Sport

Ide Dari Lampu Lalu Lintas, Awal Mula Penggunaan Kartu Kuning dan Merah Dalam Sepak Bola

Sepak bola  merupakan olahraga yang sudah sangat terkenal hingga ke pelosok dunia. Anak kecil hingga orang tua memainkannya. Tak dapat di pungkiri memang sepak bola merupakan olahraga nomor satu di setiap negara. Bahkan ada satu kata bijak ‘Sepak bola sebagai Pemersatu bangsa’.

Dalam sepak bola dan juga olahraga yang lain tentu mengenal peraturan peraturan yang sengaja dibuat. Peraturan tersebut dibuat agar permainan menjadi lebih menarik, menghindari risiko cidera, dan tentunya agar pemain lebih fair play.

Salah satu aturan dalam sepak bola yang paling terkenal adalah penggunaan kartu kuning dan kartu merah di setiap pertandingan.

Fungsi kartu kuning dan kartu merah dalam sepak bola

Dalam sepak bola dikenal aturan kartu kuning dan merah dalam memberikan hukuman. Tentu saja keluarnya kartu ini dari kantong wasit diawali dari proses peringatan hingga langsung dikeluarkan jika proses terjadinya pelanggaran dipandang oleh wasit membahayakan pemain lawan.

Kartu kuning dan merah dalam sepak bola berukuran 6cm x 12cm, digunakan oleh wasit untuk memberikan hukuman kepada pemain yang melakukan pelanggaranBiasanya, wasit menghentikan pertandingan, kemudian memanggil pemain yang bersalah, mengeluarkan kartu, dan menulis nama pemain turun dalam sebuah buku catatan.

Kartu Kuning dikeluarkan untuk memberikan peringatan serius kepada pemain agar tidak mengulangi pelanggaran kembali. Sedangkan Kartu Merah diberikan untuk pelanggaran fatal, dan pemain harus meninggalkan permainan (pemain tidak dapat diganti pemain cadangan). Setelah kartu diberikan, sebagai hukuman maka diberikan tendangan langsung atau tidak langsung.

Baca Juga:

Awal mula kuning dan kartu merah dalam sepak bola

Awalnya, pada tahun 1966 terjadi pertandingan perempat final piala dunia antar tuan rumah Inggris melawan tamunya timnas Argentina. Wasit yang pada saat itu memimpin jalannya pertandingan adalah Rudolf Kreitlein. Wasit asal Jerman.

Karena melakukan pelanggaran keras, kapten tim Argentina, Antonio Rattin, terpaksa harus dikeluarkan dari pertandingan oleh sang wasit. Perbedaan bahasa membuat sang kapten tidak mengerti apa yang dimaksudkan oleh sang wasit. Wasit asal Jerman itu hanya mengerti bahasa Inggris dan Jerman. Sang Kapten pun tidak segera meninggalkan lapangan.

Wasit asal Inggris yang pada saat itu kebetulan bertugas, Ken Aston, dengan modal bahasa Spanyol yang tidak begitu fasih ia masuk ke lapangan dan merayu sang kapten Antonio Rattin untuk segera meninggalkan lapangan.

Baca Juga:

Dari kejadian itu, Ken Aston mulai berpikir bahwa harus ada alat komunikasi universal yang dapat diketahui oleh semua orang ketika sang wasit memberikan peringatan kepada pemain atau mengeluarkannya dari lapangan. Dengan begitu, sang wasit tidak perlu lagi membuat penjelasan dengan bahasa yang mungkin tidak diketahui oleh pemain.

Suatu hari, di perempatan sebuah jalan, Ken Aston melihat lampu lalu lintas. Ide muncul dibenaknya. Ia berpikir bahwa warna dapat dijadikan bahasa universal yang dapat dengan mudah dimengerti banyak orang. Jawabannya adalah warna merah dan warna kuning. Bila pemain melakukan pelanggaran, maka harus diberi peringatan keras maka kartu kuning yang harus dikeluarkan. Dan apabila pemain melakukan pelanggaran berat, maka kartu merah yang harus dikeluarkan dan pemian harus keluar dari lapangan.

Ken Aston pun segera mengirim idenya itu ke asosiasi sepakbola internasional yaitu FIFA. Idenya itupun langsung disetujui oleh pihak FIFA. Maka pada piala dunia tahun 1970, kartu kuning dan kartu merah pertama kalinya digunakan. Ironisnya, sepanjang Piala Dunia 1970 tak satu pun pemain yang terkena kartu merah. Hanya kartu kuning yang sempat dilayangkan sehingga kartu merah tak bisa dipamerkan pada Piala Dunia 1970.

Ada lagi satu hal unik lainnya. Meskipun ide tersebut datang dari wasit Inggris, negeri itu tak serta-merta menerapkannya di kompetisi mereka. Kartu merah dan kuning baru digunakan di kompetisi sepak bola Inggris pada 1976. Pasalnya, wasit kemudian terlalu mudah mengeluarkan kartu dan diprotes banyak pemain. Oleh sebab itu, penggunaannya sempat dihentikan pada 1981 dan 1987.

Baca Juga: Kisah Sukses Ricardo Kaka, Pemain yang Terlalu Sopan di Era Sepak Bola Modern

Fransisca Dewi

Doyan traveling, dan kuliner

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Articles

Back to top button