Puisi Sastra

Hujan dan Patah Hati

hd wallpaper gdc0e7319b 640

Hawa dingin dan rintik hujan tidak bisa dipungkiri selalu memberikan nuansa yang berbeda untuk kita. Segala macam memori pun langsung tumpah ruah di kepala. Belum lagi berbagai macam aroma yang tertangkap oleh indera penciuman. Hujan selalu berhasil membawa kita kembali pada kenangan masa-masa silam. Beberapa dari kenangan itu adalah tentang patah hati.

Berikut adalah beberapa puisi patah hati yang terinspirasi oleh hujan.

ย 

Hujan yang Reda

Karya: Mentari Eka

Cintamu seperti rintik hujan

7 Penulis Novel Terlaris di Indonesia Sepanjang Masa, Terjual Jutaan Eksemplar!

Jatuh satu per satu

Menembus jiwa dan hatiku

ย 

Saat kau datang

Tidak ada hal lain yang kupikirkan

11 Penulis Puisi Terkenal di Indonesia, Jejak Kata Para Penyair Legendaris

selain berlari ke arahmu

ย 

Aku terus menari

di bawah derasmu

Berputar-putar

Membiarkan tubuhku kuyup oleh kata-kata

ย 

Mendung yang gelap

Petir yang menggelegar

Tidak sedikit pun aku hiraukan

ย 

Hujan yang candu

Hanya ada kau dan aku

ย 

Namun hujan

terkadang lena karena dipuja

Terkadang lupa ia dicinta

ย 

Hujanmu cepat sekali reda

Pergi tanpa kata-kata

Membiarkan tubuh ini,

Menggigil kehilangan rasa

ย 

Semarang, 08 Januari 2023

ย 


Hujan di Wajahmu

Karya: Mentari Eka

Di depanku, tidak lagi ada kamu

Hanya kepulan asap

berbaur dengan dinginnya udara

ย 

Ingatanku telah beku

Tidak pernah beranjak

dari saat-saat terakhir itu

ย 

Hujan di wajahmu

Terlalu deras untuk bisa kulupa

Berkali menbuatku tenggelam

Dalam penyesalan tiada ujung

ย 

Anggap aku pecundang

Lebih takut menghapus derasmu

ketimbang menggenggam telapak tanganmu yang dingin

Lebih takut makin tenggelam

ketimbang nekat mengarungi lautan kejam untuk menua bersamamu

ย 

Kini hujan deras ada di depanku

Bukan lagi di wajahmu

Namun kopi sudah terlanjur dingin

seperti hatiku

ย 

Semarang, 08 Januari 2020

ย 

Tentang Cuacamu

Karya: Mentari Eka

Aku belajar menenun sabar

Tidak terhitung detik jam

Langit yang dahulu kukenal biru

Kini muram selimut mendung

ย 

Cuaca selalu berubah

Sama juga sepertimu

Namun hujan lebih suka di pipiku

dan gelegar petir selalu keluar dari mulutmu

ย 

Salahkah aku berharap pelangi?

Lalu langit kembali biru

dengan guratan garis warna-warni?

ย 

Akankah datang masa itu?

Selepas gelap yang mengungkung waktu?

ย 

Semarang, 08 Januari 2020

ย 

Baca Juga: Pejuang Tinta

ย 

BekelSego adalah media yang menyediakan platform untuk menulis, semua karya tulis sepenuhnya tanggung jawab penulis.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

ร—
ร—