Anak Pertama Perempuan
Aku hanya ingin menepi sebentar. Dari riuh isi kepala, Yang entah apa maunya.
Aku hanya ingin menepi sebentar. Dari riuh isi kepala, Yang entah apa maunya.
Semua hal tentangmu berputar-putar di kepala selaksa bianglala.
Tentang aku, kamu, dan kita dengan kalimat yang sederhana.
Begitu banyak perbedaan membuatku semakin paham. Kita hanya sedang berperan. Menjelma dua insan yang memilih jalan untuk saling merelakan.
Hidup takkan pernah abadi Suatu saat datang kematian Tak tahu kapan itu datang Untuk itu berbuat baiklah pada sesama Hingga kau kan bahagia
Aku belajar menjadi penyembuh untuk tubuhku sendiri Aku belajar menjadi pendidik terbaik untuk pikiranku Aku belajar menjadi penghibur untuk membuat diriku terhibur
Terdapat kejujuran dalam hidupmu Terhadap diriku walau terasa pahit Tapi ada hikmah di balik semua Hingga suatu masa kan terjawab Bersama berlalunya waktu itu
Sewaktu larut angan yang membawaku hingga tengah malam. Tercium aroma tubuhmu-wangi parfum yang kau kenakan, menyelimuti kensendirian tanpa kehadiran...
Dunia mulai memperlihatkan sebuah gejala Yang memberi ancaman hal mengerikan selain Ebola
Mungkinkah rumput teki berbuah padi. Tak bisa diingkari jika sudah dikehendaki.
Akan selalu ada rupa senja. Entah hujan atau reda. Entah redup atau nyala. Entah sejenak atau selamanya. Entahlah. Mungkinkah akhir cerita kita?