Antara Politik, Agama, dan Konflik Kekerasan, Dalam Sistem Demokrasi di Indonesia


Ilustrasi konflik kekerasan menggunakan isu agama (pixabay.com/ knelstrom)

Indonesia dikenal sebagai negara dengan budaya sopan santunnya, memiliki toleransi yang tinggi, dan juga memiliki sumber daya alam yang sangat melimpah.

Indonesia juga merupakan negara majemuk yang di dalamnya hidup dan berkembang berbagai suku, bangsa, dan juga agama. Secara resmi, di Indonesia terdapat beberapa agama yaitu Islam, Kristen Protestan, Katolik, Hindu, Buddha, dan Khonghucu.

Di Indonesia, agama berperan penting sebagai panduan bagi masyarakat dalam menjalani hidup dan kehidupan. Namun banyaknya konflik kekerasan dari isu agama dan politik, bisa menjadi sumber bencana untuk mempertahankan persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia.

Baca Juga:

Konflik kekerasan karena isu agama dalam politik

Walaupun Indonesia telah memiliki modal dasar sebagaimana di atas, namun, berbagai macam konflik persoalan baik itu faktor internal maupun eksternal selalu datang merongrong bangsa Indonesia. Salah satu konflik yang sering terjadi adalah konflik kekerasan yang seringkali mengatasnamakan agama dan yang lebih parah dan membahayakan lagi, konflik kekerasan atas nama agama tersebut dikarenakan faktor politik dan itu terjadi secara masif dan terstruktur dalam satu kondisi tertentu.

Dalam sejarah panjang peradaban umat manusia, konflik kekerasan atas nama agama telah ada sejak lama dan telah menjadi bagian dalam sejarah yang masih bisa ditemukan pada manusia di era modern saat ini, termasuk di Indonesia yang konon katanya bangsa yang sangat menjunjung tinggi nilai-nilai toleransi dan persaudaraan yang kemudian dikuatkan lagi dengan ikatan Bhinneka Tungga Ika.

Politik dan agama pada zaman dahulu

Dalam sejarah Mesir Kuno, agama dan politik sangat erat kaitanya. Para Firaun dianggap sebagai dewa atau wakil dewa, dan mereka memiliki otoritas mutlak dalam semua aspek kehidupan, termasuk dalam urusan agama. Pemberontakan politik sering kali memiliki elemen agama, dan kekuasaan Firaun diperkuat oleh keyakinan akan hak ilahi mereka. Selain itu, hubungan antara politik, agama, dan kekerasan masih relevan di berbagai negara pada periode modern, dengan konflik seperti terorisme yang sering kali memiliki motivasi dan berhubungan dengan agama atau identitas agama.

Demikian juga dalam sejarah Islam, pada masa Khalifah Ali Bin Abi Thalib, terjadi perang shiffin, mengutip dari Jurnal Penelitian Ilmu Ushuluddin, disebutkan bahwa permasalahan utama dalam terjadinya perang tersebut adalah motif politik kekuasaan yang berkaitan dengan kekhalifahan yang didalamnya dibumbui dengan motif agama.

Baca Juga:

Politik dan agama kerap menjadi faktor pemicu kekerasan dalam sistem demokrasi di Indonesia

Agama dan politik, seringkali masih menjadi faktor utama pemicu terjadinya kekerasan. Agama dan politik sama-sama dapat membahayakan bagi keberlangsungan sebuah bangsa, jika disalah gunakan untuk sebuah kepentingan sesaat yang pragmatis.

Politik, jika telah bersinggungan dengan urusan kekuasaan, maka segala cara akan ia tempuh, termasuk dengan menggunakan agama sebagai kenderaan untuk menjual dirinya berikut dengan dukungan masa yang telah berhasil ia permainkan emosionalnya. Pun sama halnya dengan agama, terkadang digunakan sebagai dasar untuk merumuskan kebijakan publik tanpa  mempertimbangkan keragaman masyarakat, ini dapat mengakibatkan penindasan minoritas atau kelompok yang berbeda keyakinan agama.

Ketika agama dan politik berada di tangan manusia yang tidak bertanggung jawab, ia akan menjelma menjadi bom waktu yang dapat menghancurkan tatanan kehidupan bangsa Indonesia. Namun sebaliknya, agama dan politik akan menjadi alat dan juga kekuatan dalam memperjuangan segala bentuk kepentingan rakyat, jika di tangan manusia yang tepat.

Sebab tujuan diturunkannya agama oleh Allah, salah satunya adalah sebagai jalan menuju keselamatan, begitu juga dengan politik, tujuannya adalah untuk pemberian keadilan dan kesejahteraan sosial yang semuanya itu bermuara pada jalan yang sama yaitu keselamatan.

Baca Juga:

Menggunakan nilai-nilai dan isu agama dalam politik

Pada dasarnya, agama dan politik sangat erat kaitannya. Jika berpolitik dengan mengedepankan nilai-nilai agama, justru itu sangat dianjurkan, sebagaimana yang telah dilakukan oleh para generasi dahulu. Yang salah adalah, menggunakan agama sebagai kendaraan dalam politik, seperti mengobral dengan murah ayat-ayat Allah, lebih sering tampil di depan umum dengan menggunakan atribut agama tertentu sebagai ciri khasnya (musiman).

Namun, ketika telah mendapatkan apa yang diinginkan (kekuasaan), maka kepentingan agama seringkali terabaikan dan menjadi urusan kedua setelah kepentingan pribadi, kelompok, dan golongannya.

Manusia-manusia seperti ini, jelas mereka tidak cinta dengan Indonesia, melainkan cinta dengan apa yang terkandung di dalamnya, seperti sumber daya alam. Setelah mereka berhasil mengambil semua itu, lalu dipergunakan untuk melanggengkan kekuasaan berikutnya dan hanya meninggalkan luka yang amat dalam bagi masyarakat.

Baca Juga: Menjelang Pemilu 2024, Intip 3 Cara Kampanye Politik yang Efektif di Era Teknologi Digital

BekelSego adalah media yang menyediakan platform untuk menulis, semua karya tulis sepenuhnya tanggung jawab penulis.


Senior