Belajar Tentang 3 Tipe Manusia dari Filosofi Suit Gunting Batu Kertas

Peraturan permainan suit gunting batu kertas adalah batu mengalahkan gunting, gunting mengalahkan kertas, dan kertas mengalahkan batu


Suit gunting batu kertas

Pernah bermain suit gunting batu kertas? Pada permainan suit gunting batu kertas tersebut, batu dilambangkan dengan genggaman tangan, gunting dilambangkan dengan dua jari, yaitu  telunjuk dan jari manis, dan kertas dilambangkan dengan tangan yang terbuka lebar.

Permainan suit batu gunting kertas berasal dari Dinasti Han di Tiongkok. Pada mulanya permainan ini disebut shoushiling yang berarti ‘tiga orang yang takut satu sama lain’. Saat itu pilihannya bukan batu gunting dan kertas, melainkan katak, siput, dan ular. Masyarakat Tiongkok menggunakan jari sebagai alatnya. Jempol melambangkan katak, kelingking siput, dan telunjuk sebagai ular. Setelah masyarakat China, permainan ini menyebar ke seluruh dunia. Namun, terjadi perubahan pada setiap negara.

Peraturan permainan suit gunting batu kertas adalah batu mengalahkan gunting, gunting mengalahkan kertas, dan kertas mengalahkan batu. Selain sebagai permainan, suit guntig batu kertas, biasanya digunakan juga untuk mengundi.

Walaupun hanya permainan, suit gunting batu kertas juga memliki filosofi dalam kehidupan manusia. Berikut filosofi permainan suit gunting batu kertas yang bisa dilihat dari kehidupan sehari-hari

1. Manusia bertipe batu

Manusia bertipe adalah tipe manusia keras kepala dan cepat marah. Manusia bertipe batu cenderung sebagai penindas. karena menggunakan kekuatan yang besar dan keras untuk mempengaruhi orang lain.

Manusia bertipe batu ini tidak dapat dilawan dengan orang yang sama-sama bertipe keras, karena nantinya akan ada banyak pertentangan. Untuk menghadapi manusia yang bertipe batu, dibutuhkan kesabaran dan kelembutan.

Dalam suit gunting batu kertas, batu bisa dikalahkan oleh kertas. Nah, untuk orang yang bertipe batu atau keras kepala, dapat dilunakan dengan suatu dekapan atau rangkulan yang diibaratkan dengan kertas yang membungkus atau merangkul batu.

Dalam kehidupan percintaan orang yang bertipe batu akan berusaha mencari pasangan yang mampu merangkulnya, yakni kertas. Jika dia mencari gunting, maka akan memberikan luka bukan cinta.

Baca Juga:

2. Manusia bertipe gunting

Untuk orang yang bertipe gunting, gunting diibaratkan dengan orang yang suka memecah belah, suka memotong jalan pintas, suka merusak sesuatu yang sudah lurus.

Manusia bertipe gunting ini tidak dapat dilawan dengan orang yang sama-sama bertipe halus, karena nantinya orang yang bertipe gunting akan menusuk atau merobek dengan mudah.

Orang yang bertipe seperti ini harus dihadapi oleh  manusia yang bertipe batu. Ibarat batu yang memukul gunting hingga hancur dan tak ada kompromi.

Dalam kehidupan percintaan, orang yang bertipe gunting, akan mencari pasangan yang mampu meluluhkan dirinya dengan ketegasan batu. Bukan malah mencari kertas yang membuatnya ada keinginan untuk saling pisah.

Baca Juga:

3. Manusia bertipe kertas

Walaupun halus, namun orang yang bertipe seperti kertas, adalah orang yang tidak kuat pendiriannya, mudah dibolak-balik, dan mudah terbang tertiup angin.

Manusia bertipe kertas ini tidak dapat dilawan dengan orang yang sama-sama bertipe keras seperti batu, karena nantinya orang yang bertipe batu akan bisa menusuk atau merobek dengan mudah.

Menghadapi orang seperti ini, harus menggunakan orang yang berkarakter seperti gunting. Karakter kertas tersebut harus dibentuk terlebih dahulu melalui gunting agar lebih mempunyai makna dalam hidupnya.

Dalam kehidupan percintaan, orang yang bertipe kertas, akan mencari pasangan yang mampu meluluhkan dirinya dengan ketajaman gunting, dan mampu membuat hidupnya menjadi lebih jelas dan terarah. Bukan malah mencari batu yang akan memukul dengan kekerasan di kemudian hari.

Dalam filosofi gunting batu kertas itu, kita dapat mengambil kesimpulan bahwa, tak ada sesuatu yang paling kuat. Di atas yang kuat, masih ada yang lebih kuat lagi. Tak ada orang yang benar-benar berada di atas orang lain. Semua manusia masih bisa dikalahkan dengan yang lainnya.

Namun, semua filosofi tersebut di atas hanyalah sebuah filosofi yang bisa saja keliru. Tergantung kita sebagai manusia bagaimana memaknai kehudupan ini.

Baca Juga: 7 Tipe Manusia Yang Diperlukan Dalam Hidup, Nomor 3 Anti Mendengar Alasan-alasan!


Like it? Share with your friends!

Explorer