Review Film Unforgettable / Pure Love – 2016

Curahan kasih sayang yang terlampau berlimpah mungkin terlalu berat, hingga Si Pesakitan tak sanggup untuk menanggungnya.


Unforgettable / Pure Love
  • Judul: Unforgettable/ Pure Love
  • Tanggal Rilis: 24 Februari 2016
  • Produser: Jung Moon Goo, Bang Mi Jung, Joo Pil Hoo
  • Sutradara: Lee Eun Hee
  • Penulis: Hang Chang Hoon dan Lee Eun Hee
  • Durasi: 113 Menit
  • Produksi: Little Big Pictures
***

Orang dalam kondisi sakit, tak berdaya dan lemah, memiliki peluang yang sangat tinggi untuk diistimewakan dan disayang lebih dari yang lainnya. Syaratnya, orang tersebut harus mengiringi sifat dan perilaku tertentu agar ragam simpati banyak berdatangan

Setidaknya, mereka harus bersikap kalem dan mani. Sehingga  orang di sekitarnya merasa betah dan tulus menolong. Namun berhati-hatilah sebab curahan kasih sayang yang berlimpah, mungkin terlalu berat. Sehingga dia yang sakit tak sanggup untuk menanggungnya.

Keadaan itulah yang menimpa anak desa di pulau terpencil bernama Soo Ok (diperankan oleh Kim Soo Hyun). Diluar kendalinya, ia lahir dengan kelainan di kaki. Tepatnya, ia tumbuh sebagai anak cacat, yang jalannya pincang. Soo Ok  pun memiliki trauma masa kecil, dimana ia harus kehilangan ibunya yang hilang ditelan ombak. Ayahnya bahkan tak peduli dan tak mau membiayai pengobatan kakinya Soo Ok.

Dengan kondisi kaki yang pincang, pergerakan Soo Ok pun serba terbatas. Lingkungan temptnya ia tinggal di seputaran pulau yang dipenjara lautan. Ayah Soo Ok pun melarangnya bersekolah di kota seberang pulau. Alasannya karena khawatir nasib putrinya akan seperti istrinya yang hilang ditelan ombak.

Tapi Tuhan maha adil. Di tengah situasi terpenjara tersebut, Soo Ok punya para “Peri” yang selalu mengupayakan segala keinginannya terkabul. Saya bilang “peri”, karena Soo Ok memiliki empat peri sekaligus. Mereka menjelma ke dalam bentuk ” sahabat” yang sama-sama belia dan sebaya Soo Ok atau Anak Baru Gede alias ABG. Peri-peri itu terdiri dari satu perempuan, tiga lelaki.

***

Mari kita urai para peri ini satu per satu. Yang perempuan bernama Gilja (Diperankan oleh Joo Da Young). Ia adalah gadis manis yang cerewet dan blak-blakan bicaranya. Walaupun begitu,  sebenarnya dia sangat perasa dan sensitif.

Peri selanjutnya adalah lelaki bertubuh gempal dan berambut keriting bernama Gaeduk (diperankan oleh David Lee). Gaeduk adalah seorang yang polos dan penurut. Sayangnya dia sering jadi obyek omelan sang kakak yang sejatinya galak.

Selanjutnya ada San Dol (diperankan oleh Yeon Jun Suk) dan Bom Shil (diperankan oleh Do Kyung Soo). San Dol bertubuh jangkung dan atletis, bahkan terkenal sebagai pelari maraton yang andal. Ia bahkan jadi primadona di kalangan para wanita.

Sementara Bom Shill berkepribadian kalem dan pendiam. Selidik punya selidik, peri ketiga dan keempat menaruh hati pada Soo Ok, dengan kadar suka yang sulit dijabarkan. Namun dalam film, sosok Bom Shill-lah yang paling perhatian dan sopan. Ia bahkan sempat berjanji untuk selalu melindungi Soo Ok selamanya. Pergerakan pemuda tersebut dalam menunjukkan cintanya untuk Soo Ok, akan membuat para pemirsa meleleh. Pada akhir film, kita akan tahu kepada siapakan hati Soo Ok  berlabuh.

***

Umumnya drama yang bertemakan ABG, akan banyak bercerita tentang cinta yang berapi-api dan lebay. Rupanya film ini tak mau berfokus ke sana. Justru film ini menekankan pada sisi persahabatan yang kental walaupun agak nekad dan norak. Selain itu, film ini menyajikan rasa kasih sayang yang sangat besar diantara sesamanya bisa dibilang “sayangnya keterlaluan”. Sehingga rasanya tak berlebihan, jika saya menyebut ke-empat ABG itu sebagai para perinya Soo Ok.

Ada sedikit perang batin di benak saya ketika menyaksikan film ini. Di satu sisi, saya sungguh iri dengan keberadaan Soo Ok yang sangat disayang. Sisi lainnya, saya sentimen dengan perilakunya yang tidak bersyukur. Dia tidak menyadari jika dia, memiliki sahabat dan warga kampung yang tulus dan sayang kepadanya. Bahkan saya berpikir, jalinan persahabatan itu jadi menjadi tidak wajar dan bisa menimbulkan penyakit.  

Selain itu, empati saya selalu muncul dan menggebu-gebu. Sejujurnya saya terbawa hanyut dalam romantisme persahabatan di antara mereka, dan terpesona pada ragam momen kebersamaan. Tidak lupa pengorbanan dan keakraban mereka. Walaupun fim ini menyuguhkan cerita flashback, tidak menyurutkan perasaan terharu dalam diri saya. film ini sukses memancing air mata jatuh ketika ada tragedi yang harus mereka lalui di tengah kemesraan yang lama dijalin.

Tragedi macam apakah?

Siapa sangka, Soo Ok begitu bersyukur dan berbahagia mendapatkan rasa sayang dari semua orang . Hal tersebut sekaligus menjadi beban yang berat dan melelahkan baginya. Dia selalu berpikir, bagaimana caranya agar bisa sembuh dan melakukan operasi kaki. Pada suatu waktu, datanglah seorang dokter muda ke pulau, dan membuatnya  yakin bahwa harapannya bisa menjadi nyata.

Keinginan So Ok terus untuk sembuh semakin tumbuh, sebab dia bercita-cita menjadi seorang DJ. Ia ingin bernyanyi sambil memutar musik. Menurut keyakinannya, musik dan lagu adalah benda-benda ajaib. Melalui musik, pesan-pesan bisa tersampaikan dengan baik walau tak berkaki dan bersayap. Sedangkan dengan bernyanyi  perasaan yang dimiliki sekan mampu menjelajah ruang dan waktu tanpa batas.

Lantas tragedi macam apa yang buat saya semakin sedih? 

petunjuknya, tragedi yang membuat jalinan persahabatan para peri jadi berantakan. Penasaran? Silakan tonton sendiri filmnya, ya… 

*** 

Setelah menyaksikan film ini, ada dua perasaan yang bergejolak, yakni simpati dan sentimen. Terutama untuk pemeran utamanya Soo Ok. Betapa saya simpati dengan gadis rapuh dan cacat, dan beruntung karena dikelilingi oleh orang-orang yang tulus menyayanginya. Di sisi lain, saya sentimen dengannya karena menjadi penyulut tragedi yang fatal.  

Terlepas dari jalan ceritanya yang lumayan dramatis, saya mengapresiasi kualitas akting seluruh pemain. sinematografi dan sudut pandang penceritaan pun membuat saya larut dalam momen berkabung dan perasaan simpati. Saya pun akhirnya memaklumi perilaku lebay tapi natural dari para ABG tersebut. Walaupun sebenarnya terjadi krisis pada persahabatan tersebut.

Masa pahit manis di masa ABG  dalam film ini, bisa membuat kenangan yang indah. Ceritanya bisa dibagikan dan menginspirasi kepada para penonton di mana pun berada. Bagi saya, film ini merupakan salah satu film yang diawali dengan kemesraan ala-ala ABG, ditengahi dengan tragedi dan segenap kekhawatiran, lalu diakhiri dengan perenungan yang melegakan melalui saluran radio.

Jangan khawatir! Dalam film ini, kita tak hanya disuguhkan tentang kisah cinta dan persahabatan ala-ala ABG. Visual pemirsa akan dipuaskan dengan keadaan perkampungan korea di era 90-an. Angkatan lama akan berasa nostalgia hanya dengan menonton film ini. Kita akan melihat lagi kaset, radio tape, serta perangkat teknologi era 90-an yang klasik tapi asyik.

Soundtrack filmnya pun indah dan super klasik. Ada Dust in the Wind dari Kansas dan The Water is Wide dari Karla B. Sungguh jadulnya juara.

Kita pun bisa belajar mengenai perilaku bijak dalam memperlakukan ABG di masa itu, serta adat istiadat orang Korea dalam melakukan prosesi pemakaman. Gambaran-gambaran tersebut bisa menggemukkan wawasan sosial kita, bukan?

Akhir kata, ini film sangat direkomendasikan. Bagus untuk menunjang kewarasan kids zaman now, dan  bagus juga untuk penonton zaman old untuk menambah wawasan parenting

Selamat menonton dan mengapresiasi!

Baca Juga: Tawakal Cinta

BekelSego adalah media yang menyediakan platform untuk menulis, semua karya tulis sepenuhnya tanggung jawab penulis.


Like it? Share with your friends!

Senior

0 Comments

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *