Minyak dunia tidak bergerak sembarangan. Di balik distribusi energi global, terdapat jalur-jalur utama yang menjadi tulang punggung perdagangan minyak dunia. Jalur ini dikenal sebagai oil transit chokepoints, yaitu titik sempit strategis yang dilalui sebagian besar arus minyak global.
Berdasarkan data Badan Administrasi Informasi Energi Amerika Serikat (Energy Information Administration/EIA) pada paruh pertama 2025, total volume minyak yang melewati jalur-jalur ini mencapai sekitar 79,8 juta barel per hari. Angka ini menunjukkan betapa krusialnya peran chokepoints dalam menjaga stabilitas pasokan energi dunia.
Beberapa jalur bahkan mendominasi arus perdagangan minyak global. Selat Malaka menjadi yang paling sibuk dengan volume mencapai 23,2 juta barel per hari, diikuti oleh Selat Hormuz sebesar 20,9 juta barel per hari. Keduanya merupakan jalur vital yang menghubungkan kawasan produsen dan konsumen energi terbesar di dunia.
Melansir Britannica, berikut daftar jalur distribusi minyak dunia pada paruh awal 2025 beserta volume minyak yang didistribusikan.
1. Selat Hormuz
Selat Hormuz terletak di antara Oman dan Iran yang menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman dan Laut Arab. Selat ini cukup dalam dan lebar untuk dilalui kapal tanker minyak terbesar di dunia, sehingga menjadikannya salah satu chokepoint minyak paling penting secara global.
Volume minyak yang melintasi selat ini sangat besar. Jika jalur ini ditutup, alternatif yang tersedia hanya mampu mengalihkan sebagian kecil dari total volume tersebut.
Pada paruh pertama 2025, total aliran minyak melalui Selat Hormuz rata-rata mencapai 20,9 juta barel per hari, setara dengan sekitar 20 persen konsumsi minyak cair global dan seperempat dari total perdagangan minyak laut dunia.
Baca Juga:
2. Terusan Suez dan Pipa SUMED
Terusan Suez dan pipa Sumed merupakan jalur strategis untuk pengiriman minyak dan gas alam dari Teluk Persia ke Eropa. Pada paruh pertama 2025, total pengiriman minyak melalui jalur-jalur ini menyumbang sekitar 6 persen dari total perdagangan minyak melalui laut.
Terusan Suez dan pipa SUMED berada di Mesir dan menghubungkan Laut Merah dengan Laut Mediterania. Pipa SUMED dimiliki oleh Mubadala Energy mengalirkan minyak mentah ke arah utara melintasi Mesir, dari pelabuhan Ain Sukhna ke Sidi Kerir, dengan kapasitas sekitar 2,5 juta barel per hari.
3. Selat Bab el-Mandeb
Selat Bab el-Mandab yang terletak di antara Tanduk Afrika dan Timur Tengah, adalah salah satu chokepoints minyak yang paling genting di dunia saat ini. Hanya 18 mil lebar pada titik tersempit, Bab el-Mandab menghubungkan Laut Merah ke Teluk Aden dan akhirnya ke Samudera Hindia. Ketidakstabilan atau penutupan Selat bisa memaksa kapal tanker harus perjalanan sekitar ujung selatan Afrika.
Catatan EIA, sebagian besar lalu lintas menuju selatan melalui Terusan Suez juga harus melewati Bab el-Mandab. Diperkirakan, sekitar 4,2 juta barrel per hari minyak yang di distribusikan melalui jalur ini
4. Selat Malaka
Selat Malaka merupakan selat yang menghubungkan Samudra Hindia dan Samudra Pasifik. Jalur ini menjadi pemasok minyak dan gas alam dari Timur Tengah dengan pasar yang berkembang di Asia Timur dan Asia Tenggara.
Selat ini merupakan jalur sempit atau chokepoint utama di kawasan Asia dan Oseania, dengan perkiraan aliran minyak mencapai 23,2 juta barel per hari pada paruh pertama 2025, atau setara dengan 29 persen dari total perdagangan minyak laut global. Rute alternatif selain Selat Malaka mencakup dua chokepoint yang lebih kecil di Samudra Pasifik dalam wilayah Indonesia, yaitu Selat Sunda dan Selat Lombok.
5. Selat Denmark
Selat Denmark adalah serangkaian saluran yang menghubungkan Laut Baltik dengan Laut Utara. Secara historis, Selat Denmark merupakan rute penting bagi ekspor minyak Rusia melalui jalur laut ke Eropa sebelum pola perdagangan global berubah.
Diperkirakan 4,9 juta barel per hari minyak mentah dan produk minyak bumi melewati Selat Denmark pada paruh pertama 2025, setara dengan 6 persen perdagangan maritim global.
6. Selat Turki
Selat Turki mencakup jalur perairan Bosporus dan Dardanelles, masing-masing juga dikenal sebagai Selat Istanbul dan Selat Canakkale yang memisahkan Asia dari Eropa. Bosporus adalah jalur air sepanjang 27 kilometer laut yang menghubungkan Laut Hitam dengan Laut Marmara.
Sementara Dardanelles adalah jalur air sepanjang 60 kilometer laut yang menghubungkan Laut Marmara dengan Laut Aegea dan Laut Mediterania. Lebih dari 45.000 kapal melintasi selat ini pada tahun 2024, menjadikannya salah satu titik sempit maritim tersibuk di dunia.
Baca Juga:
7. Terusan Panama
Terusan Panama menghubungkan Samudra Pasifik dengan Laut Karibia dan Samudra Atlantik. Terusan ini memiliki panjang 80 kilometer, dan titik tersempitnya adalah Culebra Cut, sekitar 114 kilometer di sepanjang Continental Divide.
Lebih dari 2,3 juta barel per hari minyak bumi dan cairan lainnya diangkut melalui terusan ini pada tahun fiskal 2025, yang sebagian besar merupakan produk minyak olahan.
8. Tanjung Harapan
Tanjung Harapan yang terletak di ujung selatan Afrika Selatan merupakan jalur perdagangan global utama dan titik transit penting bagi pengiriman kapal tanker minyak dan LNG di seluruh dunia. Diperkirakan sekitar 9,1 juta barel per hari minyak mentah dan produk minyak yang diperdagangkan melalui jalur laut, atau 11 persen dari seluruh perdagangan minyak via laut, melewati rute di sekitar tanjung ini.
Tanjung Harapan juga berfungsi sebagai jalur sekunder untuk minyak jika chokepoints utama Terusan Suez atau Bab el-Mandab ditutup. Tapi rerouting minyak di sekitar Tanjung Harapan akan meningkatkan biaya karena akan menambah jarak perjalanan 2.700 km transit dari Arab Saudi ke AS, menurut EIA.
Baca Juga: 8 Fakta Menarik Selat Hormuz, Jadi Penentu Harga Minyak Dunia

0 Comments