Menyapa Gerimis Bulan April
Menikmati gerimis pada latar senja yang luruh menjelang malam, bagaikan membaca puisi-puisi tentangmu dengan bibir bergetar.
Menikmati gerimis pada latar senja yang luruh menjelang malam, bagaikan membaca puisi-puisi tentangmu dengan bibir bergetar.
Tanpamu, aku mati layu Denganmu, aku hidup menyatu Bersamamu, aku abadi selalu
Hidup terlalu indah untuk dilewatkan dengan ratapan dan kecaman. Carilah teman seperjalanan yang selalu mengerti dan menemani
Begitu banyak perbedaan membuatku semakin paham. Kita hanya sedang berperan. Menjelma dua insan yang memilih jalan untuk saling merelakan.
Setiap kegembiraan diikuti kesusahan Setiap kesedihan tunggulah saat gembira Setiap sebab pasti menunggu akibat Setiap masalah pasti terjawab penyelesaian
Ku ingin bertemu dan bercerita Berkisah tentang kehidupan dunia Tentang segala hal, cinta dan pertemuan, perjumpaan dan perpisahan hidup di dunia fana ini
Semua hal tentangmu berputar-putar di kepala selaksa bianglala.
Riuh rendah hingga sunyi senyap. Kaki terus melangkah menuju keabadian
Ingin aku tak terpisahkan Walau jarak ada di antara kita Walau apapun yang akan terjadi
Hujan turun di penghujung senja Menampung air mata yang terus mengalir Menanggung beban rasa pedih Akibat berpisah dari rindu
Ketika hujan menjelma patah