Perseteruan Dengan Waktu


TABAH

  • Mataku

tabah adalah nama lain

dari hancur yang istirah.

ketika daun-daun maple yang jauh

itu gugur dan bisikan-bisikan memeluk.

 

mayatku belum jadi,

belum boleh kaulangkahi.

 

aku dihimpit waktu yang

kauagungkan sebagai penawar luka.

 

kelak, ia menikamku,

dan semua benar-benar istirah.

kecuali ketabahanmu memeluk bisikan

dari nama-nama lain yang gugur.

 

[2018]

 

SEBELUM PULANG, AKU INGAT NAMAMU

 

  • Mataku

dalam kegalauan pada sebuah nama. namamu, sayangku. aku menjadi fakir.

reretak waktu yang dibakar api kesiaan. pulau yang memberi nama sepi dan ruangan untuk sunyi. aku ditekuk-tekuk ombak, gelombang nista dan badai fitnah.

kecantikanmu membuat kemaluanku semakin malu-malu. dan kemanusiaanmu menjadikanmu bintang di antara binatang-binatang yang baunya menembus langit-langit kebohongan.

siapakah kita sebenarnya, sayangku. aku, kamu, dan namamu. mengapakah kita sebenarnya. mengapa aku menjadi aku dan aku bukanlah aku. samar-samar waktu menjelmakan namamu menjadi kamu, dan kamu menjadi namamu. dan aku menjadi kamu dan namamu.

kursi-kursi tunggu. angin yang dibutakan hangat keringat. menusuk-nusuk kulitku dan kulitmu dan namamu dan aku.

demikianlah, sayangku. namamu menjelma risau sunyi monitor. aku membuatkan suara pada kaca, dan kamu menghapus jejak benar dan salah.

[Surabaya, 2017]

 

 

KEPADA MATAKU

  

maka kutulis puisi ini untukmu, mataku.

setelah lama tak saling jumpa.

selepas temu di taman kota yang hijau

dengan syair-syair sufi dan tarian-tarian daun sunyi.

 

dunia tumbuh tergesa.

tanah berjejak reretak.

 

mataku, kau masih air mata dan mata air di degupku.

 

maka, sekian panjang perjalanan yang berkelok-kelok ini,

kutulis puisi untukmu, mataku.

kutulis buta rinduku.

tutup, tutuplah matamu, mataku.

 

[2018]

 

PERSETERUAN DENGAN WAKTU

 

saya sering dibuang-buang waktu.

sesekali membuang waktu.

 

bukankah waktu yang membuang saya kemarin,

seusai saya dibuang waktu yang lain?

 

waktu melepas saya ke jeruji bui keluarga.

waktu menikam saya dengan sangkur

tutur yang tak teratur.

 

apakah waktu akan memanggil saya kembali

setelah saya membuang waktu yang membuang saya?

 

waktu, bebaskanlah saya dari kulturmu.

bebaskanlah saya.

 

[2017]

 

 

DI KOTA-KOTA HUTAN

merenunglah sendiri

di hutan-hutan kota

di bawah pohon bangunan

menembus cakrawala bising

 

heninglah sukmamu

lebih hening dari kening

kening-kening yang bening

 

menarilah bayanganmu

hantamkan batu di kepal tinjumu

 

menarilah bayanganmu

merenunglah sendiri

di kota-kota hutan.

 

[2018]

 

 

MELUKISMU

 

  • Mataku

 

  1. melukismu. seperti kutukan warna senja. tarian ombak, anak jala, tentang mimpi negara. aku memotret wajahku sendiri. menelusuri sulur api di rautku yang rautmu. bercermin pada air mata yang tumpah di halaman pendidikan. pada agama. pada napas panjang bekukan diri.
  2. melukismu. serupa serapah di jalanan. aku melihat warna-warni hegemoni. tentang tenang. tentang matamu yang mataku. kau masih akar tunggal yang menghujam bumiku.
  3. melukismu. aku tak sempat sampai di ujung matamu yang tajam. di batas belumku dan di batas tajam matamu, aku melukismu menyerupai hantu.

 

[2017]

 

PENCARIAN

  

antara aku dan gila.

ketika sepi mati.

dipukul menit ampel dan jombang.

tentang pelacur dan santri.

 

pergi.

15 aku datang.

menuju ahmad yani ke 12.

dari biji sejarah.

tentang paksa dan perkosa.

lelaki diperkosa diri sendiri.

 

pergi.

sepi mati di langit ibu

pendidikan yang dikulum imf.

 

antara aku dan gila.

keluarga dari makna theis dan atheis.

 

pergi.

sakit menjadi jenaka.

tentang tangan dan palu yang berdiskusi.

antara takut yang pura-pura takut.

dari makna alam tanpa alam.

 

ning datang.

serupa purabaya yang bermain.

pergi.

 

[Surabaya, 2017]

 

PENCARIAN 2

 

  • Mataku

 

ceritakanlah, arahku. mata batinku. mata tajammu. aku masih pelukis mata dan pengeja nama. antara riak ombak yang menepi menjadi buih. dan tentang rumput yang menunggu senja.

 

bawakan aku lautmu yang masam. bongkahan batu dan batok kelapa. antara dermaga dan pulau seberang. sampah berserak susup, ketika pori-pori kepala membikin jalan untuk perahu. menubruk besi tua di keningku yang kering. sambil menatap merah mentari.

 

pasir coklat, tiang lampu, dan kota. ombak membasahi matamu, mataku. batas kerinduan sublim tiba-tiba – bunyi – kueja namamu, mataku.

 

[2017]

 

 

EL

 

1. dan pagi. kembali kuncup harap menamu. bagai puisi yang menawarkan bangkit. dari fajar yang terbangun. aku membacamu, el. membaca suara reretak parau mahasiswa di beranda.

samar-samar. seperti aku membaca waktu yang ditenggelamkan grup-grup lawak di televisi.

2. burung-burung menangis. hari semakin kikis. el, sepertiga waktu yang ditanam di tanah kerontang, tak urungkan niatku tumbuhkan besi kata. hujami nun-mu.

3. ajaklah aku menemui wajah muram rumah-rumah peribadatan. setelah kau bermimpi bertemu tuhan dan membayangkan sebuah sorga.

– el, hari mau dibikin lagi. sudahkah kau tanam biji puisi di kotamu?

 

 [Galis Dajha, 2017]

 

PEMANGKU

 

  • El

 

memarkir diri. bukit sebuah kota. dan pohon pencuci. waktu. berjalan masuk. mengintip buku puisi. perempuan memangku buku. puisi ditanya. dari asap rokok. korek. seperti malam yang tiba-tiba menjadi pagi.

aku berenang. rumput-rumput. jalan bergelombang.

ceritakanlah, el. bagaimana aku mengerti imaji untuk mengertimu?

lelaki itu. warna pasir yang dicat sejarah. digenggam kesedihan dari sebuah diksi: cinta dan percintaan. santri-santri yang disisipkan kitab-kitab sufisme.

anak-anak bukit dari belanda. membidik sore yang samar. puisi memberi nama bahagia. dari parau puing kata. seperti fajar. revolusi pendidikan.

angin muasal nama pulau.

ceriatkanlah sekali lagi, el. tentang kemiskinan. huru-hara penjajahan. dari sejarawan. samar-samar dirunding. klebun dan peta dunia. semakin titik.

 

 [Galis Dhaja, 2017]

 

 


0 Comments

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *