Piala dunia 2026 telah dimulai, dan musim demam bola pun akan terus berlangsung selama sebulan penuh. Turnamen akbar antarnegara yang berlangsung setiap 4 tahun ini pun akan menghibur semua masyarakat mulai dari kalangan atas hingga bawah. Sepakbola tak membeda bedakan kaya-miskin, tua-muda semua dapat menikmati hiburan rakyat ini walau hanya melalui layar kaca televisi.
Event besar seperti world cup memang menjadi magnet bagi semua masyarakat, khususnya para pencinta olahraga ini. Suguhan tayangan berkualitas dar tim sekelas Brasil, Argentina, Spanyol dan Inggris serta aksi-aksi memikat pesebakbola kelas dunia macam Lionel Messi, Cristiano Ronaldo, Erling Haaland hingga Harry Kane akan membuat kita betah berada di depan televisi bahkan hingga larut malam untuk menyaksikan ajang sepakbola terakbar sejagat raya ini.
Selain para penikmat sepak bola yang menikmati event ini, para pedagang pun juga tak luput ketiban rezeki selama world cup berlangsung. Terutama yang akan mendapat efek dari gelaran piala dunia ini adalah toko-toko televisi hingga tempat service televisi.
Namun di tengah gemerlapnya kita menikmati pesta bola terasa ironi karena Indonesia yang memiliki jumlah penduduk sangat banyak justru hingga saat ini belum mampu berpartisipasi di piala dunia. Kita rasanya sudah bosan melihat Tim Nasional kita terus menerus gagal dalam turnamen-turnamen yang diikuti. Akan sangat bagus jika event seperti piala dunia dijadikan ajang menimba ilmu bagi para pemain serta tokoh-tokoh sepak bola di negri ini agar di masa depan persepakbolaan kita dapat bangkit sehingga tampil di Piala Dunia bukan hanya mimpi semata.
Baca Juga:
Ada satu banyolan tentang kesebelasan PSSI kita tercinta, yang bertanding melawan tim nasional Jerman. “Kesebelasan kita berhasil mencetak 4 gol!” kata temen saya. Hebat. Luar biasa, saya terkagum-kagum. “Maksud saya, mencetak 4 gol ke gawang sendiri…” lanjut kawan saya sambil nyengir. Para pemain kita, tentu saja punya “banyak alasan” kenapa mereka tak pernah menang, apalagi bila main di kandang lawan.
Seorang teman saya yang lain mencoba menjelaskan soal tradisi kalah melulu itu. “Bila bahasa menunjukkan bangsa, maka sepakbola sebenarnya merefleksikan mentalitas bangsa. Nah, sebagai bangsa, kita adalah bangsa yang ramah dan selalu menghormati para tamu yang datang. Lah, kalau kesebelasan asing yang datang ke sini kita kalahkan, kan nanti kita bisa dicap sebagai bangsa yang tidak menghormati tamunya. Nanti mereka nggak mau lagi datang ke Indonesia. Kan bisa berabe”
Saya mesem, dan ingat pada kesebelasan Arab, yang sulit menang bila bertanding di tingkat Piala Dunia: karena bagi orang Arab, tidak apa-apa kalah di dunia, asal dapat kemenangan di akhirat nanti.
Anda, pasti, bisa menambahkan banyak lagi lelucon seputar sepak bola. Semua itu, sesungguhnya merupakan salah satu cara bagi kita untuk makin mencintai dan memahami sepak bola. Lelucon adalah sebuah cara pandang yang bisa melihat suatu persoalan secara berbeda. Kemampuan untuk melihat bahwa ada sesuatu yang telah terjadi tidak sebagaimana mestinya.
Makanya, filsuf Schopenhauer mengatakan, “orang tersenyum karena melihat sebuah kenyataan yang tak sesuai dengan kenyataan yang seharusnya.” Orang tertawa karena melihat paradoks. Dan kita tahu, dalam sepak bola pun begitu banyak paradoks. Paradoks itu bisa mewujud dalam tragedi, seperti ketika Pablo Escobar, pemain Kolombia yang menlakukan gol bunuh diri, ditembak oleh pendukungnya sendiri.
Setiap lelucon, pada akhirnya memang tidak berhenti hanya pada kekonyolan. Karena sebagaimana diyakini Gene Perret, setiap lelucon memang merefleksikan kebenaran. Para tiran tidak menyukai lelucon, karena mereka memang takut pada kebenaran (yang terkandung dalam lelucon-lelucon itu). Pada tingkat ini, melihat sepak bola dengan perspektif humor pada akhirnya menjadi cara untuk melawan kultur yang “tertutup”, anti dialog, dan mau menang sendiri. Benarlah apa yang dikatakan Michail Bachtin, “budaya tertawa itu sehat dan perlu buat kultur yang sumpek dan kaku.” Masyarakat yang tidak memiliki budaya tertawa, ibaratnya masyarakat yang dalam istilah Latin diungkapkan sebagai coligo in sole (melek tapi tidak melihat).
Jadi, yang penting bukan “ketawa”-nya itu, tetapi lebih ada “budaya ketawa”. Jadi, kalau memakai jargon Orde Baru, marilah mulai sekarang kita meningkatkan budaya ketawa yang adil dan beradab sesuai dengan Pancasila dan UUD ’45 (yang sekarang ini sudah diamandemen berkali-kali), bukan UUD Ujung-Ujungnya Duit seperti dinyanykan Slank.
Budaya ketawa bisa dilihat dari kualitas dan jenis folklor atau anekdot yang berkembang di masyarakat, dan bagaimana kemudian masyarakat menjadikan bahan-bahan tertawaan itu tidak hanya digunakan untuk menghibur diri, tetapi yang lebih penting ialah untuk merefleksikan diri. Itulah kualitas sense of humour yang diperlukan ketika kita begitu hiruk pikuk menikmati tontonan bola. Tanpa itu, barangkali kita nanti akan menyesali: betapa kita dari tahun ke tahun, dari event bola ke event bola lainnya, ternyata kita hanya menjadi “penonton sepak bola abadi”, yang hanya menempatkan bola sebagai hiburan, tetapi tidak pernah merasa tercerahkan.
Baca Juga:
Dengan sense of humour kita bisa “menghibur diri”: biarlah, kita (sebagai bangsa) tidak pernah merasakan kegairahan dan kegembiraan menjadi pemain yang terlibat langsung dalam perhelatan akbar bola, semacam Piala Dunia. Kita sepertinya memang terus menerus “dikutuk jadi penonton” yang dengan suka rela begadang di depan televisi. Tapi setidaknya kita bisa menjadi penonton yang mampu memetik inspirasi dari pertandingan-pertandingan yang kita tonton itu. Lantaran, apa boleh buat, kita memang tidak pernah mendapatkan inspirasi yang baik dalam bentuk apapun dari kelakuan para pemimpin kita yang kita tonton tiap hari.
Dengan sense of humour kita belajar memahami persepak bolaan kita yang makin terasa konyol. Tapi dengan sense of humour itu pula kita tetap berusaha tidak kehilangan kewarasan dan kecerdasannya. Dengan begitu, sepak bola bisa menjadi alternatif wacana yang memperkaya penghayatan kita pada hidup yang tambah sumpek ini. Bola yang bundar sering dimetaforakan sebagai nasib yang tak gampang diduga. Dan nasib, memang, seringkali konyol. Tapi setidaknya kita bisa berharap, dengan menonton bola, kita tidak sedang menyaksikan nasib kita sendiri yang ditendang ke sana kemari.
Baca Juga: 10 Liga Sepak Bola Terbaik di Dunia 2026, Inggris Masih Juaranya!

0 Comments