Life

Mengambil Pelajaran Hidup Dari Lebah, Jadilah Pribadi yang Hanya Memberi dan Menyerap Kebaikan

Lebah adalah binatang kecil yang terukir indah dalam Al-Qur’an. Allah mengabadikan namanya pada salah satu surah dalam Al-Qur’an, yakni An-Nahl ayat 68-69.

Lebah diciptakan Allah SWT dengan banyak memberi manfaat bagi manusia. Di antara manfaatnya adalah madu. Tak hanya itu, perilaku hewan kecil ini harusnya menjadi cerminan akhlak bagi Muslim sejati.

Lebah adalah salah satu hewan yang memiliki keunikan tersendiri. Banyak pelajaran hidup dari lebah, Lalu, apa saja yang bisa kita pelajari dari kehidupan lebah?

1. Lebah adalah binatang yang bersih dan cinta kebersihan

Kebersihan yang ditunjukan lebah antara lain tempat dia memilih sarang di bukit-bukit, pohon – pohon atau tempat-tempat yang tinggi.  Semua tempat di atas adalah tempat yang bersih, dan jauh dari polusi. Lebah tidak pernah bersarang di tanah, atau tempat yang kotor lainnya. Kebersihan makanan juga ditunjukan lebah dengan memakan sari bunga yang sangat besih. Selanjutnya bentuk sarangnya yang berupa lilin berwarna putih, juga sebagai simbol kebersihan. Bahkan menurut hasil penelitian, permukaaan sarang lebah tersebut ditutupi dengan selaput halus sehingga udara kotor tidak masuk ke dalam sarangnya.

Begitulah pola hidup yang mesti dicontoh oleh semua manusia khususnya umat Islam, yaitu mencintai cara hidup yang bersih. Baik bersih secara fisik maupun bersih rohani.

Baca Juga:

2. Lebah memakan yang baik dan mengeluarkan yang baik

Secara secara harfiah manusia tidak dapat mencontoh lebah, mengingat apa yang dihasilkan manusia secara material berbeda dengan lebah. Namun, ada makna majazi yang bisa dicontoh dari sifat yang demikian, yaitu mengonsumsi yang baik-baik dan menghasilkan yang baik pula.

Manusia memiliki banyak kebutuhan yang mesti dipenuhi, seperti kebutuhan mata, telinga, mulut, akal, hati dan sebagainya. Maka ketika memberi makan semua itu, mestilah yang baik-baik seperti makanan untuk mata, telinga, mulut, fikiran dan sebagainya. Begitu juga manusia harus mengeluarkan yang bagus-bagus baik ucapan, tindakan maupun perbuatan.

3. Lebah memiliki perencanaan dan kerja yang matang

Lebah dalam membuat sarang membutuhkan waktu yang cukup lama, karena dia mesti mengeluarkan lilin dari perutnya dan mengunyah dimulutnya hingga menyusunnya menjadi rangkaian lilin. Kerja lebah membutuhkan ketelitian dan kecermatan karena sarangnya harus berbentuk segi enam yang sama ukurannya.

Menurut ahli matematika dengan sarang berbentuk hexagonal maka membutuhkan zat lilin paling sedikit dibandingkan bila sarang dibangundengan bentuk lainnya serta bentuk hexagonal memungkinkan ruang penympanan yang lebih besar. Pekerjaan yang begitu rumit dan memakan waktu lama dalam membuat sarang menghasilkan sesuatu yang kokoh, indah dan mampu melindungi anak-anaknya dari segala macam gangguan.

Kenapa rumah laba-laba paling rapuh? Sebab, laba-laba tidak punya perencanaan dalam membuat sarang dan bekerja secara instan. Lihatlah laba-laba ketika membuat sarang, ia bisa mengerjakannya dalam waktu yang sangat singkat. Namun, kerja yang cepat tidak menghasilkan sesuatu yang memuaskan, sebab rumahnya tidak mampu melindunginya dan anak-anaknya dari panas, dingin, hujan, serta gangguan lainnya.

Hal itulah yang semestinya dicontoh oleh manusia dari kehidupan lebah. Janganlah bekerja secara instan dan cepat selesai, buatlah perencanaan dan bekerjalah dengan cermat. Jangan seperti laba-laba yang bekerja cepat tapi hasilnya tidak memuaskan.

4. Lebah tidak pernah merusak pohon yang dihinggapi

Lebah tidak merusak. Di mana pun dia hinggap, tak ada tangkai daun ataupun ranting pohon yang patah. Betapa santunnya hewan kecil ini hingga dalam bergaul dia tidak menyakiti siapa pun dan senantiasa menjaga kedamaian dalam setiap suasana. Lebah senantiasa memegang prinsip iffah (ketenteraman) dalam pergaulan.

Begitulah prinsip hidup seorang manusia yang paling baik, di manapun dia hidup tidak pernah menebar kerusakan pada masyarakat sekitar. Kalaupun tidak akan bisa memberikan yang terbaik, jangan merusak kebaikan yang telah ada. Namun, alangkah baiknya seperti lebah yang bukan hanya tidak menimbulkan kerusakan, tetapi juga mendatangkan kebaikan dan manfaat berupa madu yang bisa menyembuhkan penyakit manusia.

Maksudnya alangkah lebih baik sekiranya kedatangan kita ke tengah masyarakat membuat orang yang sebelumnya sakit menjadi sehat, yang sebelumnya kacau menjadi tenang. Bukan sebaliknya, yang sebelumnya sehat menjadi sakit, dan yang sebelumnya tenang menjadi kacau.

Baca Juga:

5. Lebah tidak akan menyakiti kecuali disakiti

Ini adalah salah satu keunikan dari seekor lebah. Lebah adalah makhluk paling cinta damai, mereka tidak akan mengganggu manusia jika tidak ada gangguan yang mendatangi mereka. Karena sesungguhnya mereka paham akan resiko jika ia memulai perkelahian. Karena ketika ia menyengat, ia akan mengeluarkan racun dari dalam tubuhnya, maka risiko yang akan ia terima sangatlah besar, yakni nyawa mereka sendiri. Saat menyengat, kantung racun terbuka. Kemudian, di saat itu juga racun akan mengalir ke tubuh obyek yang disengat dan tubuh lebah itu sendiri.

Itu adalah prinsip hidup yang semestinya dimiliki setiap manusia. Jangan pernah menggangu orang lain, dan jangan pula bersedia diperlakukan semena-mena. Artinya, musuh tidak pernah dicari dan tidak pernah pula menolaknya jika ia datang.

Lebah punya harga diri. Ia tidak akan pernah mengganggu orang lain selama kehormatan dan harga dirinya dihormati. Namun, bila harga dirinya dizalimi, ia akan siap ‘menyengat’ pengganggunya.

6. Kehadiraannya Memberi Manfaat

Tak hanya manusia yang bisa mengambil manfaat langsung dari lebah. Sesungguhnya buah-buahan, bunga atau tempat-tempat dimana lebah mencari makan sesungguhnya mendapat manfaat langsung darinya.

Saat lebah sedang bekerja mengumpulkan nektar, sesungguhnya ia membantu dalam proses penyerbukan, sebuah proses fundamental dari sebuah bunga atau buah-buahan dalam siklus kehidupannya. Karenanya, serbuk sari bisa bertemu dengan bertemu dengan kepala putik, dengan pertemuan inilah dihasilkan buah-buahan yang manis, biji-bijian yang bermanfaat dan bibit baru yang mempertahankan.

Kita sudah sepantasnya juga meniru perilaku lebah ini. Keberadaan kita diharapkan memberi manfaat, kehadiran kita menenangkan, dan adanya kita tidak merusak. Dengan begitu, kita adalah menjadi sosok yang diharapkan bukan sosok yang dibenci bahkan dicampakkan. Dunia begitu senang akan kita, menunggu-nunggu, bahkan mengingat disaat kita sudah tiada.

Baca Juga:

7. Hidup rukun dan saling bekerjasama

Dalam sebuah koloni lebah, sesungguhnya masing-masing dari mereka memiliki peran-peran masing. Ada yang menjadi pemimpin (lebah ratu), ada yang menjadi lebah pejantan dan ada pula yang menjadi pekerja. Tidak pernah sedikt pun dari mereka saling iri atau menyerobot urusan yang bukan kapasitasnya. Mereka mengenyampingkan sifat itu, sehingga mampu bekerja sama dalam kelompok yang besar.

Sebuah pelajaran penting bagi kita. Saat kita berjamaah, berkelompok atau berorganisasi maka mengetahui peran masing-masing, tidak saling iri dan tunduk pada pemimpin maka akan menghantarkan kita kepada sebuah jamaah yang kokoh. Kemampuan kita bekerjasama dalam sebuah tim, akan sangat bermanfaat bagi tim untuk meraih tujuan yang sudah disepakati sebelumnya.

Itulah beberapa pelajaran hidup dari lebah sebagai bekal kehidupan manusia di dunia. Semoga bermanfaat.

Baca Juga: Mengapa Kita Harus Belajar dari Semut Hitam?

Nur Asiah

Teruslah bermimpi untuk dapat bertahan hidup

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Articles

Back to top button