Perang iran versus Israel dan Amerika Serikat (AS) menjadi kekhawatiran besar dunia tahun 2026 ini. Setelah berbulan-bulan perang meletus, belum ada tanda-tanda mereda.
Jauh sebelum Revolusi Islam meletus pada 1979, Iran sudah beberapa kali mengalami perang panjang, termasuk saat masih bernama Persia.
Persia adalah sebutan kuno untuk wilayah yang sekarang dikenal sebagai Iran. Nama “Persia” berasal dari Parsa, wilayah di Iran barat daya yang menjadi pusat awal kekaisaran Persia kuno. Dari wilayah inilah lahir beberapa kekaisaran besar seperti Achaemenid, Parthia, dan Sassania, yang pernah menguasai wilayah luas di Asia dan Afrika Utara.
Selama berabad-abad, dunia kuno menyaksikan duel antara dua kekuatan terbesar di Eurasia yakni Kekaisaran Romawi dan Kekaisaran Persia. Kedua imperium ini berhadapan langsung di Timur Dekat dan terlibat dalam konflik panjang yang berlangsung lebih dari enam abad.
Sejak Revolusi Islam pada 1979, Iran menjadi salah satu aktor paling aktif dalam berbagai konflik di Timur Tengah. Berikut beberapa negara di Timur Tengah yang pernah perang melawan Iran.
1. Arab Saudi
Arab Saudi Bisa dibilang jika konflik antara Arab Saudi dengan Iran ini adalah yang paling terkenal sepanjang negara-negara Timur Tengah. Banyak pihak yang menyebutkan jika konflik ini terjadi atas dasar perbedaan kepercayaan. Meskipun kedua negara sama-sama merupakan negara mayoritas muslim, Arab Saudi yang mayoritas memegang kepercayaan Sunni dan Iran yang mayoritas memegang kepercayaan Syiah membuat kedua negara ini kerap bergesekan dan beradu pandangan.
Iran dan Arab Saudi memang tidak berperang secara langsung namun mereka kerap terlibat dalam berbagai perang proksi (konflik di mana mereka mendukung pihak lawan dan milisi) di wilayah tersebut. Konflik keduanya sebenarnya sudah mulai terlihat ketika perang Irak dan Iran terjadi sepanjang tahun 1980-1988. Pada perang itu Arab Saudi bersama dengan AS secara terang-terangan memberikan dukungannya pada Irak yang dipimpin pemimpin Sunni, Saddam Hussein.
Gesekan keduanya semakin jelas terlihat ketika Arab Saudi semakin berani dengan dukungan dari pemerintahan Donald Trump, sementara Israel, yang memandang Iran sebagai ancaman mematikan, dalam arti tertentu “mendukung” upaya Saudi untuk membendung Iran.
Tidak hanya itu, Israel dan Arab Saudi juga menjadi negara yang menentang perjanjian internasional tahun 2015 yang membatasi program nuklir Iran, dan bersikeras perjanjian tersebut tidak cukup untuk menghilangkan peluang Iran mendapatkan bom tersebut.
Tidak cukup sampai disitu, Arab Saudi juga sempat menuduh Iran memasok rudal balistik yang ditembakkan ke wilayah Saudi oleh gerakan pemberontak Houthi. Iran juga dituduh mengerahkan kekuatannya di jalur perairan strategis di Teluk, yang menjadi jalur pengiriman minyak dari Arab Saudi.
2. Bahrain
Konflik antara Bahrain dengan Iran sebenarnya terjadi belum lama ini. Dimulai dari pihak berwenang Bahrain mengumumkan penangkapan lima anggota kelompok teroris yang terkait dengan setidaknya satu serangan bom di Bahrain di tahun 2015 lalu.
Mereka meyakini jika kelompok teroris itu menerima bantuan dan pelatihan dari Hizbullah Lebanon dan Garda Revolusi yang berbasis di Iran. Dari peristiwa itu, akhirnya pada tanggal 4 Januari 2016, Bahrain memutuskan hubungan diplomatik dengan Iran, dengan alasan “campur tangan Iran yang terang-terangan dan berbahaya” di Bahrain dan negara-negara Arab lainnya.
