Mandi Safar Air Hitam Laut, Tradisi yang Jadi Wisata Masyarakat dan Warisan Tak Benda

Awalnya adalah kebiasaan masyarakat yang melakukan kegiatan khusus pada bulan Safar


1
1 point

Ada beberapa tradisi yang diwariskan secara turun-temurun di Provinsi Jambi, di antaranya adalah Mandi Safar atau belakangan dikenal dengan Festival Air Hitam Laut. Jika dulu kegiatan Mandi Safar hanya sebuah tradisi, seiring berjalannya waktu proses itu kian berkembang menjadi wisata. Hal itu karena ritual tersebut mengundang masyarakat dari berbagai tempat.

Bahkan, kini Festival Air Hitam Laut telah menjadi warisan tak benda yang berasal dari Kabupaten Tanjung Jabung Timur, Provinsi Jambi.

Sejarah Mandi Safar di Air Hitam Laut

Festival Air Hitam Laut atau yang lebih dikenal dengan sebutan Mandi Safar oleh masyarakat setempat selalu dilaksanakan di Desa Air Hitam Laut, Kecamatan Sadu. Kegiatan itu telah menjadi tradisi budaya masyarakat sekitar berawal dari tradisi rumahan.

Ribuan masyarakat dari penjuru wilayah Tanjung Jabung, Provinsi Jambi, dan berbagai tempat, setiap tahunnya berbondong ke Desa Air Hitam Laut. Festival Air Hitam Laut itu biasanya dilangsungkan di pertengahan bulan Safar, itu juga yang membuatnya dikenal dengan nama Mandi Safar. Tahun ini, festival itu kembali ramai, setelah dua tahun berturut-turut terbatas karena pandemi Covid-19.

Lalu, bagaimana sejarah atau awal mula tradisi Mandi Safar bagi masyarakat Air Hitam?

Munculnya tradisi ini diawali oleh kebiasaan masyarakat untuk melakukan kegiatan khusus pada bulan Safar, biasanya di pertengahan atau akhir bulan Safar. Dulunya, Mandi Safar hanya tradisi yang dilakukan masyarakat dari rumah ke rumah, sebelum menjadi acara besar. Merunut cerita lama warga setempat, tradisi Mandi Safar yang dilakukan masyarakat Air Hitam Laut ini bermula pada tahun 1964 silam. Dulu, Mandi Safar cuma dilakukan oleh para tetua dan hanya menaungi lingkup kecil.

Sekitar tahun 1980-an, barulah tradisi rumahan tersebut mulai disatukan dan dijadikan ajang tahunan yang terbuka untuk umum. Hingga saat ini, tradisi itu dikenal sebagai Festival Air Hitam Laut atau Mandi Safar.

“Dari dahulu sampai saat ini meskipun di konsep menjadi sebuah festival, namun tetap tidak mengubah dari inti kegiatan tersebut yaitu sebagai tolak bala dan tradisi budaya, bukan syariat agama,” demikian penuturan tokoh agama yang juga Pimpinan Pondok Pesantren Wali Petu, As’ad Arsyad dalam sebuah wawancara.

Baca Juga: Akulturasi Budaya Jawa dengan Islam Melalui Ketupat

Kegiatan Mandi Safar

Dalam tradisi Mandi Safar, ada beberapa kegiatan yang dilakukan. Kata As’ad, ada tiga esensi, yakni berniat mandi, mandi, dan membaca doa dengan bacaan doa yang ditulis pada lembaran daun. Hal itu dilakukan dengan harapan untuk terhindar dari bala dan marabahaya.

Selain pembacaan doa dan mandi bersama di pantai, ada tradisi yang juga tak luput dari perhatian pelancong yang berkunjung ke sana. Ada sebuah menara tunggal yang diarak menuju laut saat proses mandi Safar berjalan. Menara itu memiliki tiga tingkatan dan pondasi empat sisi dengan diameter lebih kurang lebih 2 meter.

Masing masing sudut atau sisi memiliki makna tersendiri. Pada bagian Menara Tunggal menyiratkan bahwa Tuhan yang wajib disembah itu satu atau esa, yakni Allah SWT. Sementara itu, tiga tingkatan melambangkan Iman, Islam, dan Ihsan. Sedangkan pada bagian bawah yang memiliki empat penjuru melambangkan empat unsur penciptaan manusia.

Dalam bahasa Suku Bugis, yang sebagian besar mendiami kawasan Desa Air Hitam Laut, empat unsur itu disebut “Selapapa” yang memiliki arti empat unsur penciptaan manusia, yakni: Tanah, Air, Api dan Alam.

Menurut tokoh masyarakat setempat, pengertian Festival Air Hitam Laut atau Mandi Safar ini bukanlah syariat atau kegiatan ibadah, melainkan tradisi yang dapat merekatkan hubungan wathaniyah masyarakat. Tradisi budaya masyarakat yang telah ada sejak puluhan tahun silam, hanya saja dibalut dalam kemasan berbeda.

Selain beberapa tahapan di atas, ada satu hal dalam tradisi Mandi Safar yang juga telah dilakukan sejak beberapa tahun lalu, yaitu penulisan lafadz doa melalui selembaran daun mangga. Doa yang ditulis dalam 1000 lembaran daun mangga sendiri merupakan lafadz Allah yang dikemas dalam sebuah doa.

Ada tujuh ayat yang diawali dengan kata salamun yang nantinya digunakan pada saat hendak melaksanakan Mandi Safar. Dalam penulisan doa-doa yang menggunakan huruf Arab tersebut, pihak penyelenggara sengaja melibatkan para santri di pondok-pondok pesantren setempat. Tujuannya, agar tidak terjadi kesalahan dalam penulisan ayat tersebut.

Ada beberapa perbedaan esensi Mandi Safar yang dilakukan dahulu dan sekarang. Dulu, mandi safar diyakini sebagai bagian dari ajaran agama. Namun berdasarkan pengkajian mendalam, tidak ditemukan satu hadits pun yang memerintahkan untuk Mandi Safar. Oleh karena itu, penyelenggaraan Mandi Safar belakangan dilakukan semata-mata untuk mempertahankan tradisi lokal sebagai perekat antar masyarakat.

Jadi Objek Wisata Masyarakat

Festival Air Hitam Laut atau Mandi Safar kini menjadi objek wisata masyarakat. Ada tradisi unik yang menarik minat masyarakat datang ke sana, selain seperti poin-poin yang dijelaskan di atas.

Dalam rangkaian Festival Air Hitam Laut, setelah acara dibuka, terdapat sebuah menara dengan aneka buah dan telur rebus digiring ke bibir pantai. Hidangan berbentuk menara itu nantinya akan diserbu masyarakat yang telah berkumpul di pinggir pantai sebagai rangkaian festival dan bagian hiburan bagi masyarakat di antara kegiatan Mandi Safar.

Hal ini pun menarik minat masyarakat dari berbagai kalangan, mulai dari masyarakat sekitar, hingga luar Pulau Sumatra.

Lokasi Mandi Safar

Sebagai informasi, Desa Air Hitam Laut terletak di bibir pantai di bagian timur Provinsi Jambi. Mayoritas masyarakat di sana bekerja sebagai petani dan nelayan. Tradisi Mandi Safar merupakan satu di antara agenda tahunan tahunan yang ditunggu-tunggu masyarakat setempat.

Untuk mencapai lokasi tersebut, para pelancong perlu melalui jalan yang cukup jauh dari Kota Jambi, dengan jalan darat dan laut.

Jika melewati jalur darat, pelancong harus melewati Taman Nasional Berbak Sembilang (TNBS) dan memakan waktu sekitar tiga jam. Akan tetapi, jika melewati jalur sungai atau laut, perlu melalui perjalanan lima jam dengan perahu cepat atau speed boat.

Mandi Safar Jadi Warisan Budaya tak Benda

Pemerintah Provinsi Jambi melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata telah menetapkan Mandi Safar sebagai satu di antara Warisan Budaya tak Benda (WBTB) Indonesia. Selain Mandi Safar, ada Kesenian Kulintang Perunggu yang juga telah masuk daftar WBTB.

Penetapan Dua Karya Budaya tersebut setelah melalui sidang penetapan Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) tahun 2022 yang diinisiasi oleh Direktorat Perlindungan Kebudayaan, Dirjen Kebudayaan, Kemendikbud Ristek RI yang digelar di Jogjakarta, pada beberapa waktu lalu.

Sebagai informasi, ada lima karya budaya asal Provinsi Jambi yang diajukan pada saat sidang penetapan, yakni dua diantaranya berasal dari Kabupaten Tanjabtim dan selebihnya dari Kabupaten Tebo, Bungo, dan Merangin.

Penetapan Mandi Safar Air Hitam Laut sebagai Karya Budaya pada sidang penetapan WBTB Indonesia ini dilakukan karena merupakan budaya tradisi yang masih hidup di tengah masyarakat dan telah berakar secara turun temurun.

Baca Juga: Antara Klenik dan Kejawen dalam Balutan Islam

 

BekelSego adalah media yang menyediakan platform untuk menulis, semua karya tulis sepenuhnya tanggung jawab penulis.

Like it? Share with your friends!

1
1 point

Novice

0 Comments

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *