Social & Culture

Bikin Kangen Masa Kecil, 11 Aturan Sepak Bola Anak Zaman Dulu Yang Bikin FIFA Nangis

Anak anak main bola ilustrasi e1783568597746
Ilustrasi Anak-anak main sepak bola (Dagelan.co)

Pertandingan sepak bola menurut banyak sumber sudah ditemukan dari ribuan tahun lalu. Bangsa-bangsa di seluruh dunia kabarnya sudah memainkan bola sejak zaman dahulu kala.

Saat ini pertandingan sepak bola memiliki aturan yang terukur. Dikutip dari FIFA, aturan dasar sepak bola hampir di seluruh dunia seragam. Tapi tunggu dulu, di Indonesia aturan sepak bola memiliki hal berbeda, utamanya saat kita masih anak-anak.

Sebagai nostalgia ke zaman dulu, berikut beberapa aturan sepak bila yang dimainkan oleh anak

1. Si gemuk jadi penjaga gawang

Bagi bocah yang memiliki berat badan di atas rata-rata, dia bakal jadi orang yang ditunjuk untuk jadi penjaga gawang. Semua pemain yang ikut bermain satu suara dan si bocah mau tak mau harus mengikuti.

Alasannya sederhana dan sedikit kocak: badannya yang besar dianggap bisa menutupi sebagian besar ruang gawang. Meski kadang merengut, si gemuk biasanya pasrah demi bisa ikut bermain. Anak yang gemuk, juga biasanya gak bisa lari dengan cepat, atau baru 5 menit main langsung ngos-ngosan.

Filosofi Viking Row, Ritual Sakral yang Jadi Simbol Kebangkitan Timnas Norwegia

Baca Juga:

2. Gawang gunakan benda apapun

Inilah uniknya anak zaman dulu. Saat bermain sepak bola, bocah-bocah ini tak pernah kebingungan andai di lapangan tidak memiliki gawang. Benda apapun bakal jadi penanda gawang, mulai dari batu, kayu, sandal jepit, sampai sampah. Soal ukuran tinggi gawang? Itu diukur dari tinggi lompat si kiper.

3. Sandal jepit jadi sarung tangan kiper

Kiper profesional punya sarung tangan mahal berbahan lateks, sedangkan kiper masa kecil zaman dulu punya sandal jepit swallow. Agar tangan tidak sakit saat menahan tendangan jarak dekat yang super kencang, sandal jepit dilepas dan digenggam di kedua tangan. Efektif? Tidak juga. Ikonik? Sangat.

4. Jarang pelanggaran lebih banyak handsball

Tekel sekeras apa pun hingga lutut berdarah biasanya dianggap biasa saja, paling hanya dianggap “kena bola”. Namun, jangan harap bisa lolos kalau bola menyentuh ujung kelingking tangan sedikit saja. Teriakan “Handsball!” akan menggema dari segala penjuru lapangan, disusul perdebatan sengit yang bisa mengalahkan drama VAR.

5. Yang punya bola yang menentukan siapa yang main

Dia adalah kasta tertinggi di lapangan, sang pemilik bola. Dia punya hak veto absolut. Dialah yang menentukan siapa saja yang boleh masuk timnya, siapa yang harus jadi musuh, dan siapa yang hanya boleh menonton di pinggir lapangan.ย 

Beda Usia Hampir Dua Dekade! Ini Sosok Pemain Tertua dan Termuda di Piala Dunia 2026

6. Pertandingan berakhir jika waktu adzan magrib atau si pemiliki bola dipanggil orang tua

Sepak bola masa kecil tidak mengenal waktu 2 x 45 menit. Pertandingan hanya akan selesai oleh dua force majeure: berkumandangnya adzan Magrib, atau teriakan kencang dari ibu salah satu anak yang menyuruhnya pulang untuk mandi. Emang cuma suara azan magrib dan emak-emak yang bisa membubarkan pertandingan tersebut.

7. Kiper berubah-ubah tergantung kebutuhan tim

Jika seorang kiper sering kebobolan, ia bisa digantikan oleh bocah lain. Kebanyakan bocah yang jadi bek yang bakal jadi kiper pengganti.

Tidak ada istilah kuota pergantian pemain habis. Begitu gawang kebobolan berturut-turut karena kipernya “blunder”, posisi kiper langsung digeser. Biasanya, bek tangguh yang frustrasi melihat gawangnya kebobolan akan langsung mengambil alih posisi tersebut.

8. Titik penalti di ukur dari 12 langkah yang kadang tiap langkah berbeda-beda

Ketika terjadi pelanggaran di area dekat gawang atau area penalti, penentuan titik tendangan dilakukan dengan metode melangkah. Masalahnya, anak yang bertugas melangkah sering kali sengaja memperlebar atau mempersempit langkah kakinya demi keuntungan timnya sendiri. Biasanya menggunakan 12 langkah, atau tergantung luas lapangan yang digunakan.

9. Dilarang pakai sepatu, wajib nyeker

Sepak bola kampung sangat mendukung kesetaraan, dan kesetaraan itu dicapai dengan cara mencopot alas kaki. Memakai sepatu bola (bahkan sepatu sekolah) dianggap “curang” dan berbahaya bagi tulang kering teman yang lain. Nyeker alias bertelanjang kaki adalah kewajiban. Urusan jempol kaki berdarah karena tersandung batu, itu urusan belakangan setelah pulang ke rumah.

Baca Juga:

10. Kalau ada anak perempuan, semua yang main bisa berubah jadi Ronaldo atau Messi

Suasana lapangan yang tadinya biasa saja bisa langsung berubah 180 derajat ketika ada anak perempuan lewat atau menonton di pinggir lapangan. Seketika, semua anak mendadak mengeluarkan kemampuan terbaiknya. Dribbling sok keren, tendangan salto yang gagal, hingga lari sekencang angin diperlihatkan demi mencuri perhatian.

11. Tidak ada offside

Aturan paling rumit dalam sepak bola modern ini sama sekali tidak berlaku di masa kecil kita. Konsep offside terlalu membingungkan untuk diterapkan di lapangan tanpa garis pertahanan. Alhasil, strategi “striker malas” yang kerjaannya hanya berdiri diam di dekat gawang lawan sambil menunggu umpan adalah strategi paling jitu dan sering menghasilkan gol.

Baca Juga: 7 Permainan Anak Tradisional dan Makna Filosofis Yang Tersirat di Dalamnya

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

ร—
ร—