Suka Duka Memiliki Anak Mondok di Pesantren

Mempunyai anak rajin beribadah dan menjalankan ajaran agama dengan benar itu keinginan terbesar para orang tua. Walaupun banyak suka duka ketika anak mondok di pesantren


Ilustrasi pesantren

Membaca tulisan tentang pondok pesantren di Bekelsego tertarik saya menuliskan pengalaman saya punya anak yang belajar di pondok pesantren. Anak saya mondok di salah satu pesantren di wilayah Pati. Memiliki anak yang bisa belajar agama dengan baik dan berakhlak mulia itu idaman setiap orang tua. Mempunyai anak rajin beribadah dan menjalankan ajaran agama dengan benar itu keinginan terbesar para orang tua. Sama seperti saya.

Banyak orang tua yang mengirimkan anak-anaknya ke pondok pesantren termasuk saya. Maksudnya, anak saya bisa belajar agama dengan lebih baik dan menjadi anak yang berakhlak mulia sesuai dengan agama. Mondok di pesantren memiliki suka dukanya. Dari cerita anak saya, banyak saya ketahui tentang kehidupan di ponpes.

Mereka memiliki cerita suka dan duka. Sama seperti saya sebagai orang tuanya. Ada banyak hal yang membuat saya bahagia. Ada juga yang membuat saya sedih dan merana. Apa saja suka dukanya memiliki anak yang bekajar di pondok pesantren? Berikut penjelasannya yang bisa jadi tambahan wawasan jamaah Bekelsego.

Berikut hal-hal yang membuat saya merasa bahagia memiliki anak yang belajar di pondok pesantren.

1. Anak lebih mandiri

Kebahagiaan saya melihat anak saya belajar di ponpes yaitu anak saya lebih mandiri. Jika berada di rumah, anak saya tinggal pakai pakaian dan seragam sekolah. Tidak pernah cuci pakaian. Apalagi sampai setrika baju. Semua tinggal pakai. Nah, setelah di pondok, anak saya lebih mandiri. Mencuci baju sendiri. Menyiapkan pakaian seragam sendiri. Jadi, benar-benar mandiri. Termasuk dalam hal belajar.

Jika di rumah, saya harus ngopyak-opyak (menyuruh) anak saya untuk belajar dan mengerjakan tugas sekolah. Di pondok, anak saya harus belajar mandiri, mengaji dan belajar pelajaran madrasah.

2. Belajar lebih banyak ilmu agama

Mondok berarti tinggal dan belajar di pondok pesantren. Di pesantren anak-anak belajar lebih banyak ilmu agama. Biasanya, belajar membaca dan menghafal Alquran. Ada juga belajar kitab kuning dengan huruf Arab pegon, atau Arab gundul. Banyak ilmu agama yang dipelajari di ponpes. Selain itu juga mendapat pelajaran lain di madrasah.

Berbeda dengan di sekolah umum yang pelajaran agamanya hanya dua jam pelajaran. Di ponpes dan madrasah, ilmu agama banyak sekali. Bahkan istri saya menyerah saat disuruh membaca kita kuning. Karena memang gak pernah belajar arab pegon. He he he.

Baca Juga:

3. Melatih anak bersosialisasi dengan orang lain

Keuntungan ketiga anak yang belajar di ponpes yaitu melatih anak bersosialisasi dengan orang lain. Anak saya berada di ponpes dari berbagai daerah dengan bermacam karakter. Perbedaan itu membuat anak saya bersosialisasi dengan teman-temannya.

Berbeda di sekolah umum yang penerimaan siswanya bersistem zonasi sehingga yang dikenal pun hanya anak-anak di sekitarnya. Perbedaan tersebut membuat anak saya bisa bersosialisasi dengan anak-anak dari daerah lain, karakter berbeda dan perilaku yang tak sama.

4. Terlindung pengaruh buruk dari luar

Anak saya di pondok belajar agama lebih banyak dan tidak diperkenankan membawa HP. Hal ini menjadikan anak saya terlindung dari pengaruh buruk dari luar. Biasanya jika di rumah, anak bermain HP terus-terusan. Jika di ponpes, penggunaannya dibatasi. Ini menjadikan anak saya jarang main HP dan konsen belajar agama.

5. Belajar hidup sederhana

Hidup di pondok, dilatih hidup sederhana. Mereka disarankan membawa baju secukupnya dan tidak berlebihan. Mereka juga makan makanan yang sederhana. Namun, memiliki tingkat gizi yang seimbang. Mereka tidak boleh berlebihan dalam hal makanan dan berpakaian. Mereka diajarkan adab dan tingkah laku yang baik. Belajar hidup sederhana sangat baik jika menghadapi kehidupan yang susah di kemudian hari.

6. Membangun rasa percaya diri anak

Belajar agama dan hidup di pondok membangun rasa percaya diri anak saya. Dulunya, jika disuruh tadarus Alquran, selalu dibaca pelan dan tidak terdengar. Sekarang ia percaya diri dalam tadarus Alquran di masjid. Bahkan ia juga mengajari anak-anak membaca Iqra di masjid dekat rumah jika pulang. Selain itu juga berani berbicara di depan umum. Sesuatu yang dulunya tidak dimiliki.

7. Orang tua tenang karena pengawasan anak terjamin

Belajar di pondok, saya merasa tenang. Sebab pengawasan terhadap anak saya terjamin. Pengurus pondok benar-benar mengawasi para santri. Ini dimungkinkan sebab kadang santri nyolong laku dengan keluyuran dan merokok di luar pondok. Pengawasan di pondok ketat dan membuat saya tenang.


Like it? Share with your friends!

Hero

0 Comments

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *