Renungan Tentang Kematian

Seperti tusukan 300 pedang ke tubuh, sangat sakit. Itulah renungan tentang kematian


Ilustrasi kematian

Kematian merupakan hal yang sangat ditakuti manusia. Namun semua manusia pasti mengalami kematian. Sesuai dengan apa yang telah ditulis Allah SWT.

“Tiap-tiap yang bernyawa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahala kalian”. (Surat Ali `Imran: 185).

1. Kematian merupakan masalah terbesar dalam kehidupan manusia

Kematian adalah sebuah proses yang harus dilalui manusia. Sebagaimana sebuah proses, akan ada hasil setelah proses tersebut yang akan diketahui setelah kematian.

Didalam kehidupan, manusia selalu menghadapi masalah. Dari yang masalah ringan sampai masalah yang paling berat. Dari yang kecil sampai yang paling besar. Dan kematian merupakan masalah terberat dan terbesar bagi manusia dalam proses kehidupannya.

2. Rasa sakit pada saat kematian

Bisa dibayangkan, ketika malaikat maut mendatangi kita. Tak ada yang mampu kita lakukan. Hanya rasa sakit yang sangat meliputi seluruh tubuh, dari ujung kaki ke kepala. Mulut tak mampu berbicara. Teriakan tolong pun tak mampu kita ucapkan. Kita hanya berhadapan satu lawan satu dengan sang malaikat, tak mampu melawan, tak mampu berlari, sembunyi, teriak minta tolong. Hanya kepasrahan dan kesakitan yang kita rasakan.

Bahkan Nabi Muhammad SAW, seorang ahli surga dicintai Allah, merasakan kesakitan yang sangat ketika beliau wafat. Mungkin saja rasa sakit yang beliau dapat lebih hebat dan lebih menyakitkan dari yang kita rasakan. Karena beliau meminta pada saat kematiannya untuk menimpakan rasa sakit saat kematian semua umatnya kepadanya, jangan pada umatnya.

Rasulullah SAW bersabda bahwa “Sakaratul maut itu sakitnya sama dengan tusukan tiga ratus pedang.” (HR at-Tirmidzi)

Kemudian Baginda Rasulullah bersabda bahwa “Kematian yang paling ringan ibarat sebatang pohon penuh duri yang menancap di selembar kain sutera. Apakah batang pohon duri itu dapat diambil tanpa membawa serta bagian kain sutera yang tersobek?” (HR Al-Bukhari)

3. Kematian adalah pemutus nikmat

Kematian merupakan pisau tajam pemutus nikmat kehidupan di dunia. Semua yang berhubungan dengan dunia, putus seketika. Kecuali 3 hal : Sodaqoh jariah, ilmu yang bermanfaat, dan anak soleh yang mendoakan orang tuanya.

“Di mana pun kalian berada, kematian akan mendapatkan kalian, kendatipun kalian berada di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh”. (Surat An Nisa’: 78)

Proses kematian adalah cermin dari amal kehidupan kita didunia. Jika manusia mempunyai catatan amal yang baik, maka dia akan menemui proses kematian yang indah. Dan sebaliknya, jika manusia mempunyai catatan amal yang buruk, maka ia akan menemui proses kematian yang hina.

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kalian kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kalian mati melainkan dalam keadaan beragama Islam”. (Surat Ali ‘Imran: 102).

Itulah artikel renungan tentang kematian. Selagi kita masih dapat menikmati kehidupan di dunia, pergunakanlah waktu sebaik-baiknya. Waktu tidak akan pernah kembali. Penyesalan tidak akan berdampak apapun.

Manfaatkanlah lima perkara sebelum lima perkara: waktu mudamu sebelum masa tuamu, waktu sehatmu sebelum waktu sakitmu, waktu kayamu sebelum waktu fakirmu, waktu luangmu sebelum waktu sibukmu, dan waktu hidupmu sebelum matimu.” (HR. Al-Hakim dalam Al-Mustadrok, 4: 341. Hadits ini shahih sesuai syarat Bukhari-Muslim).

Baca juga : Antara Klenik dan Kejawen dalam Balutan Islam

BekelSego adalah media yang menyediakan platform untuk menulis, semua karya tulis sepenuhnya tanggung jawab penulis.


Like it? Share with your friends!

Legend

0 Comments

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *