Pelecehan Seksual di Lingkungan Kampus Banyak Terjadi, Ini Faktor Penyebab Utamanya


Ilustrasi korban pelecehan seksual e1776395422971
Ilustrasi korban pelecehan seksual (pixabay.comsasint)

Kampus merupakan wadah bagi para cendekiawan untuk melanjutkan pendidikan setelah jenjang SMA. Kampus seharusnya menjadi wadah untuk belajar dan menambah ilmu serta meningkatkan kualitas diri. Namun, apa jadinya jika kampus yang seharusnya diisi oleh orang-orang berkualitas namun didalam kampus juga menjadi tempat yang mengancam diri bagi para korban pelecehan seksual.

Akhir-akhir ini, pemberitaan mengenai kekerasan seksual semakin marak diberitakan di media-media, baik cetak maupun elektronik. Pelecehan seksual diartikan sebagai suatu keadaan yang tidak dapat diterima, baik secara lisan, fisik atau isyarat seksual dan pernyataan-pernyataan yang bersifat menghina atau keterangan seksual yang bersifat membedakan, di mana membuat seseorang merasa terancam, dipermalukan, dibodohi, dilecehkan, dan dilemahkan kondisi keamanannya.

Pada dasarnya, pelaku pelecehan dapat dilakukan oleh laki-laki dan perempuan; baik laki-laki terhadap perempuan, perempuan terhadap perempuan, bahkan antar sejenis yaitu laki-laki terhadap laki-laki dan perempuan terhadap perempuan. Bentuknya dapat berupa verbal dan non-verbal, dan dapat dijumpai di mana pun, kapan pun, kepada siapa pun dan oleh siapa pun, tanpa mengenal status atau pangkat.

Tidak dapat dipungkiri bahwa pada kenyataannya perempuan sering menjadi korban kekerasan maupun pelecehan seksual oleh laki-laki, sehingga setiap harinya bahkan setiap saat perempuan harus merasa berwaspada terhadap serangan-serangan yang akan menimpanya. Umumnya, para korban akan tutup mulut yang terkadang hingga waktu yang sangat lama karena alasan-alasan tersebut, dan adanya ketakutan ia akan kian menjadi sasaran pelecehan. Mereka tidak membicarakannya dengan teman ataupun keluarga. Proses penyembuhan akan kian sulit ketika ada penyangkalan dari institusi, ketidak-percayaan, atau mempersalahkan korban.

Faktor terjadinya pelecehan seksual di kampus

Maraknya kasus pelecehan seksual di lingkungan kampus, disebabkan oleh beberapa hal seperti:

1. Relasi Kuasa yang Timpang

Ini adalah faktor paling dominan dalam lingkungan akademik. Relasi kuasa tidak hanya terjadi antara dosen dan mahasiswa, tetapi juga antara senior dan junior, atau pengurus organisasi dengan anggotanya.

2. Budaya Patriarki

Budaya patriarki menempatkan satu gender pada posisi subordinat. Hal ini menciptakan pola pikir bahwa pihak yang dianggap ‘lebih kuat’, merasa memiliki hak untuk mendominasi pihak lain. Budaya ini juga sering melahirkan victim blaming (menyalahkan korban), di mana masyarakat atau lingkungan kampus justru mempertanyakan pakaian yang seksi atau perilaku korban yang genit misalnya, bukan malah menghukum pelaku.

Baca Juga:

3. Kurangnya pengawasan lingkungan kampus

Area kampus yang sepi, kurang pencahayaan, atau minim pengawasan keamanan memudahkan pelaku melakukan aksi.

Selain itu, Kegiatan kampus yang berlangsung hingga malam hari, ruang-ruang bimbingan yang tertutup, atau kegiatan luar kampus (seperti KKN atau diklat organisasi) yang kurang pengawasan dapat menjadi celah bagi pelaku untuk melancarkan aksinya.

4. Minimnya edukasi dan batasan sosial

Banyak individu belum memahami batasan interaksi yang wajar dan perilaku yang masuk kategori pelecehan. Sering kali, tindakan seperti siulan (catcalling), komentar bernada seksual, atau sentuhan fisik yang dianggap bercanda, tidak dianggap sebagai bentuk kekerasan.

5. Ketakutan korban untuk melapor 

Rasa takut korban untuk melapor karena ancaman, malu, atau tidak adanya sistem pelaporan yang aman, yang seringkali dimanfaatkan pelaku. Ketakutan korban untuk melapor adalah hambatan terbesar dalam memutus rantai kekerasan seksual di kampus. Fenomena ini sering disebut sebagai The Silencing Effect, di mana korban merasa bahwa diam adalah pilihan yang lebih aman daripada bersuara.

6. Upaya Menjaga Nama Baik Kampus

Institusi yang cenderung menutupi kasus kekerasan seksual untuk menjaga reputasi, mengakibatkan pelaku tidak jera dan kasus berulang.

7. Faktor Individu

Contohnya Pelaku yang sering menggunakan narkoba atau alkohol, sering nonton film porno, pelaku memiliki kelainan seksual, ataupun pelaku memiliki trauma di masa lalu

Mengapa Korban Kekerasan Seksual Sulit Bicara?

Korban kekerasan seksual menghadapi berbagai hambatan yang membuat mereka sulit untuk mengungkapkan pengalaman pahitnya, seperti dikutip dari Psychology Today, Why Aren’t Male Victims of Sexual Abuse Speaking Out?

Banyak faktor yang mendasari mengapa korban kesulitan untuk dapat mengidentifikasi dan menerima pelecehan seksual yang ia alami, yaitu

1. Stigma sosial yang menyudutkan

Stigma sosial adalah salah satu alasan utama mengapa korban kekerasan seksual cenderung memilih diam. Di banyak masyarakat, terutama yang masih dipengaruhi oleh budaya patriarki, korban kekerasan seksual sering kali dianggap “ternoda” atau “kotor”. Masyarakat lebih cenderung menyalahkan korban daripada pelaku, dan ini membuat banyak korban enggan untuk maju dan melaporkan kekerasan yang mereka alami.

2. Ketakutan tidak dipercaya

Ketakutan bahwa cerita takkan dipercaya adalah hambatan psikologis yang besar bagi korban kekerasan seksual. Banyak korban yang merasa jika berbicara, orang tidak akan memercayai atau meragukannya. Rasa ketidakpercayaan ini sering kali berakar dari kurangnya dukungan dari pihak-pihak berwenang dan masyarakat luas.

Baca Juga:

3. Rasa malu dan bersalah

Rasa malu dan bersalah adalah perasaan kompleks yang dialami oleh korban kekerasan seksual. Meskipun mereka adalah korban, banyak yang merasa bertanggung jawab atas apa yang terjadi, terutama jika kekerasan tersebut terjadi dalam lingkungan yang akrab. Sebut saja di rumah, tempat kerja, atau dalam hubungan pribadi.

Melihat faktor diatas, di mana perempuan yang menjadi korban sering sekali bungkam dan tidak mampu menyuarakan pelecehan seksaul yang dialami, perlu digaris bawahi terjadinya kekerasan seksual tersebut karena adanya peluang dan dorongan dari pihak laki-laki sehingga memunculkan niat untuk melakukan aksi tidak terpujinya.

Dari berbagai kasus dan informasi di atas tindak pelecehan seksual dapat terjadi di mana saja dan menimpa siapa saja, sayangnya perempuan selalu menjadi korban kasus tersebut dan tak terkecuali dikampus. Sehingga sudah seharusnya menjadi pembicaraan serius di dalam birokrasi kampus dan pemerintah terkait.

Korban pelecehan akan mengalami trauma apabila tidak mendapatkan pendampingan dan penanganan dengan baik oleh pihak yang benar seperti keluarga atau bahkan psikolog. Pandangan bahwa perempuan harus mampu menjaga diri jika tidak dibarengi dengan kesadaran laki-laki untuk mampu menahan dirinya dari melampiaskan nafsunya juga tidak akan bisa mengurangi tindak pelecehan seksual yang terjadi.

Baca Juga: Jangan Salah! Ini 6 Cara Menyikapi Korban Pelecehan Seksual


Professional

0 Comments

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *