Sekolah Penyumbang Pengangguran Terbesar: Membedah Janji Manis Sekolah


Ilustrasi anak sekolah (pixabay.com/AkshayaPatra Foundation)

Sekolah penyumbang pengangguran terbesar. Pada suatu hari sempat saya didatangi rekan lama, dulu sempat satu kelas dengan dia pada saat saya menempuh pendidikan SMP. Dia datang sambil bercerita tentang nasibnya yang tidak kunjung mendapatkan pekerjaan, sambil menyeruput kopi dia meminta info loker (Lowongan Kerja) kepada saya.

Saya hanya menanggapi dengan kata ringan “Loh ijazahmu kan SMK jurusan TKR kan?”. Setelah saya berkata demikan, dia pun mengatakan bahwa sebenarnya ia tidak benar-benar menguasai apa yang disematkan untuknya sebagai lulusan TKR (Teknik Kendaraan Ringan).

Saya semakin bingung, kenapa setiap lulusan-lulusan sekolah dengan jurusan tertentu seakan susah sekali mencari pekerjaan. Padahal pekerjaan ataupun peluang-peluang pekerjaan itu banyak sekali. Namun entah mengapa mereka seakan kehilangan jiwanya, mereka kehilangan kereativitasannya, serta kehilangan jati dirinya sebagai manusia yang dinobatkan sebagai makhluk paling sempurna diantara ciptaan-ciptaannya.

Baca Juga:

Rupanya lembaga yang selalu mengklaim bahwa dirinya adalah satu-satunya lembaga pendidikan dan yang selalu mengklaim bahwa jika ingin sukses, maka sekolahlah, ternyata benar-benar belum bisa menjawab keinginannya. Lembaga sekolah dengan embel-embel jurusan tertentu atau dengan embel-embel keunggulan tertentu, tak ubahnya hanya sebuah janji manis yang tidak bisa mereka tepati. Buktinya, masih banyak sekali lulusan-lulusan sekolah dengan jurusan tertentu yang bekerja tidak sesuai dengan apa yang sudah ditawarkan oleh sekolahnya. Mirisnya lagi, lulusan-lulusannya juga tidak kalah banyak yang lebih memilih untuk mengadu nasip pada nomor-nomor bodoh.

Ketika saya coba  menyuarakan ini ataupun ada orang lain yang mengatakan bahwa sekolahan itu tak ubahnya hanyalah scam belaka, banyak juga yang menyela bahwa “anda bisa bicara dan berlogika demikian bukankah itu dari pendidikan di sekolah”, Katanya. Oh, jika begitu tidak perlulah sekolah membuat sebuah embel-embel dengan jurusan tertentu. Isilah kegiatan sekolah dengan belajar yang lebih menekankan akan kesadaran lingkungan dan sosial yang kian hari kian memprihatinkan ini. Apakah mereka akan mengiyakan? Tentu tidak!

Dapat dikatakan, mereka menggunakan iklan dengan embel-embel prestasi nasional maupun internasional hanya unuk menjaring siswa sebanyak-banyaknya. Mereka rutin mengadakan acara seremonial dan menampilkan lulusan-lulusannya dengan keahlian-keahlian palsu, karena semakin banyak siswa, semakin besar pula cuan yang akan di dapat.

Jika pun mereka benar-benar ahli mungkin endingnya tetap sama, mereka akan menjadi manusia cerdas yang bisanya hanya menindas, merusak lingkungan, dan memanfaatkan kebodohan orang lain. Selanjunya, lebih dari 90% lulusan-lulusannya menjadi pengangguran. Padahal mereka adalah masyarakat ekonomi kelas bawah, sekolah pun mereka harus menyambi bekerja untuk membayar biaya sekolah, namun entah mengapa setelah mereka lulus malah bingung dengan pekerjaan.

Janji Manis Kesuksesan Harus Sekolah

Percaya atau tidak percaya, mereka yang sudah menjadi alumni sekolah atapun perguruan tinggi sekali pun, mereka selalu terobsesi dengan pekerjaan-pekerjaan yang notabene berdasi atau paling enggak bekerja di ruangan yang ber AC. Hal ini disebabkan karena mereka memiliki selembaran ijazah, yang dulu sebelum mereka masuk sekolah pernah mendengar perkataan :

“Mau jadi apa kamu nak-nak jika tidak sekolah, sekarang tanpa ijazah nyari pekerjaan itu susah!, sekolahlah di tempat kami, maka kamu akan dapat ijazah yang pasti kamu akan jadi sukses”

Akhirnya mereka berlomba-lomba untuk masuk sekolah demi kesuksesan yang katanya akan menhampirinya. Namun, setelah lulus kesuksesan yang mereka obsesikan ternyata tidak kunjung tiba, katanya masih proses, lama kelamaan mereka kembali lagi ke habitatnya. Jika anak petani, maka dia jadi petani, jika kuli akan jadi kuli, jika pedagang akan jadi pedagang dan seterusnya. Jika kenyataannya memang demikian, lantas mengapa tidak mulai saja sejak awal, ketimbang harus masuk sekolah dan mengeluarkan uang banyak.

Baca Juga:

Saya tidak sedang mencoba untuk merendahkan profesi-profesi yang sudah saya sebutkan di atas, saya hanya memberikan sebuah gambaran bagaimana usangnya pendidikan kita dan bagaimaa ketidak singkronan pendidikan kita dengan realitas kehidupan. Mereka mencoba untuk menyeragamkan kopetensi setiap individu dan menafikan, bahwa manusia itu terlahir dengan jalur kesuksesan yang berbeda-beda. Jika pun harus menjadi tukang sapu jalan, petani, tukang, penjual, maka jadilah tukang sapu jalanan, petani, tukang, penjual yang profesional dan penuh kebahagian tanpa rasa penyesalan dari janji manis yang tak didapatkan.

Sekolah seharusnya menjadi gerbang untuk membuka ataupun menumbuhkan sikap kreatif dan inovatif pada setiap siswanya, bukan malah mencetakknya agar menjadi lulusan yang sesuai dengan kegininan yayasan. Aneh memang, terkadang saya bingung apa sekolahan itu tidak tahu atau tidak mau tahu, bahwa mereka saat ini lupa dengan akarnya.

Dahulu sekolahan dijadikan sebagai tempat untuk meluangkan waktu, namun kini dijadikan sebuah tempat yang benar-benar wajib untuk didatangi. Mereka benar-benar menafikan, bahwa alam, lingkungan sekitar, maupun keadaan sekitar bisa dijadikan sebagai tempat untuk belajar. Jadi, belajar bukan melulu datang, duduk, dan diam di sebuah ruangan yang membosankan.

Sekali lagi, sekolah harus menjadi sarana untuk menggali dan mengembangkan potensi diri dari masing-masing peserta belajarmya. Sekolah harus menjadi tempat untuk menanam sikap kreatif, kritis, dan inovatif. Sekolah bukan menjadi penyumbang pengangguran terbesar.

Penyeragaman kecerdasan dan janji manis tentang kesuksesan harus benar-benar dihempaskan jauh-jauh dari sekolah. Toh, sejak dulu sampai sekarang pengangguran tetap merajarela. Apakah ini salah sekolah? Renungkanlah!

Baca Juga: Sekolah Elit Implementasi Sulit, Telaah Terhadap Ekosistem Belajar Yang Menyenangkan

BekelSego adalah media yang menyediakan platform untuk menulis, semua karya tulis sepenuhnya tanggung jawab penulis.


Senior

0 Comments

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *