangan seenaknya bolos sekolah. Setiap kelakuan ada resikonya. Sekarang, rasakan dulu hukuman kamu. Kalau mau ke Jakarta boleh, tapi beli tiket sendiri kalau mampu.”(hal.54).

Hepi menjalani hari-hari di kampung dengan perasaan yang tidak karuan. Ia terus memikirkan bagaimana cara mendapatkan uang untuk membeli tiket kembali ke Jakarta. Melalui kakeknya, Angku Datuk dan Neneknya, Salisah, Hepi mendapat pelajaran ilmu agama yang selama ini tidak ia dapatkan di Jakarta. Bersama Attar dan Zen, teman sebayanya di kampung Tanjung Durian, Hepi menjalani kehidupan yang berwarna-warni.

Hepi yang merasa terbuang di kampung berusaha mengumpulkan uang sendiri untuk membeli tiket pesawat kembali ke Jakarta. Dengan dukungan dari Attar dan Zen, Hepi bekerja menjadi tukang cuci piring di Lapau Mak Tuo Ros. Ia kumpulkan uang sakunya ke dalam kaleng bambu. Merasa usahanya bekerja di Lapak Mak Tuo Ros terlalu sedikit dan butuh waktu lama untuk bisa membeli tiket, Hepi pergi ke rumah Pandeka Luko, Tetua Desa yang terkenal bisa menggandakan uang.

Sosok misterius Pandeka Luko ternyata tidak seseram yang dikata orang. Hepi mendapat banyak pelajaran hidup dari beliau. Pengalama masa lalu Pandeka yang merupakan mantan pejuang menghantarkan Hepi menyelami hidup yang sebenarnya. Petuah bijak pun diberikan Pandeka Luko agar Hepi memahami bahwa dirinya bukanlah anak yang dibuang ayahnya. “Kita tidak dibuang, kita yang merasa dibuang. Kita tidak ditinggalkan, kita yang merasa ditinggalkan. Ini hanya soal bagaimana kita memberi terjemah pada nasib kita.” (Hal. 256)

Nyatanya, petuah Pandeka Luko tidak serta merta membuka mata batin Hepi. Ia masih merasa anak yang dibuang oleh Ayahnya sendiri. Dendam pada Ayahnya membuat dia terus berusaha mengumpukan uang untuk kembali ke Jakarta. Ternyata, Tuhan membuka mata batin Hepi melalui peristiwa demi peristiwa dimana Hepi sendiri yang harus mengalaminya.

Bersama Attar dan Zen, Hepi berpetualang di kampungnya. Ketiga bocah itu berhasil menjebak pencuri di desanya yang telah mencuri peralatan surau dan membawa kabur celengan Hepi. Celengan itu berisi uang hasil jerih payahnya untuk membeli tiket. Bagai pahlawan kecil, ketiganya menjadi buah bibir dimana-mana. Perjuangan Hepi dan kedua kawannya tidak berhenti sampai disitu. Ia hampir meregang nyawa setelah berhasil menemukan tempat persembunyian bandar narkoba kelas wahid, Bang Lenon. Untung saja ia berhasil selamat setelah polisi menggerebek tempat itu dan menyelamatkannya.

Baca Juga:

Kejadian demi kejadian akhirnya menghantarkan Hepi memahami hidupnya. Ia tidak lagi merasa dibuang, ia memaafkan Ayahnya dan melupakan masa lalu. Seperti kata Pandeka Luko, “Menyelamlah ke pedalaman dirimu. Temukan mustikamu di dalam sana. Lambat laun setelah kenal dirimu, kau akan pahami pula siapa Dia, pemegang kunci segala nasib itu. Begitu kau kenal Dia, nasib hanyalah debu, sedang Dia adalah segalanya.” (Hal. 256).

Review Novel Anak Rantau

Kisah Hepi dalam Novel Anak Rantau sangat menarik dibaca. Setiap babnya menghadirkan perenungan. Novel ini seperti mengajarkan bahwa manusia haruslah menjadi pembelajar sejati dimanapun berada. Belajar menerima, ikhlas dan memaafkan. Terlebih lagi, banyak kata mutiara yang diselipkan, menambah pengetahuan pembaca. Beberapa kesalahan teknis seperti kurang spasi pada bab-bab akhirnya tidak mengurangi esensi yang terkandung di dalamnya

Baca Juga: Review Novel Asiyah: Sang Mawar Gurun Fir’aun, Kisah Tangguh Pengasuh Nabi Musa

BekelSego adalah media yang menyediakan platform untuk menulis, semua karya tulis sepenuhnya tanggung jawab penulis.


Senior

0 Comments

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *