Sidik

Kejujuran itu mahal harganya


0

Siang yang terik, di sebuah rumah tua di pinggir sungai yang airnya sudah seperti susu coklat, tampak sebuah keluarga yang sedang bercengkrama. Rumah itu bukanlah satu-satunya rumah tua di komplek itu. Keluarga itu terdiri dari 4 orang anggota. Sang kepala keluarga atau yang paling tua bernama Pak Sriyono. Pak Sri adalah nama panggilannya. Saat ini Pak Sri berusia 50 tahun. Sehari-hari Pak Sri bekerja sebagai seorang tukang becak sepeda.

Sang ibu sehari-hari bekerja sebagai seorang buruh cuci dan mengerjakan pekerjaan serabutan lain yang dibutuhkan oleh tetangga mereka. Beliau bernama Ibu Marni. Selain sebagai buruh cuci, Bu Marni juga membuat kue basah yang dititipkan di warung dan dijual oleh anak-anak mereka sepulang sekolah. Saat ini Bu Marni berusia 42 tahun. Anak-anak Pak Sri dan Bu Marni ada dua orang. Si sulung yang bernama Sidik Wirawan dan si bungsu yang bernama Zidan Azis. Saat ini Sidik berusia 9 tahun dan duduk di bangku kelas 3 SD. Sementara itu, adiknya berusia 6 tahun dan duduk di bangku kelas 1.

Suatu hari di sebuah taman yang tampak ramai terlihat dua anak dengan usia yang tidak terlalu berbeda jauh. Ya mereka adalah Sidik dan Zidan. Mereka berdua pergi ke taman untuk menjualkan roti buatan ibunya setelah pulang sekolah. Belum banyak dagangan mereka yang terjual. Mereka terus mengitari taman untuk menjual dagangan mereka. “Zidan jangan lari-lari jatuh nanti” peringat Sidik pada Zidan saat Zidan mendahuluinya sambil berlari. Peringatan itu tak didengarkan oleh Zidan.

Dia terus berlari sambil menengok ke belakang dan tertawa melihat kakaknya tertinggal di belakang. Tawa Zidan tak bertahan lama karena di detik berikutnya, “Bruk” Zidan terjatuh dan setelahnya langsung terdengar bunyi tangisan yang memekakkan telinga. “Huaaa sakit kakak sakit, kaki zidan berdarah kakak” ucap Zidan sambil menangis.

Sidik melihat benda yang membuat adiknya tersandung itu. Ternyata sebuah dompet lipat yang tampak tebal dan penuh dengan uang. Dia lalu mengambil dompet itu dan menenangkan adiknya. “Cup cup sini duduk dulu ayo kakak lihat sakitnya dimana sini” Sidik mengajak Zidan duduk di bangku pinggir taman.

Dia lalu menaruh dompet yang membuat adiknya jatuh tadi di saku celananya. Setelahnya, dia mengecek kondisi adiknya “Mana coba yang sakit? Sini kakak liat” ucap Sidik pada adiknya. “Hiks lutut Zidan ini, lutut Zidan berdarah kak hiks” ucap zidan sambil menunjukkan kakinya yang tertutup celana panjang tebal. Sidik lantas menggulung celana adiknya sampai terlihat lutut adiknya. Tidak ada luka disana, lecet pun tidak ada. Sepertinya adiknya menangis karena kaget. “Ngga berdarah kok ini, cup cup adik kakak yang paling lucu jangan nangis terus ya” hibur Sidik pada  Zidan.

Zidan tak kunjung meredakan tangisannya. Masih sambil menangis, Zidan melihat sekeliling taman dan melihat penjual balon. “Hiks hiks kakak zidan mau balon itu” jarinya menunjuk pada balon-balon yang dijual oleh bapak berbaju coklat dekat bangku mereka duduk. Sidik lantas melihat uang hasil jualannya. Tergenggam satu uang berwarna coklat. Ya, jualannya baru laku dua biji. Lima ribu rupiah yang dia dapatkan. ‘Pasti uangnya kurang’ batin Sidik.

Dia harus mendiamkan adiknya dulu. Apalagi disakunya masih ada dompet orang yang belum tau kepemilikannya. “Zidan, uang kakak masih kurang buat beli balonnya. Kita jualan dulu, mau? Nanti kalo jualan kita habis kakak belikan kamu balon, gimana?” ucap Sidik menghibur adiknya. “Hiks bener ya kakak, aku mau balon hiks” ucap Zidan. “Iya kakak janji” ucap Sidik.

Di sisi lain, tampak seorang pria berumur sekitar 40-an yang mengitari taman sambil terus menunduk. Dia kehilangan salah satu barangnya. Tepatnya adalah dompetnya. Dia sudah memutari taman hampir 2 putaran tapi tak kunjung menemukan dompetnya. Dia tak masalah kehilangan uangnya. Tapi KTP, SIM, dll masih ada di dompetnya. Terlebih di dompet itu ada satu foto yang sangat berarti baginya, foto anaknya yang sudah lama tak ada. Dia sangat berharap orang yang menemukan dompetnya hanya mengambil uangnya saja tidak dengan benda-benda lain di dalam dompetnya.

Kembali pada kondisi Zidan dan Sidik. Setelah tangisan adiknya reda, Sidik lalu mencari pos satpam di sekitaran taman agar memberikan pengumuman bahwa telah ditemukan dompet lipat. Tidak lama setelah itu, datang seorang pria berumur 40-an menghampiri mereka. Dia menunjukkan foto dia memegang dompet itu. Dan mengucapkan dengan detail isi dalam dompet itu. Seperti jumlah uang, kartu-kartu yang ada dalam dompet, dll. Untuk memastikan bahwa pria itu benar-benar pemilik dompet.

“Terima kasih nak, terima kasih sekali kamu sudah menemukan dompet ini dan memberitahukan kepada satpam” ucap pria yang diketahui bernama Pak Sanjaya. Dia sangat berterima kasih kepada Sidik dan Zidan karena telah menemukan dompetnya. Beliau juga merasa sangat bersyukur karena dompetnya masih utuh dan tidak ada yang kurang dari kondisi dompetnya. “Sama-sama pak, maaf ya pak sepertinya saya telat memberikan informasinya pada pak satpam soalnya tadi saya harus menenangkan Zidan dulu Pak” ucap Sidik sedikit sungkan.  Pak Sanjaya memperhatikan dengan cermat muka Zidan, dan benar masih ada jejak air mata di mata Zidan. “Kenapa menangis anak ganteng?” tanya Pak Sanjaya pada Zidan. “Tadi Zidan kan jatuh kesandung dompetnya Bapak, terus Zidan tadi lihat ada balon, terus mau beli. Tapi kata kakak disuruh jualan dulu sampai habis baru bisa beli balon” ucap Zidan polos pada Pak Sanjaya.

Pak Sanjaya yang mendengar ucapan Zidan pun baru menyadari bahwa mereka sedari tadi membawa keranjang berisi kue yang masih banyak, mungkin sekitar 20. “Zidan mau balon? Ayo paman belikan sekarang” kata Pak Sanjaya mengajak Zidan. Zidan yang mendengar ucapan Pak Sanjaya pun senang, tapi dia kemudian menatap ke arah Sidik. “Maaf Pak ngga usah, kata Bapak dan Ibu kalo kita menolong orang harus ikhlas” ucap Sidik. “Saya juga ikhlas kok mau belikan balon untuk Zidan, sudan ayo kita beli balon keburu penjualnya pergi” ajak Pak Sanjaya pada Zidan dan Sidik.

Zidan pun mendapatkan balon yang diinginkannya. Sidik juga turut dibelikan oleh Pak Sanjaya karena anak itu terus menatap ke arah balon bentuk pesawat. Setelah selesai membeli, Pak Sanjaya berniat mengantarkan mereka berdua pulang. Akan tetapi, Zidan menolak karena dagangan mereka masih cukup banyak. Pak Sanjaya lantas membeli semua dagangan mereka. Dagangan mereka pun akhirnya habis dibeli Pak Sanjaya.

Pak Sanjaya lalu mengantarkan mereka pulang. Setelah sampai rumah Sidik dan Zidan, Pak Sanjaya bertemu Bu Marni yang kebetulan baru selesai mencuci baju milik tetangga mereka. Bu Marni yang tidak mengetahui apa-apa kaget kenapa ada seorang bapak menaiki mobil datang ke rumahnya. Mengapa anaknya ikut bapak itu? Pertanyaan-pertanyaan itu muncul di benak Bu Marni. Pak Sanjaya yang paham akan kebingungan Bu Marni pun akhirnya menceritakan kejadian tadi pada Bu Marni.

“Anak-anak ibu sangat baik dan jujur bu. Saya sangat berterima kasih pada mereka karena mengembalikan dompet saya” ucap Pak Sanjaya. “Sama-sama pak. Sudah sepatutnya kita mengembalikan barang yang bukan hak milik kita” ucap Bu Marni. Pak Sanjaya lantas berbincang dengan Bu Marni dan juga Zidan dan Sidik sambil menunggu Pak Sri yang katanya biasanya pulang pukul 5 sore.

Tidak lama setelah itu, Pak Sri pulang ke rumah dan sama terkejutnya dengan Bu Marni tadi. Bu Marni pun menceritakan pada Pak Sri cerita yang diceritakan oleh Pak Sanjaya tadi. Pak Sanjaya kemudian menyampaikan maaksud dan tujuannya pada Pak Sri dan Bu Marni. “Pak saya sangat berterima kasih pada anak-anak bapak. Jika bapak dan ibu berkenan apakan mau ikut saya bekerja Pak, Bu?”ucap Pak Sanjaya. “Kebetulan saya ada bisnis kecil-kecilan nanti ibu bisa saya jadikan sebagai juru masak dan bapak pengantar ke tempat customer saya. Kebetulan saya punya usaha catering dan saat ini masih kekurangan orang” lanjut Pak Sanjaya.

“Apa tidak apa-apa Pak?” tanya Pak Sri ragu. “Tidak apa-apa Pak. Tolong terima tawaran saya ini, sebagai ucapan terima kasih saya pada Zidan dan Sidik” ucap Pak Sanjaya lagi. Akhirnya Pak Sri dan Bu Marni pun bekerja pada Pak Sanjaya. Karena kejujurannya, kehidupan Sidik menjadi lebih baik. Mereka adalah satu dari banyaknya kisah orang baik yang dipertemukan dengan orang baik lainnya.

Baca Juga: Banyak Jalan Menuju Mekkah

 

BekelSego adalah media yang menyediakan platform untuk menulis, semua karya tulis sepenuhnya tanggung jawab penulis.


Like it? Share with your friends!

0

Novice

0 Comments

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *