Mengenal Parkir Bus, Seni Bertahan dalam Sepakbola!

Tidak pernah menang dalam penguasaan bola


0
Italia juara Piala Eropa 2021 (bola.net)

Dalam strategi sepakbola, dikenal istilah karakter menyerang dan bertahan. Setiap tim punya gaya sendiri dalam bermain bola, kalau tidak menyerang ya diserang. Tim boleh berbeda-beda karakter, namun tujuannya sama yaitu mencetak gol, menang dan juara.

Bertahan merupakan salah satu pilihan dalam sepakbola. Pilihan satu lagi ya menyerang. Banyak tim yang menggunakan strategi bertahan, dan banyak kok yang berhasil juara dengan gaya ini. Di Italia seni bertahan dalam sepakbola disebut Catenaccio yang berarti kunci. Di Inggris dikenal dengan “Parkir Bus”. Di Indonesia banyak yang menyebut “Gerendel” yang artinya kunci slot dari logam yang bisa diputar, digeser tapi tidak di celup.

Salah satu negara yang menerapkan gaya bertahan dalam sepakbola adalah Italia, yang merupakan salah satu raksasa sepakbola dunia. Dengan 4 kali gelar juara dunia yaitu ditahun 1934, 1938, 1982, dan tahun 2006. Dan juga 2 gelar juara di piala eropa yaitu tahun 1968 dan 2020. Rentetan gelar dari Italia tersebut membuktikan bahwa seni bertahan dalam sepakbola bukan merupakan hal yang memalukan, tetapi suatu seni dalam sepakbola yang membuahkan prestasi.

1. Teknik pertahanan berlapis

Teknik bertahan dalam sepakbola dengan menumpuk pemain di lini tengah sampai belakang. Penyerang pun harus mau turun ke belakang untuk membantu pertahanan. Ibarat parkir bus, pemain belakang dan tengah disuruh rapat mengisi lahan parkir yang disediakan. Jangan sampai ada sedan yang boleh ikutan parkir disitu.

Seluruh area pertahanan dipastikan terkunci sehingga semua serangan lawan bisa digagalkan. Ada satu pemain belakang yang ditugaskan sebagai sweeper, yang tugasnya sebagai tukang sapu bersih bola untuk diberikan kepada pemain tengah. Jika seorang sweeper sering gagal dalam menjalankan tugas sebagai tukang sapu, dengan ikhlas dia harus rela diganti oleh pemain cadangan yang sedang parkir di pinggir lapangan.

Dalam seni bertahan, dibutuhkan pemain cerdas berkualitas, dan lulus uji emisi untuk dapat memainkan peran sweeper. Barisan pertahanan yang parkir di depan sweeper pun mesti memiliki kemampuan bertahan dan berduel dengan dengan baik. Posisi sweeper tidak selalu berada paling belakang atau diantara barisan pertahanan dan kiper. Sweeper bisa berada sejajar dengan barisan pertahanan, juga bisa berada di depan barisan pertahanan. Dalam hal ini, butuh kejelian sweeper untuk parkir di tempat yang strategis.

Jika sweeper sudah berhasil mendapat bola dari musuh, tugas selanjutnya adalah buru-buru memberikan bola ke pemain yang parkir di lini tengah. Pemain tengah yang mendapat bola dari sweeper memberikan kepada pemain yang parkir di depan. Polanya kemudian berubah menjadi counter attack atau mbalik serang lawan dengan cepat. Pemain depan langsung mengganti transmisi ke nomor 7 untuk mengejar bola dan berusaha mencetak gol

Seni parkir bus dalam sepakbola biasanya menggunakan zona marking, lawan diberikan kesempatan untuk memainkan bola sampai kedalam lingkup sepertiga pertahanan. Jika bola sudah masuk area sepertiga area pertahanan, akan ada pressure yang tinggi untuk berusaha merebut bola. Namun jika ada pemain musuh yang kecil, mungil, dan tengil seperti Messi, ada satu orang pemain yang ditugasi untuk ngintilin terus..

2. Mengandalkan serangan balik dan keberuntungan

Serangan balik menjadi senjata utama dalam seni bertahan. Kunci utama dalam serangan balik adalah mempunyai gelandang dan penyerang yang mempunyai kecepatan untuk berlari cepat. Bola tidak perlu berlama-lama ditahan, dan harus cepat dikirim ke tengah atau kedepan untuk membunuh lawan dengan satu dua sentuhan.

Melawan tim yang dengan naluri menyerang yang tinggi, membutuhkan kesabaran dan kejelian dalam merebut bola. Seni bertahan membiarkan dan memberikan kesempatan lawan untuk membangun serangan dari kaki ke kaki. Selain itu dibutuhkan juga penyerang yang pintar membaca pergerakan pemain belakang lawan agar tidak sering terperangkap dalam jebakan offside.

Tidak jarang juga bola secara buru-buru ditendang dari kiper langsung ke jantung pertahanan lawan, untuk kemudian dikejar dan di eksekusi pemain depan. Hal ini dilakukan jika posisi pemain lawan sudah masuk semua ke dalam area sendiri. Kiper yang berhasil menangkap bola dengan jeli langsung menendang bola kearah gawang lawan.

3. Tidak pernah menang dalam penguasaan bola

Sepanjang pertandingan, tim dengan gaya parkir bus menjadi seperti bulan-bulanan tim lawan. Lawan dengan leluasa mengolah bola dan membangun serangan dari semua sisi lapangan.

Memang tim yang memainkan sepakbola gerendel seperti Italia terlihat membosankan dan tidak menarik. Kalah menarik dibandingkan dengan melihat suporter wanita yang menonton di stadion.  “Lawan boleh menguasai bola sepanjang pertandingan, namun hasil akhirlah yang menentukan” itulah prinsip dalam gaya Catenaccio.

Hasil akhir memang tidak ditentukan dari penguasaan bola dan permainan cantik, namun dilihat dari skor akhir pertandingan. Tidak seperti tim yang bernaluri menyerang yang tinggi, tim yang menerapkan sepakbola gerendel tidak pernah menang dalam selisih gol yang besar.

Namun, jika kita lihat lebih dalam, terdapat keindahan tersendiri dari cara bermain sepakbola gerendel. Bertahan dalam sepakbola adalah suatu seni. Seperti alunan karya Mozart yang yang dimainkan oleh musisi dunia, bergerak seirama mengikuti gerak tongkat sang konduktor. Menghasilkan alunan musik yang enak didengar di malam hari sambil menikmati kopi hitam yang kental.

Baca Juga: 5 Momen Deja Vu yang Pernah Terjadi dalam Sepak Bola


Like it? Share with your friends!

0
Life is Beautiful

0 Comments

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *