Enigma

Ke mana ia berlarian? Tersesatkah ia di antara pasir-pasir kecil yang menggelitikinya? Apa mungkin ikut tergulung-gulung debur gelombang pasang?


Aku melarikan diri ke dataran pantai nan gersang
Pasir-pasir kecil menggelitiki kaki letihku
“Selamat datang, raga yang kosong!” sapanya
Sial!
Bagaimana ia bisa tahu?
Aku lupa memasukkan jiwaku ke dalam saku celana
Ia tadi kubonceng di jok belakang
Namun tiba-tiba hilang begitu saja entah ke mana
Mungkin jatuh diterpa angin perjalanan melelahkan
Lalu tersangkut di semak-semak belukar tengah hutan

Aku berteriak memaki debur gelombang yang tengah pasang mengambang
Cangkang kerang menyumbat sepasang gendang dan telinganya
“Hei, jangan berisik!” katanya
Berengsek!
Ternyata aku lupa membuka kunci mulut besarku
Tadi pagi kutaruh di mana, ya kuncinya?
Aku mulai pikun dan tak bisa mengingat apa pun
Sedang mulut besarku tampak bersikeras ingin mendobrak pintunya
Namun ia terkunci diri sendiri

Aku melambaikan tangan pada cahaya kemerah-merahan yang nyaris tenggelam
Setengah riang dengan mulut rapat terbungkam
“Enyah saja, kau!” katanya
Bangsat!
Aku baru menyadari sepasang kakiku menghilang
Ke mana ia berlarian?
Tersesatkah ia di antara pasir-pasir kecil yang menggelitikinya?
Apa mungkin ikut tergulung-gulung debur gelombang pasang?
Ataukah tenggelam bersama cahaya kemerah-merahan itu?
Aku tak bisa enyah sekarang
Sebab segala rupa pasir pantai dan gelombang pasang dan cahaya kemerah-merahan itu membisu

Aku menatap kasihan ragaku yang hanya tersisa kosong ini
Dengan perasaan yang masih terus memikirkan ke mana sepasang kakiku pergi
Aku tak bisa terus berada di sini seorang diri
Hingga akhirnya aku memutuskan untuk beranjak pergi
Tanpa sepasang kaki yang berlarian ke sana dan ke mari
Tanpa sebuah kunci yang letaknya entah tak lagi kuketahui
Tanpa sehelai jiwa yang telah menjadi milik semak-semak belukar tadi

Namun mendadak pasir-pasir kecil yang sempat menggelitiki kakiku tadi
Kini beralih menjabat tanganku
“Hati-hati di jalan, raga yang kosong!” katanya
Lalu debur gelombang pasang yang juga sempat kumaki tadi
Kini terdiam dan menatap lekat mataku
“Menangislah dengan lantang!” katanya
Dan cahaya kemerah-merahan yang nyaris tenggelam tadi itu
Kini telah terbit membawa serta sebuah bingkisan berwarna ungu
Oh Tuhan, sepasang kakiku kembali
“Datanglah ke sini lagi, esok hari!” katanya

Baca Juga: Senja Berpuisi di Beranda Rumahku

BekelSego adalah media yang menyediakan platform untuk menulis, semua karya tulis sepenuhnya tanggung jawab penulis.


Like it? Share with your friends!

0 Comments

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *