Menyapa Gerimis Bulan April
Menikmati gerimis pada latar senja yang luruh menjelang malam, bagaikan membaca puisi-puisi tentangmu dengan bibir bergetar.
Menikmati gerimis pada latar senja yang luruh menjelang malam, bagaikan membaca puisi-puisi tentangmu dengan bibir bergetar.
Bukan otak atau hati, apalagi rumah tak berpenghuni. Ini hanyalah secawan puisi, kosong di segala sisi. Selamat menikmati!
Di belahan langit timur, di antara pendar cahaya yang berkelap-kelip itu, kusenandungkan syair rindu untukmu.
Akan selalu ada rupa senja. Entah hujan atau reda. Entah redup atau nyala. Entah sejenak atau selamanya. Entahlah. Mungkinkah akhir cerita kita?
"Tak peduli seberapa banyak berat badanmu berubah, seberapa tinggi tubuhmu bertambah, seberapa dewasa pikiranmu berhijrah, kau tetaplah gadis kecil kami."
Semua hal tentangmu berputar-putar di kepala selaksa bianglala.
Tiada habis Aku memujinya dengan kata-kata manis. Aku sungguh berharap dia tidak hanya menurut untuk kali ini saja, melainkan untuk hari-hari esok dan seterusnya
Berjuang melawan pusaran gulita dengan malang Pria putus asa lenyap dan menghilang