Tempat yang memiliki sebuah lonceng kecil di atas pintunya. Begitu aku masuk, aku langsung disambut oleh sebuah papan yang bertuliskan SEMUA SETARA. Itu kata-kata yang memberiku semangat.
Tapi siapa yang tidak cemas hidup di dunia yang begitu lemas ini? Siapa? Tolong aku, Ruh! Tolong aku.
Menjadi anak baik seolah sudah ditakdirkan untukku. Anak baik adalah anak yang tidak begitu banyak bicara, selalu menuruti perkataan orang tua, guru, atau atasan.
Aku dengar sendiri, beberapa hari yang lalu, ada seorang penyair datang kemari dan menghujatnya habis-habisan lewat tulisan
“Aku bawakan untukmu, Alzela : sebuah pengharapan yang tersimpan dalam kelam.”
Halaman kertas putih itu telah terisi sepenuhnya. Tulisan Maruta, sebagaimana yang diajarkan ayahnya, kecil-kecil dan tertata rapi. Hampir tidak ada yang melenceng seperti jalan menurun atau jalan menanjak. Semuanya lurus.
Di luar. Sebuah peristiwa liris giris gerimis. Seorang ayah memaku diri di balik jendala. Menatap hamparan kosong dengan tatapan kosong. Tubuhnya gemetar. Lututnya kaku. Dan, di dalam kepala raja itu berkelebatan pertanyaan-pertanyaan muskil: Bijakkah keputusanku?
“Sebaik-baiknya manusia adalah orang yang diberi panjang umur dan baik amalannya, dan sejelek-jeleknya manusia adalah orang yang diberi panjang umur dan jelek amalannya.” (HR. Ahmad).
Sama seperti Stasiun Harajuku dan Hongdae Street
Yang pasti aman dilihat, karena debu-debu sisa komet habis terbakar pada ketinggian di atas 80 km
