Travel

Menjelajahi dan Merasakan Suasana Djakarta Tempo Doeloe di Kawasan Kota Tua Jakarta

Kota Tua, dahulunya bernama Batavia Lama, merupakan wisata bersejarah dengan arsitektur bangunan-bangunan tempoe doeloe, terletak sekitar 15 meter dari Stasiun Jakarta Kota. Lokasi ini akan sangat ramai saat weekend atau tanggal merah. Rata-rata pengunjungnya bervariasi mulai dari anak-anak hingga dewasa.

Kota Tua Jakarta atau yang akrab disebut Kota Tua adalah sebuah wilayah kecil di Jakarta yang memiliki luas 1,3 kilometer persegi yang melintasi Jakarta Utara dan Jakarta Barat, mencakup daerah Pinangsia, Taman Sari dan Roa Malaka.

Kota Tua Jakarta merupakan sebuah kawasan yang masih lekat dengan unsur sejarah dan budaya baik itu Belanda maupun China. Wilayah Kota Tua ini telah resmi dijadkan sebagai situs warisan oleh Gubernur Jakarta Ali Sadikin pada tahun 1972.

Peresmian Kota Tua sebagai situs budaya ini untuk menjaga arsitektur yang berada di dalam wilayah Kota Tua. Arsitektur bangunan yang berada di kawasan ini memang sangat melegenda dan kental dengan nuansa Belanda. Beberapa bangunan yang bisa dikunjungi saat berkunjung ke Kota Tua antara lain.

1. Museum Fatahillah

Museum Fatahillah yang juga dikenal sebagai Museum Sejarah Jakarta atau Museum Batavia adalah sebuah museum yang terletak di Jalan Taman Fatahillah No. 2, Jakarta Barat dengan luas lebih dari 1.300 meter persegi.

Gedung ini dulu adalah sebuah Balai Kota (bahasa Belanda: Stadhuis) yang dibangun pada tahun 1707-1710 atas perintah Gubernur Jendral Johan van Hoorn. Bangunan itu menyerupai Istana Dam di Amsterdam, terdiri atas bangunan utama dengan dua sayap di bagian timur dan barat serta bangunan sanding yang digunakan sebagai kantor, ruang pengadilan, dan ruang-ruang bawah tanah yang dipakai sebagai penjara. memiliki gaya bangunan neoklasik dengan tiga lantai di dalamnya.

Museum ini dahulunya merupakan stadhuis atau tempat berkumpulnya kegiatan masyarakat seperti pasar atau pekan raya dan juga bekas Dewan Keadilan.

Baca Juga:

2. Museum Wayang

Letak bangunan gedung Museum Wayang di Jl. Pintu Besar Utara No. 27. pada mulanya merupakan lokasi gereja tua yang didirikan VOC pada tahun 1640 dengan nama “ de oude Hollandsche Kerk “ sampai tahun 1732 yang berfungsi sebagai tempat untuk peribadatan penduduk sipil dan tentara bangsa Belanda yang tinggal di Batavia.

Pada tahun 1733 gereja tersebut mengalami perbaikan, dan namanya dirubah menjadi “ de nieuwe Hollandsche Kerk “ dan berdiri terus sampai tahun 1808. Di halaman gereja ini yang sekarang menjadi ruangan taman terbuka Museum Wayang, di dalamnya terdapat taman kecil dengan prasasti-prasastinya yang berjumlah 9 ( sembilan ) buah yang menampilkan nama-nama pejabat Belanda yang pernah dimakamkan di halaman gereja tersebut.

Museum wayang menyimpan berbagai koleksi wayang dari seluruh Indonesia. Koleksi-koleksi tersebut terdiri atas wayang kulit, wayang golek, wayang kardus, wayang rumput, wayang janur, topeng, boneka, wayang beber dan gamelan. Umumnya boneka yang dikoleksi di museum ini adalah boneka-boneka yang berasal dari Eropa meskipun ada juga yang berasal dari beberapa negara non-Eropa seperti Thailand, Suriname, Tiongkok, Vietnam, India dan Kolombia. Museum Wayang sendiri diresmikan oleh Gubernur Jakarta saat itu yaitu Ali Sadikin pada tanggal 13 Agustus 1975.

3. Museum Bank Indonesia 

Museum ini dahulu kala adalah rumah sakit Binnen Hospital. Dalam perjalanannya, bangunan rumah sakit dialihfungsikan sebagai sebuah bank yang bernama De Javasche Bank pada tahun 1828. Dalam sejarah perbankan Indonesia, museum ini adalah awal kehadiran Bank Indonesia. Di masa Indonesia baru merdeka, pusat pengendalian ekonomi dan moneter dilakukan di museum ini. Beroperasi sebagai bank sentral di bangunan museum, tahun 1962 kantor Bank Indonesia pindah ke lokasi dan bangunan yang baru.

Di museum, sistem gerak bermain dan ruang teater menceritakan tentang Nusantara sebelum kedatangan orang-orang barat. Sistem gerak bermain lainnya terletak di ruang numismatik, memberikan informasi tentang cara kerja bank. Ada replika kapal sampah Jawa yang membawa rempah-rempah yang dipamerkan.

Museum ini juga memiliki koleksi unik “Keping Cinta”. Ini adalah koin Kasha dari Banten abad ke-16. Koin tembaga memiliki lubang di tengahnya, dengan prasasti “pangeran ratu” dalam karakter Jawa di sekitar lubang.

4. Jembatan Kota Intan

Selanjutnya adalah jembatan Kota Intan (Kote Inten, sebutan dengan dialek Betawi). Jembatan ini merupakan jembatan Jungkat, saat kapal-kapal melewati kali besar jembatan terangkat. Meski sekarang tidak berfungsi lagi. Asal usul kata Kota Intan konon di tempat itu terdapat Diamond Castile, yang merupakan kediaman jenderal-jenderal Belanda.

Namun, ketika pusat pemerintahan Batavia dipindahkan ke pusat kota Weltevreden (di derah Lapangan Banteng dan sekitarnya), Gubernur Willem Daendels mulai menghancurkan Kastil Intan tersebut. Usai menyusuri Jembatan Kota Intan, selanjutnya kembali menuju ke Taman Fatahillah dengan persinggahan sejenak ke Gedung Cipta Niaga.

5. Museum Bahari

Bangunan berlantai tiga ini didirikan tahun 1652 oleh pemerintah kolonial Hindia-Belanda di Batavia. Tepatnya di jalan Pasar Ikan Jakarta Utara, menghadap Teluk Jakarta. Di sebelah kanan tak jauh dari gudang induk dibangun menara. Sekarang dikenal dengan nama Menara Syahbandar dibangun tahun 1839 untuk proses administrasi keluar masuknya kapal sekaligus sebagai pusat pengawasan lautan dan daratan sekitar.

Di antara materi sejarah bahari yang dipajang antara lain perahu tradisi asli Lancang Kuning (Riau), Perahu Phinisi Bugis (Sulawesi Selatan), Jukung Karere (Irian) berukuran panjang 11 meter. Miniatur Kapal VOC Batavia, miniatur kapal latih Dewa Ruci, biota laut, foto-foto dan sebagainya. Museum ini selain sebagai pusat informasi budaya kelautan, juga menjadi tempat wisata pendidikan bagi leluhur baru yang ingin mengetahui lebih banyak mengenai sejarah kebaharian bangsa tempo dulu.

6. Museum Bank Mandiri

Terletak di seberang stasiun Kota. Koleksi yang ditampilkan merupakan rekaman coretan sejarah perkembangan perbankan dunia. Ada barang yang dipamerkan berupa mesin hitung kuno, komputer dan pencetakan yang berusia cukup tua. Museum Bank Mandiri buka setiap Selasa-Minggu, pukul 9.00–16.00 dengan tiket masuk Rp2.000,00 untuk umum dan gratis untuk pelajar dan nasabah yang menunjukkan kartu Anjungan Tunai Mandiri dari Bank Mandiri. Di dalam Museum Bank Mandiri ini kita bisa melihat mesin-mesin dan kegiatan perbankan dari jaman dahulu sampai sekarang.

Baca Juga:

7. Museum Seni Rupa dan Keramik

Museum Seni Rupa dan Keramik menempati sebuah bangunan tua yang didirikan pada 1870. Awalnya gedung ini dibangun untuk Ordinaris Raad van Justitie Binnen Het Casteel Batavia (Dewan Kehakiman pada Benteng Batavia). Tahun 1944 digunakan oleh tentara KNIL, dan selanjutnya oleh TNI. Pada 1973-1976 dimanfaatkan sebagai Kantor Wali Kota Jakarta Barat, dan pernah juga dimanfaatkan oleh Pemda DKI Jakarta sebagai kantor Dinas Museum dan Sejarah. Tahun 1976 bangunan tua ini diresmikan sebagai Balai Seni Rupa Jakarta dan pada 1990 menjadi Museum Seni Rupa dan Keramik.

Koleksi Museum Seni Rupa dan Keramik berupa hasil karya para pelukis dari berbagai periode seperti Raden Saleh, Affandi, Basuki Abdullah, S. Sudjojono, Hendra Gunawan, dan para pelukis era 80-an seperti Dede Eri Supria. Oleh karena itu pada museum ini dapat dilihat perkembangan seni lukis di Indonesia.

Selain lukisan, Museum Seni Rupa dan Keramik juga memiliki koleksi patung dan keramik, di antaranya adalah patung karya perupa terkemuka Indonesia G. Sidharta. Koleksi keramik cukup beragam yang berasal dari berbagai daerah di Nusantara dan keramik asal mancanegara seperti Eropa, China, Vietnam, Thailand, dan Timur Tengah. Koleksi terbanyak berasal dari China terutama masa Dinasti Ming.

8. Kali Besar (Wisata Sungai Kota Tua)

Terletak di dekat Halte Busway Kali Besar Barat. Ada taman apung berwarna putih diatas sungai yang memperindah pemandangan disana. Ada juga beberapa tempat duduk yang dibuat menjorok ke arah sungai menyerupai balkon, spotnya keren banget! Tapi sayang beribu sayang. Sungainya sih bersih, tapi baunya cukup menyengat, apalagi saat cuaca panas.

Kita tinggal menyeberangi sungai melalui Jembatan Budaya yang luas dan indah. Di sepanjang jalan di pinggiran sungai berdiri dengan megah gedung-gedung jaman dulu bergaya Eropa, sepertinya itu dulunya restoran, kafe, toko, dsb.

9. Pelabuhan Sunda Kelapa

Pelabuhan Sunda Kelapa di Jakarta adalah sebuah pelabuhan yang dahulu telah menghubungkan Indonesia dengan dunia luar. Pelabuhan ini adalah tempat persinggahan banyak kapal mancanegara yang datang untuk perdagangan.

Pelabuhan historis di Jakarta ini bahkan telah ada jauh sebelum kota Jakarta itu ada. Eksistensi Pelabuhan Sunda Kelapa berjalan dari masa ke masa, mulai dari kerajaan Pajajaran, kedatangan Portugis, kekuasaan Kerajaan Demak, hingga penjajahan Belanda. Saat ini, pelabuhan Sunda Kelapa adalah bagian dari wisata Jakarta yang menarik untuk dikunjungi.

Baca Juga:

10. Cafe Batavia

Setelah lelal mengelilingi kawasan kota Tua, saat nya untuk bersantai dan menikmati suasana Djakarta Tempo Doeloe di Cafe Batavia. Cafe Batavia merupakan tempat yang nyaman untuk kita menikmati suasana klasik dalam melakukan plesiran di Kota tua Jakarta.

Cafe Batavia menyajikan banyak menu makanan dan minuman, dari menu makanan tradisional hingga menu makanan eropa, begitu juga dengan minuman yang tersaji dalam daftar menu Cafe Batavia. Hal ini kita dapat mengetahui dari setiap daftar menu yang disediakan oleh pihak Cafe Batavia kepada setiap pengunjung yang hadir di Cafe Batavia.

Kita dapat merasakan suasana yang berbeda pada saat kita mauk di Cafe Batavia. Kita dapat menikmati pemandangan klasik yang tertata rapih dan penuh dengan seni. Hampir di setiap dinding dalam Cafe Batavia dapat kita lihat koleksi foto tokoh-tokoh besar pejabat dan artis ternama.

Cafe Batavia menyediakan tempat-tempat husus bagi para pengunjungnya. Bagi pengunjung yang ingin mendapatkan kebebasan dalam menikmati ruangan bebas rokok, maka Cafe Batavia menyediakan tempat untuk para penikmat tembako dan cengkeh berada di lokasi lantai dasar Cafe Batavia.

Lantai 2 (dua) Cafe Batavia hanya di peruntukan bagi pelanggan yang membutuhkan tempat yang bebas asap roko. Kita dapat memilih tempat yang mana yang kita sukai. Untuk menuju lantai 2 (dua) kita akan menaiki anak tangga yang dilapisi dengan karpet dan berpemandangan unik. Di mana kita dapat menyaksikan hiasan album foto di dinding anak tangga menuju lantai 2 (dua).

Banyak menu menarik yang dapat kita coba di Cafe Batavia. Bukan hanya menu makanan dan minuman. Di Cafe Batavia ini kita dapat merasakan atmosfer yang berbeda. Karena di Cafe Batavia bukan hanya menu makanan yang menarik, tapi suasana yang nyaman kita akan mendapatkan di ruangan ini. Tempat yang bersih dan unik disertai dengan suasana yang dapat menghantarkan kita merasakan pada zaman kolonial penjajahan Belanda.

Baca Juga: 5 Destinasi Wisata Iptek di Jabodetabek, Piknik Sambil Riset

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Articles

Back to top button