Social & Culture

Filosofi di Balik Tradisi Mudik Lebaran, Bukan Sekedar Back to Home

Lebaran selalu menjadi momentum untuk masyarakat Indonesia pulang ke kampung halaman atau lebih sering dikenal dengan “mudik”. Tiap tahunnya ketika lebaran, maka istilah mudik ini menjadi kata yang sering kita dengar. Tradisi mudik lebaran rutin dilakukan oleh orang-orang yang merantau tersebut, biasanya dimulai tujuh hari menjelang lebaran atau bahkan saat lebaran dan pasca lebaran. Tapi pernahkan kita penasaran dan bertanya, apa makna di balik mudik lebaran?

Mudik dan lebaran seolah menjadi dua hal yang tak dapat dipisahkan bagi umat islam di Indonesia. Sebelum membahas filosofi dibalik tradisi mudik lebaran, mari kita cari tahu arti dari “mudik” dan “lebaran” itu sendiri.

Arti dan asal usul tradisi mudik lebaran

Menurut Wikipedia, mudik dapat diartikan sebagai kegiatan perantau atau pekerja migran untuk kembali ke kampung halamannya. Namun ternyata kata mudik ini sebenarnya merupakan singkatan yang berasal dari Bahasa Jawa Ngoko.

Asep Kambali, Sejarawan Indonesia memaparkan (seperti yang telah dikutip di berbagai surat kabar daring) kata mudik merupakan singkatan dari “mulih dilik” atau “mulih dhisik” yang artinya adalah pulang sebentar. Dia juga menyebutkan bahwa mudik bisa berarti hulu, yang berasal dari bahasa Melayu, seperti pada istilah “hilir-mudik”. Hulu adalah tempat asal kita, tempat dimana kita bermula.

Seiring perkembangan, kata mudik kini telah mengalami pergeseran makna. Masyarakat Betawi mengaitkan mudik dengan kata “udik” yang artinya kampung, desa, dusun, atau daerah yang merupakan lawan kata dari kota. Karena saat orang Jawa hendak pulang kampung, orang Betawi menyebut “kembali ke udik”. Akhirnya, secara bahasa mengalami perubahan kata dari “udik” menjadi “mudik” yang menunjukkan kata kerja. Dengan pendekatan itu, maka kata mudik diartikan sebagai kegiatan seseorang pulang ke desa atau kampung halamannya.

Sedangkan “lebaran” adalah suatu kata yang sering digunakan untuk menyebutkan hari raya idul fitri. Belum ada yang dapat menjelaskan secara jelas mengenai darimana sebenarnya kata Lebaran tersebut berasal dan apa hubungannya dengan hari raya idulfitri. Namun ada beberapa versi mengenai asal usul kata “lebaran” dan apa pengertian dari kata “lebaran” tersebut.

Baca Juga:

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia kata lebaran diartikan sebagai hari raya umat Islam yang jatuh pada tanggal 1 Syawal setelah menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadhan. Istilah “lebaran” pun tidak dikenal dalam bahasa Arab dan bukan berakar kata Arab, namun berasal dari tradisi agama Hindu. MA. Salmun melalui artikelnya dalam bahasa sunda pada tahun 1954 menjelaskan, kata “lebaran” diambil dari dari tradisi Hindu itu artinya “selesai, usai, atau habis” yang menandakan habisnya masa, dalam hal ini diserap dan dipakai untuk menandai berakhirnya waktu berpuasa.

Namun, sebagian orang Jawa mempunyai pendapat berbeda mengenai asal dan makna kata lebaran. Kata lebaran berasal dari bahasa Jawa yaitu kata “wis bar” yang berarti “sudah selesai”, yakni bermakna selesai menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadhan. Kata “bar” adalah bentuk pendek dari kata “lêbar” atau “babar” dalam bahasa Jawa yang juga artinya selesai.

Meskipun demikian orang Jawa sendiri pada kenyataannya jarang menggunakan istilah lebaran saat Idul Fitri. Mereka lebih sering menggunakan istilah “sugeng riyadin” sebagai ungkapan selamat hari raya Idul Fitri. Kata lebaran justru lebih banyak digunakan oleh orang Betawi dengan pemaknaan yang berbeda. Menurut mereka, kata lebaran berasal dari kata “lebar” yang dalam Bahasa Indonesia dapat diartikan “luas” yang merupakan gambaran keluasan atau kelapangan hati setelah melaksanakan ibadah puasa, serta kegembiraan menyambut hari kemenangan.

Adapun awal mula tradisi mudik ini sudah ada sejak zaman kerajaan Majapahit. Dahulu para perantau pulang ke kampung halaman untuk membersihkan makam para leluhurnya. Hal ini dilakukan untuk meminta keselamatan dalam mencari rezeki. Namun istilah mudik lebaran baru berkembang sekitar tahun 1970-an. Saat itu Jakarta sebagai ibukota Indonesia tampil menjadi satu-satunya kota di Indonesia yang mengalami perkembangan pesat.

Filosofi di balik tradisi mudik lebaran

Bagi penduduk lain yang berdomisili di desa, Jakarta menjadi salah satu kota tujuan impian untuk mereka mengubah nasib. Lebih dari 80 persen para urbanis datang ke Jakarta untuk mencari pekerjaan. Mereka yang sudah mendapatkan pekerjaan biasanya hanya mendapatkan libur panjang pada saat lebaran saja.

Momentum inilah yang dimanfaatkan untuk kembali ke kampung halaman. Sama seperti halnya di Jakarta, mereka yang bekerja di kota hanya bisa pulang ke kampung halaman pada saat liburan panjang yakni saat libur lebaran. Sehingga momentum ini meluas dan terlihat begitu berkembang menjadi sebuah fenomena.

Lebih dari itu, yang tidak kalah penting yaitu kita harus dapat memaknai filosofi dari fenomena tahunan “mudik lebaran”. Ketika kita merantau jauh dari tanah kelahiran, meninggalkan kampung halaman karena urusan pekerjaan ataupun pendidikan (sekolah, kuliah, nyantri), maka sudah saatnya momen libur panjang (cuti lebaran) dimanfaatkan untuk pulang ke kampung halaman. Tradisi Mudik lebaran bukan sekedar formalitas atau hanya budaya yang dilakukan setiap tahunnya.

Panggilan alam oleh tanah kelahiran melalui suasana kampung halaman tempat kita tumbuh dari kecil hingga dewasa dulu, mata air, tumbuh-tumbuhan, ikan, dan segala sumber kehidupan yang menyatu dengan darah daging, serta nenek moyang dan orang tua biologis (bapak-ibu) kita lah yang menjadi alasan terbesar di balik mudik lebaran itu.

Apa arti sebuah perjuangan melewati jarak tempuh yang cukup jauh, perjalanan macet, melelahkan, sudah dipersiapkan jauh-jauh hari tidak lain adalah karena mudik mengajarkan pada kita untuk tidak melupakan sejarah. Mudik memiliki makna retrospeksi, yang berarti mengingat kembali akar sejarah. Dengan kata lain mudik adalah proses kembali ke daerah asal tempat kelahiran dan dibesarkan.

Baca Juga:

Setelah mudik lebaran harapannya tentu agar bisa kumpul dengan sanak keluarga di rumah. Karena mudik lebaran adalah hari untuk berbahagia dan bersukaria bersama merayakan suatu hari kemenangan setelah sebulan penuh berpuasa dan 11 bulan lebih meninggalkan kampung halaman.

Saat di mana kita bisa berkumpul bersama keluarga serta bersilaturahmi, dan saling bermaafan-maafan dengan saudara, keluarga, kerabat, dan sahabat tercinta. Sehingga di momen idul fitri ini harapannya kita akan kembali ke fitrah atau suci dari dosa antar manusia (hubungan horizontal).

Dan sudah menjadi sebuah tradisi saat lebaran kita disuguhkan dengan berbagai macam makanan khas lebaran. Asalkan setelah lebaran, banyak makan ketupat, lepet, opor ayam, kue nastar, dan aneka kudapan tidak turut berkontribusi terhadap naiknya berat badan kita (baca: lebaran).

Baca Juga: 6 Tips Mudik Aman dan Nyaman Bersama Anak Selama Perjalanan dengan Mobil Pribadi

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button