4 Perilaku Buruk Anak Yang Tidak Boleh Dianggap Remeh

Perilaku buruk anak kerap kali dianggap wajar dan disepelekan padahal jika dibiarkan perilaku buruk itu akan berlangsung sampai dewasa.


Ilustrasi perlaku buruk anak (pixabay.com/Mandyme27)

Di lingkungan sekitar orang tua kerap sering mengabaikan perilaku buruk anak. Dengan begitu anak cenderung akan mengulangi perilaku buruknya lagi. Dalam pengasuhan perilaku buruk anak tidak boleh dianggap remeh apalagi dibiarkan, harus ada penanganan agar tidak menjadi semakin parah. 

Berikut empat perilaku anak yang tidak boleh dianggap remeh. Simak ya!

1. Suka memotong pembicaraan orang lain

Ilustrasi memotong pembicaraan orang (Pexels.com/Allan Mas) 

Anak yang seperti ini harus segera diberi pemahaman ya moms, untuk menghargai orang yang sedang berbicara karena ditakutkan akan berkelanjutan dan dia jadi dinilai tidak beretika. Anak yang selalu memotong pembicaraan orang lain selalu merasa berhak agar selalu memperoleh perhatian, nantinya anak bisa jadi kurang mampu mengatur emosi dan frustasi serta kesal saat orang lain mengacuhkannya.

Alangkah baiknya, moms sebagai orang tua memberikan pemahaman kepada anak tentang sopan santun dalam memotong pembicaraan. Jelaskan kepada mereka bahwa etika yang tepat untuk memotong pembicaraan orang lain adalah harus diawali dengan kata ‘permisi’ atau ‘maaf’ dan beritahu anak kapan waktu yang dibolehkan untuk memotong pembicaraan.

2. Mengambil milik orang lain tanpa izin

Mengambil barang orang lain (Pexels.com/Victoria Akvarel)              

Moms mungkin tidak pernah mengajarkan hal buruk seperti itu kepada anak, yang ada mungkin moms rajin mengajarkan anak pentingnya sopan santun serta meminta izin. Tapi, kok anak moms malah suka mengambil barang orang lain tanpa izin?

Ini harus segera diluruskan ya moms, jangan dimaklumi karena nantinya dia jadi menikmati kebiasaan ini dan amit-amitnya nanti anak bisa tumbuh menjadi pencuri ataupun kleptomania.

Untuk menangani hal ini, ajak si kecil mengobrol berdua dengan moms. Tanyakan dengan sabar alasan si kecil kenapa mengambil barang orang lain tanpa izin, hindari menunjukan wajah marah dan suara tinggi saat menanyakannya.

Katakan kepada anak bahwa cara itu tidak baik, cobalah ajak si kecil membayangkan bagaimana perasaannya, jika sampai ada yang mencuri mainan kesayangannya. Lalu, ajak sang anak untuk mengembalikan barang yang sudah diambil tanpa izin dan ajarkan anak meminta maaf kepada pemilik barang yang dia ambil. Bila perilaku masih terus berulang, bawalah anak moms ke terapis untuk mencegah kemungkinan dirinya menjadi kleptomania dikemudian hari.

3. Gemar berbohong

Ilustrasi mengajari anak berkata jujur (Pexels.com/Monstera)                        

Anak yang suka berbohong itu lama-lama akan menikmatinya, apalagi ketika sudah terlanjur itu akan sulit untuk dirubah. Orang tua harus menjelaskan kepada anak tentang bedanya kejujuran dan kebohongan, serta untung ruginya berbohong maupun jujur.

Sebagai orang tua pasti kita merasa khawatir kan moms jika si kecil gemar sekali berbohong, oleh karena itu cara yang dapat kita lakukan untuk menghentikannya ialah :

Jika anak bercerita tentang hal yang tidak benar ia alami, orang tua dapat meresponnya dengan memberikan pertanyaan yang tidak bersifat menghakimi. Tapi jika anak berbohong karena menutupi kesalahannya, doronglah anak untuk mengakui kesalahannya serta berikan pujian ketika dia mau berkata jujur.

Hindari memberikan label pembohong atau tukang bohong kepada anak, hal ini akan membuatnya merasa trauma dan bahkan dapat memotivasi dia menjadi lebih banyak berbohong. Sebaiknya, berikan pujian untuknya ketika ia mengatakan hal jujur.

Saat anak berbohong sudah ditahap yang serius, jelaskan apa saja konsekuensinya jika ia berbohong lagi. Agar anak tidak mengulanginya, moms bisa membuat kesepakatan mengenai hukuman apa yang akan diberikan.

Baca Juga:

4. Kasar dengan orang lain

Ilustrasi anak yang kasar (Pexels.com/Helena Jankovičová Kováčová)

Ini harus segera diluruskan karena anak yang kasar itu biasanya adalah anak yang tidak bisa mengelola emosinya. Beri pemahaman bahwa perilaku kasar ini bisa menyakiti orang lain, kita boleh kok marah tapi tidak dengan kasar karena bisa menyakiti orang lain.

Anak-anak sangat mungkin melakukan perilaku kasar kepada temannya, tindakan kasar itu seperti mendorong, menarik atau bahkan melukai temannya. Kalau sudah begini moms perlu bertindak ketika anak bersikap kasar kepada orang lain secara terus-menerus.

Ketika moms melihat anak berperilaku kasar saat bermain, moms perlu langsung menghentikannya. Moms bisa menghampirinya dan ajak berdiskusi tidak perlu memarahinya atau memberikan hukuman fisik karena hal tersebut menjadi contoh perilaku kekerasan bagi anak. Cukup bersikap tegas kepada anak dan konsisten mengarahkan serta memberikan contoh perilaku yang tepat kepada anak, serta berikan apresiasi setiap perilaku positif anak.

Ajarkan anak untuk bisa mengendalikan emosi dengan baik, mengembangkan empati dan keterampilan sosial. Caranya yaitu dengan melibatkannya dalam berbagai kegiatan bersama anak lain seusianya. Ajak si kecil menonton film mengenai contoh perilaku yang baik dan hindari tontonan atau film yang kasar karena perilaku kasar dan pemarah bisa terbentuk karena anak meniru apa yang mereka lihat.

Baca Juga: 5 Langkah Mengembangkan Kemampuan Emosional Anak

BekelSego adalah media yang menyediakan platform untuk menulis, semua karya tulis sepenuhnya tanggung jawab penulis.


Like it? Share with your friends!

Explorer

0 Comments

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *