5 Alasan Krisis Iklim Menjadi Tantangan Menuju Indonesia Emas 2045

Krisis iklim yang terus meningkat harus menjadi perhatian khusus bagi seluruh manusia terutama generasi penerus


Kenaikan suhu bumi beberapa tahun terakhir telah meningkat secara signifikan dikisaran 1°C per tahunnya. Angka tersebut mungkin terlihat kecil tapi bagiamana jika hal itu terus berlangsung selama 28 tahun mendatang. Suhu rata-rata Indonesia sendiri menurut BMKG adalah sebesar 27°C, berarti pada umur Indonesia Emas 2045 maka Indonesia akan memiliki suhu sekitar 55°C. Sebuah angka yang sangat fantastis, bukan?

Krisis iklim yang terus meningkat harus menjadi perhatian khusus bagi umat manusia terutama generasi penerus. Di bawah ini ada 5 alasan krisis iklim dapat menjadi tantangan bagi generasi muda menyambut Indonesi Emas 2045.

1. Penyelarasan Teknologi Terhadap Perubahan Iklim Di Masa Mendatang

Ilustrasi pembangkit listrik tenaga matahari (pixabay.com/mrganso)

Sekarang ini, teknologi sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan manusia, apalagi di masa mendatang. Perkembangannya yang terbilang pesat menjadi tantangan generasi muda untuk terus berwawasan, maju dan berinovasi.

Sayangnya, sebagian teknologi malah memiliki peran penting dalam meningkatkan krisis iklim. Kendaraan yang menjadi sumber polusi, pabrik-pabrik tekstil yang menyumbang banyak sekali cairan kimia di sungai dan laut, industri nuklir dengan resiko hingga dapat menghancurkan sebuah tempat, serta industri lainnya yang berpotensi tinggi memperburuk bumi.

Untuk itu, generasi mudah harus paham dan peduli dalam menyelaraskan antara perkembangan teknologi serta dampaknya terhadap lingkungan.

Baca Juga: Pemanasan Global dan Perubahan Iklim! Yuk, Belajar Bareng Hal Ini

2. Manajemen Sampah Yang Lebih Baik

Ilustrasi limbah plastik (pixabay.com/MatthewGollop)

Leo Baekeland sebagai penemu plastik sintetis mungkin tak pernah menyangka bahwa plastik akan memiliki dampak yang sangat buruk bagi manusia dan bumi itu sendiri. Dilansir dari CNN Indonesia bahwa sampah plastik terus meningkat dan menyumbang 17% sampah atau sekitar 11,6 juta ton dari total 68,5 juta sampah nasional pada tahun 2021 kemarin. Lalu bagaimana dengan sampah plastik dunia? Pastinya akan lebih besar lagi.

Tak hanya plastik, sampah elotronik pun tak kalah mengenaskannya, jumlahnya berkisar 50 juta ton per tahun di seluruh dunia atau sekitar 1000 laptop terbuang setiap detiknya.

3. Sumber Pangan Menurun Dibarengi Peningkatan Jumlah Kebutuhan Manusia

Ilsutrasi padi sebagai sebagai makanan pokok (pixabay.com/Expatsiam)

Jika suhu udara yang terus menerus meningkat, tak hanya manusia yang resah, makhluk lain pun akan merasa demikian. Sampah di lautan perlahan akan membunuh ikan-ikan. Kenaikan suhu  pun akan menghambat perkembangan tumbuhan atau bahkan mati sehingga hewan darat akan kehilangan habitatnya. Jika hal ini terus berlangsung , sudah jelas kebutuhan pangan akan menurun dratis.

Tahun 2030-2050 diperkirakan populasi manusia akan meningkat menjadi 8,5 – 9,7 miliar manusia. Jika kebutuhan meningkat, dan sumber pangan menurun maka kekurangan gizi, kelaparan, bahkan kematian akan menimpa masyarakat dunia.

4. Ekonomi yang tidak stabil karena kekurangan sumber daya dan kebijakan mengenai pengurangan emisi

Ilustrasi meningkatnya inflasi (pixabay.com/geralt)

Kebutuhan dasar yang besar serta sumber daya alam yang terus menurun menjadikan kebutuhan manusia tak akan terpenuhi sepenuhnya. Hal ini akan mempengaruhi ekonomi dunia serta meningkatkan inflasi di manapun.

Dilansir brookings.com, beberapa fakta krisis iklim yang akan mempengaruhi ekonomi yaitu: penetapan harga karbon yang diperkenalkan di seluruh dunia; pengusulan pajak karbon; negara miskin akan mengeluarkan lebih banyak  uang. Masih ada beberapa fakta lain yang banyak mempengaruhi ekonomi dunia.

5. Kisruh HAM Yang Meningkat

Ilustrasi demonstrasi HAM (pixabay.com/UnratedStudio)

Apakah ada dari kalian yang pernah berpikir, bahwa krisis iklim dapat melanggar HAM? Hal ini  ternyata saling berkaitan. Polusi udara, polusi air, kebakaran kesehatan menurun dan masih banyak lainnya adalah bagian yang menjadi penyebab pelanggaran HAM.

Amnesty, organisasi hak asasi manusia pernah merilis data bahwa ada sekitar 40 ribu bayi lahir prematur karena krisis iklim. 250 ribu kematian pada tahun 2030-2050, diperkirakan adanya peningkatan kasus kelaparan sekitar 20%. Sejak tahun 2008, ada sebanyak 26,4 juta orang kehilangan tempat tinggal. Kasus yang paling mengkhawatirkan adalah ada 1 miliar manusia yang akan merasakan dampak kekurangan air yang berakibat kepada masalah kesehatan.

Dari tulisan diatas  sudah waktunya untuk kamu sadar akan pentingnya menjaga bumi demi keberlangsungan hidup yang lebih baik. Tantangan di atas sejatinya adalah tanggung jawab semua manusia. Tidak hanya para generasi muda.

Harapannya tantangan tersebut dapat segera teratasi jauh sebelum indonesia memasuki masa indonesia emas, atau 100 tahun kemerdekaan.

Yuk, buat pergerakan dan jangan hanya membebankannya pada generasi muda!

Baca Juga: 8 Cara Kobarkan Semangat Proklamasi Pada Era Digital

BekelSego adalah media yang menyediakan platform untuk menulis, semua karya tulis sepenuhnya tanggung jawab penulis.


Like it? Share with your friends!

0 Comments

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *