LifeParenting

6 Cara Efektif Mendisiplinkan Anak di Rumah, Mulailah dari Diri Orang Tua

Pernahkah kita memikirkan bagaimana agar anak patuh terhadap larangan dan perintah orang tua? Bagi Anda yang memiliki anak usia 2 sampai 4 tahun, tentu mengerti bagaimana kesibukan mereka. Fase di mana anak sangat aktif dan menguras kesabaran orang tua.

Namun tahukah Anda, para orang tua banyak yang tidak menyadari bahwa di usia tersebut, mereka sedang mematangkan tumbuh kembang. Mengumpulkan informasi dari lingkungan sekitar, yang akan menjadi sifat bawaan mereka setelah dewasa nanti.

Tentunya, kita sebagai orang tua menginginkan anak yang disiplin, mandiri, dan bertanggung jawab. Pada ulasan kali ini, redaksi akan mengulas tips bagaimana cara mendisiplinkan anak di rumah, yaitu berawal dari diri orang tua. Simak selengkapnya ulasan berikut.

1. Menjadi orang tua yang dipercayai anak

Anak adalah seorang peniru dan perekam. Seringkali kita para orang tua meremehkan apa yang ada di dalam pikiran anak-anak, menganggap sepele tindakan-tindakan kecil orang dewasa yang berarti besar bagi anak-anak. Contohnya adalah perilaku berbohong.

Banyak yang tidak sadar bahwa anak-anak mampu merekam setiap kebohongan-kebohongan yang dilakukan orang tua mereka. Tidak mungkin seorang anak dapat mempercayai orang tua, atau patuh ketika disuruh dan dilarang, jika orang tuanya sendiri tidak dapat dipercaya.

Untuk mendapatkan kepercayaan penuh dari anak, tentunya orang tua harus meminimalisir kebohongan-kebohongan dengan metode komunikasi yang baik. Kebohongan yang dilakukan itu tidak melulu soal janji akan membelikan sesuatu, tapi nyatanya tidak ditepati.

Baca Juga:

2. Jangan menjadi orang tua yang suka berbohong

Namun, kebohongan bisa jadi adalah larangan-larangan orang tua pada anak yang dilanggar sendiri oleh para orang tua. Misalnya, anak dilarang membeli es krim, dilarang meminta mainan, atau larangan sejenisnya. Akan tetapi lain hari orang tua terus saja melanggar.

Jika orang tua sendiri ingin membelikan anaknya es krim, mengapa harus ada larangan? Hal yang seharusnya dilakukan agar tidak muncul kebohongan tersebut adalah melakukan metode komunikasi yang baik. Sampaikan alasan mengapa tidak boleh membelinya, dan kapan anak bisa membelinya.

Anak yang terbiasa dengan komunikasi yang baik, tentu akan lebih mengerti apa yang disampaikan orang tua. Dan lagi-lagi, minimalisir kebohongan, jangan sampai anak kehilangan kepercayaannya. Anak dapat mematuhi karena paham untuk apa dia patuh.

3. Selalu tepati janji dengan anak

Bagaimanapun bentuknya, tindakan berbohong tetap tidak dibenarkan sekalipun kepada anak-anak. Mungkin, dengan membohongi anak akan hal yang sepele seperti membelikan permen jika berhenti menangis, terkesan wajar. Namun, hal itu bisa saja menjadi bumerang.

Jika orang tua tidak menepati janjinya setelah anak melaksanakan apa yang diperintahkan, atau tidak menangis, rewel, artinya orang tua telah berbohong. Namun, jika janji itu ditepati, anak sesungguhnya tidak menilai apa yang diberikan, akan tetapi ucapan orang tuanya.

Ucapan orang tua yang sungguh-sungguh dan yang berbohong tentu memiliki penilaian di mata anak. Mereka akan menerapkan kepercayaan pada setiap momen bersama orang tuanya, dan anak-anak yang tidak patuh menurut ahli parenting adalah anak yang sering dibohongi.

4. Ajari anak untuk menjadi pribadi yang bertanggung jawab

Orang tua menjadi faktor kunci keberhasilan seorang anak dalam menjalani kehidupan sosialnya. Apakah ia akan menjadi pribadi yang malas, pekerja keras, ramah, kasar, disiplin, menyepelekan, bertanggung jawab, atau sebaliknya. Pendidikan orang tua sangat menentukan.

Sebagus apa pun kurikulum yang diterapkan sekolah pilihan orang tua, pendidikan di rumah tetap tidak bisa digantikan dengan metode apa pun. Contoh paling sederhana untuk mendidik anak agar bertanggung jawab adalah meminta maaf, berterima kasih, dan meminta tolong.

Saat orang tua berbuat kesalahan sekecil apa pun pada anak, ringankanlah hati untuk mengatakan “maaf”. Kata sederhana yang mungkin sulit bagi sebagian orang tua. Minta tolonglah sebelum menyuruh, dan berikan rasa terima kasih saat pekerjaan anak selesai.

5. Memahami konsep berpikir anak-anak

Anak-anak memiliki cara berpikir yang berbeda dari orang dewasa. Mereka belum mengerti konsep waktu, tentang berapa lama, besok, atau nanti. Ketika mereka menginginkan sesuatu, ingin bermain atau makan, tentu mereka tidak mengerti apa itu ‘nanti’.

Anak belum bisa mengerti konsep waktu, biasanya saat mereka berumur 2-3 tahun. Meski demikian, hal yang mereka pahami adalah rutinitas, urutan kegiatan yang dilakukannya bersama orang tua. Bangun, olahraga, mandi, bermain, makan, tidur siang, dan seterusnya.

Oleh karena itu, ajarkan anak untuk disiplin, sehingga orang tua bisa mengarahkan anak lebih mudah tentang kapan ia harus mendapatkan apa yang ia inginkan. Misalnya, anak ingin makan es krim, orang tua bisa katakan “setelah makan siang”, alih-alih mengatakan “nanti.”

Baca Juga:

6. Nasihat bagi orang tua untuk selalu bersabar

Terakhir sebagai penutup, untuk mendisiplinkan anak hendaknya sebagai orang tua selalu bersabar menghadapi buah hati. Tidak semua anak cocok dengan metode parenting di atas, karena setiap anak memiliki karakteristiknya masing-masing. Menerapkan ketegasan pada anak tidak harus kaku atau kasar.

Sebagaimana nasihat yang ada dalam hadis Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, diceritakan oleh Ummu Fadhl, suatu ketika beliau menggendong seorang bayi, kemudian Nabi mengambil bayi tersebut untuk digendongnya, dan tiba-tiba bayi tersebut pipis di baju Nabi.

Kemudian, Ummu Fadhl berusaha menarik, menyingkirkan bayi tersebut dari gendongan Nabi. Nabi pun menegur Ummu Fadhl dengan berkata, “Pakaian yang basah ini dapat dibersihkan dengan air, tetapi apa yang dapat menghilangkan kekeruhan dalam jiwa anak akibat renggutanmu yang kasar itu?”

Baca Juga: Kapan Orang Tua Boleh Memberikan Gadget pada Anak-Anak?

BekelSego adalah media yang menyediakan platform untuk menulis, semua karya tulis sepenuhnya tanggung jawab penulis.

Asnan

Tenaga Pendidikan Yayasan Islam

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button