Bahrain melakukan pemutusan hubungan tersebut setelah Arab Saudi memutuskan hubungan diplomatik dengan Iran. Menurut The New Arab, tidak mudah bagi Bahrain dan Iran untuk mengatasi masalah serius dalam hubungan bilateral mereka bahkan jika hubungan Riyadh dan Teheran mencair secara signifikan.
Dari sudut pandang Teheran, Bahrain bersalah karena membawa aktor-aktor eksternal yang bermusuhan (misalnya AS dan Israel) ke Teluk, dan secara langsung mengancam Iran. Namun kini Iran dan Bahrain telah memulihkan hubungan diplomatik. Iran juga telah menjalin kembali hubungan diplomatik dengan Arab Saudi setelah dimediasi oleh China.
3. Irak
Perang ini dimulai ketika Irak menyerang Iran, memicu salah satu konflik paling brutal di kawasan. Selama delapan tahun, ratusan ribu hingga jutaan orang tewas. Kontribusinya mencapai sekitar 70 persen dari total korban jiwa akibat perang di dunia Arab pada periode tersebut. Ironisnya, tidak ada pihak yang benar-benar keluar sebagai pemenang.
Awal mula perang dipicu oleh keinginan Irak untuk menguasai Sungai Shatt al-Arab, jalur air yang dibentuk oleh pertemuan Sungai Tigris dan Efrat, yang ujung selatannya menjadi perbatasan antara kedua negara. Wilayah itu terkenal memiliki sumber minyak yang besar. Sementara itu, di sisi lain terjadi revolusi besar-besaran Islam Syiah di Iran pada tahun 1979.
Kala itu Sayyid Ruhullah Musavi Khomeini atau Imam Khomeini berhasil menggulingkan pemerintah Iran pimpinan Mohammad Reza Shah Pahlevi, yang dinilai sebagai sekutu Amerika Serikat (AS). Bagi Saddam Hussein yang mengandalkan dukungan Muslim Sunni, revolusi Syiah Iran akan menyuburkan revolusi Syiah di Irak dan akan menggulingkan kekuasaannya. Kondisi inilah yang mengakibatkan perang panjang antara Irak dan Iran.
4. Israel
Hubungan Israel dan Iran awalnya erat sejak tahun 1950-an saat Iran masih diperintah Shah Mohammad Reza Pahlavi. Namun, Revolusi Islam Iran tahun 1979 mengubah segalanya. Pemerintahan baru Iran menyerukan penghancuran Israel dan menuduh negara Yahudi itu sebagai kekuatan imperialis di Timur Tengah. Iran kemudian mendukung kelompok-kelompok yang memusuhi Israel, seperti Hamas, Hizbullah, dan Houthi.
Israel menganggap kemungkinan Iran memiliki senjata nuklir sebagai risiko eksistensial. Pejabat Israel berulang kali menyatakan bahwa jika Iran mendekati kemampuan senjata nuklir, mereka akan menyerang program nuklir Iran, seperti yang dilakukan terhadap reaktor Irak pada 1981 dan situs nuklir Suriah pada 2007.
Benturan langsung pertama terjadi pada April 2024 saat Iran meluncurkan serangan besar berupa rudal dan drone ke Israel. Serangan ini dipicu oleh serangan udara dua pekan sebelumnya terhadap kantor diplomatik Iran di Damaskus, Suriah, yang secara luas diyakini dilakukan Israel meski tidak diakui.
Perang Iran dan Israel kembali terjadi awal tahun 2026, tepatnya pada 28 Februari 2026 Saat itu militer AS dan Israel melancarkan serangan udara dan rudal yang menarget pangkalan militer, fasilitas pertahanan, serta struktur kepemimpinan Iran dalam operasi militer bersama yang disebut Operation Lion’s Roar. Serangan ini memicu balasan dari Iran yang melancarkan gelombang rudal balistik dan drone ke wilayah Israel, pangkalan militer AS, dan negara sekutu di kawasan Teluk sebagai respons atas agresi tersebut.
Baca Juga: 8 Jalur Distribusi Minyak Dunia Paling Vital, Mampu Mengubah Jalannya Perang!

0 Comments