5 Sikap Menghadapi Eccedentesiast, Jangan Bersedih Terus ya!

Berpura-pura merasa baik saja itu baik, namun apakah selamanya bersikap Eccedentesiast seperti itu


Ilustrasi Eccedentesiast (Pixabay.com/pexels)

Pernahkah kamu duduk di dekat jendela kamar tidurmu dalam gelap? Tidak dapat tidur dan kamu hanya merasakan kecemasan. Melamun ke celah terdalam dari pikiran. Dan pada akhirnya otakmu dipaksa untuk berpikir suatu hal yang tidak ada ujungnya.

Ini bukan perasaan sedih sebenarnya, tetapi kamu ingin menangis, tetapi tidak ada air yang berfungsi. Tak ada lagi air mata yang harus ditumpahkan. Mata kering gurunmu menatap malam. Kamu hanya ingin tersenyum secara nyata, tetapi kamu tidak bisa hanya karena orang lain tidak ingin tahu kamu sedang bersedih atau bahkan tidak ada yang peduli dengan kesedihanmu. Pada akhirnya kamu memilih menutupi semua kesedihan itu dengan senyuman.

Ini adalah salah satu bagian dari bagaimana rasanya mengalami penyakit mental. Jangan sampai kamu terus sakit hanya karena sikap sendiri atau menjadi Eccedentesiast terus-menerus.

Eccedentesiast sendiri berasal dari bahasa Latin yang intinya berarti seseorang yang selalu menyembunyikan rasa sakit di balik senyuman. Jadi, seseorang yang melakukan hal ini itu selalu berusaha untuk terlihat bahagia, padahal dia sedang mempunyai masalah dalam hidupnya.

Bagi kamu yang merasa Eccedentesiast ada pada diri kamu, Yuk simak cara menghadapinya!

1. Pahami kesedihan yang dirasakan.

Ini cara yang sangat penting. Bila kita tidak tahu rasa sedih yang kalian alami, kamu tidak akan tahu harus bagaimana lagi. Seperti halnya sakit di tubuh. Kalau tidak bisa merasakan dari mana sakit berasal dan sakitnya seperti apa, otomatis memilih obatnya juga sulit karena obat itu mempunyai fungsi masing-masing.

2. Ambil sisi positif dari rasa sedih itu.

Kamu tidak akan mungkin bisa terhindar dari rasa sedih. Namun, kita bisa mengambil sisi positif dari hal tersebut. Jangan sampai berlarut-larut. Contohnya kita bisa menjadikan sedih ini sebagai motivasi bila sedih kamu itu gagal dalam satu hal.

3. Mencoba luapkan atau ceritakan.

Mungkin, bagi orang yang sudah lama mengalami eccedentesiast, agak susah untuk melakukan hal ini. Alasannya beragam, seperti tidak mau merepotkan orang lain dan lebih parahnya dikecewakan saat dia percaya kepada orang untuk bercerita, tapi malah dikhianati. Mungkin butuh waktu lama untuk bisa menemukan orang yang bersedia dan menjaga cerita kita. Namun, solusi ini sangat besar peluangnya untuk kamu setidaknya merasakan lega saat kesedihanmu terluapkan.

4. Ambil pena lalu tulis

Selanjutnya ini, bisa menjadikan pilihan buat kamu yang belum menemukan orang tepat untuk meluapkan kesedihanmu. Sama halnya dengan poin sebelumnya, tetapi kamu meluapkan kesedihan lewat tulisan. Pastinya, hal ini bisa kamu percayai tulisanmu tidak akan mengkhianatimu. Meski tidak mendapat solusi setidaknya kamu bisa lega bisa meluapkannya.

5. Biasakan menolak, jika hal itu sakit

Orang yang mengalami Eccedentesiast cenderung susah menolak permintaan dari orang lain, seperti minta tolong. Meski akan berdampak buruk bagi dirinya, seorang Eccedentesiast justru memilih itu dibanding menolak permintaan orang lain. Memang baik jika kita menolong, tapi tolong orang lain sewajarnya saja.

Dari poin-poin tips tersebut patut dicoba, karena ada kalanya berpura-pura itu lelah dan kita butuh tempat dimana kamu bisa menjadi diri sendiri dengan keadaan yang sebenarnya. 

Kamu mungkin bisa menampung rasa itu, walaupun berat. Namun semakin hari semakin bertambah. Kamu akan kuat menampung di awal tetapi ke depannya mungkin kamu akan rapuh dan capek.

Semoga tips-tips tersebut berguna bagi kamu yang mengalami Eccedentesiast.

Baca Juga: Gangguan Mental Pada Remaja Yang Wajib Diketahui

BekelSego adalah media yang menyediakan platform untuk menulis, semua karya tulis sepenuhnya tanggung jawab penulis.


Like it? Share with your friends!

Novice

5 Comments

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *