Bukan Cuma Manusia, Ternyata Tumbuhan Juga Punya Jadwal Puasa

Ternyata bukan hanya kita yang berpuasa, tanaman juga melakukan berpuasa agar bisa beradaptasi terhadap lingkungan dan bisa tumbuh lebih optimal.
Kenapa beberapa tumbuhan harus berpuasa? Kalau tidak puasa, apa dampaknya?
Aktivitasnya melambat, pertumbuhan berhenti sementara, penggunaan air dihemat, dan tanaman memakai cadangan makanan agar tetap hidup. Namun, saat air dan nutrisi kembali tersedia, tanaman akan aktif tumbuh lagi seperti normal.
Baca Juga:
Bagaimana cara tumbuhan berpuasa?
Selain manusia dan hewan, tanaman juga memiliki mekanisme puasa yang disebut dengan dormansi, di mana biji tidak selalu tumbuh alami dan membutuhkan lingkungan yang tepat untuk mulai berkecambah.
Selama masa dormansi, metabolisme tanaman diperlambat dan biji mengandalkan cadangan pada keping biji atau kotiledon.
Tanaman melakukan puasa sebagai respons terhadap lingkungan yang ekstrem, seperti musim dingin yang membeku atau musim kemarau yang panjang.
Di daerah ekuator seperti Indonesia, Brasil, dan Afrika, dalam setahun mengalami dua musim, yakni panas dan hujan. Di daerah subtropis seperti Eropa, Jepang, dan Amerika Serikat, mengalami empat musim dalam setahun, yaitu musim dingin, musim semi, musim panas, dan musim gugur.
Dengan adanya perubahan musim tersebut, semua makhluk hidup perlu beradaptasi sesuai dengan lingkungannya masing-masing. Oleh karena itu, puasa merupakan salah satu cara terbaik untuk mereka beradaptasi.
Tanaman yang berpuasa artinya mereka akan menghentikan produksinya pada kondisi lingkungan yang tidak nyaman sehingga perubahan musim ini menyebabkan terjadinya perubahan ketersediaan tanaman sebagai sumber makanan hewan.
Selain itu, tanaman yang tumbuh di daerah tropis juga melakukan hal yang sama untuk beradaptasi dengan perubahan musim. Setiap jenis tanaman memiliki siklus musim berbunga dan berubah. Hal inilah yang membuat Indonesia banyak mengenal berbagai musim seperti musim rambutan, durian, atau panen raya padi.
Berikut jenis-jenis puasa yang biasa terjadi pada tumbuhan, sebagai bentuk adaptasi terhadap lingkungannya.
1. Dormansi biji
Dormansi berarti tidur, mengurangi aktivitas pertumbuhan, atau bisa disebut juga “berpuasa tumbuh”. Biji akan dorman saat berada dalam kondisi lingkungan sekitar yang tidak cocok untuk perkecambahan. Misalnya, biji jatuh di bebatuan atau tanah yang kering akan menyebabkan biji “berpuasa” atau tidak banyak melakukan aktivitas pertumbuhan. Ada dua hormon penentu kapan biji harus “berpuasa” atau berkecambah, yakni asam absisat (ABA) dan giberelin. Kadar ABA tinggi menyebabkan biji tetap “berpuasa”, dan sebaliknya, giberelin yang tinggi akan membuat biji berkecambah.
2. Dormansi tunas
Tunas adalah bagian ujung dari tumbuhan, yang biasanya ada di batang, daun, atau akar. Tunas disebut dorman saat meristem atau jaringan tumbuhan yang aktif membelah, tidak bekerja. Dormansi tunas umum terjadi pada pohon yang hidup di negeri empat musim, seperti pohon poplar (Populus tremula) atau sakura (Prunus serrulata), saat mereka memasuki musim dingin.
3. Absisi atau menggugurkan daun
Jika kamu pernah melihat pohon-pohon menggugurkan daun, itu juga adalah salah satu bentuk “puasa” tumbuhan. Daun adalah “dapur” tumbuhan tempat mereka memasak bahan-bahan “makanan” yang diperoleh dari tanah (air) dan udara (karbon dioksida) dengan bantuan cahaya matahari. Proses memasak ini disebut sebagai fotosintesis.
Jika tumbuhan tidak punya bahan-bahan makanan, maka “dapur” mereka akan “ditutup” sementara dengan cara menggugurkan daun. Strategi ini membantu tumbuhan menghemat air dan energi agar mereka bisa bertahan hidup lebih lama.
Contoh tumbuhan yang berpuasa
Berikut beberapa contoh tumbuhan yang sudah terbiasa melalukan puasa:
1. Pohon Jati
Di Indonesia, pohon jati adalah ahli puasa saat musim kemarau. Mereka menggugurkan seluruh daunnya hingga tampak seperti pohon mati. Hal ini dilakukan untuk mencegah penguapan air yang berlebihan. Begitu hujan turun, mereka “berbuka” dengan menumbuhkan tunas-tunas hijau yang baru.
2. Kaktus
Kaktus melakukan puasa transpirasi secara permanen. Daunnya berubah menjadi duri untuk meminimalkan kehilangan air. Kaktus berpuasa dengan cara menyimpan air dalam jumlah besar di batangnya yang berdaging (sukulen) dan hanya melakukan aktivitas metabolisme tertentu pada malam hari agar tidak kehilangan cairan di bawah terik matahari.
3. Tanaman umbi-umbian (singkong, bawang, talas)
Saat cuaca tidak mendukung, bagian atas tanaman ini akan layu dan hilang dari permukaan tanah. Namun, mereka tidak mati. Mereka berpuasa di dalam tanah dalam bentuk umbi, menunggu suhu dan kelembapan yang tepat untuk tumbuh kembali.
4. Lidah buaya
Lidah buaya merupakan tanaman sukulen yang mampu menyimpan air di dalam daun tebalnya. Jaringan daunnya dirancang untuk mampu menyimpan air dalam waktu yang lama. Lidah buaya sangat tahan kekeringan, dan tidak perlu sering disiram
5. Jagung
Jagung memiliki sistem akar serabut yang luas dan kuat, sehingga mampu menyerap air dari area tanah yang lebih besar. Tanaman jagung sangat toleren terhadap kekeringan ringan, terutama setelah fase awal pertumbuhan
Baca Juga:
6. Pophon Baobap
Pohon Baobab menyimpan air di dalam batangnya yang besar untuk bekal menghadapi kemarau panjang. Pohon ini disebut juga semi-sukulen atau tanaman yang mampu menyimpan air. Kerabatnya dari jenis sukulen sejati, seperti kaktus, melakukan hal serupa untuk bertahan di lingkungan yang gersang.
7. Pohon kedondong
Sama seperti pohon jati, pada musim kemarau untuk mempertahankan hidupnya pohon kedondong harus rela menggugurkan daunnya agar dia bisa bertahan hidup. Begitu hujan, pohon kedondong akan kembali rimbun
Baca Juga: Beda Dengan Fotosistesis, Mengenal Sistem Respirasi Pada Tumbuhan
















