Setiap umat muslim di Indonesia yang sudah selesai ibadah haji di Mekah, mendapat gelar “Haji” atau “Hajjah” di depan nama. Sebenarnya gimana ya asal mula gelar haji itu?
Ternyata gelar tambahan Haji hanya ada di Indonesia, lho. Di Arab Saudi maupun negara lain, ketika seseorang pulang menunaikan haji tidak ada yang menambahkan gelar tersebut di depan nama mereka.
Gelar haji belum awalnya tidak ada di Indonesia
Jauh sebelum ada aturan penyebutan atau pemberian gelar haji itu, para kiai yang sudah pergi menjalankan ibadah haji tidak dipanggil Pak Haji atau tidak mendapatkan gelar haji seperti orang-orang pada saat ini.
Hal itu disebabkan karena menurut mereka haji adalah ibadah yang tidak perlu disebarkan kepada orang lain. Itu merupakan rukun Islam terakhir yang wajib dijalankan bagi siapa saja yang mampu.
Baca Juga:
Sejarah asal usul gelar haji di Indonesia
Gelar haji di depan nama seseorang hanya ada di Indonesia. Dalam sejarahnya, hal itu dilakukan pemerintah kolonial untuk menandai pemberontak.
Pada tahun 1859, pemerintah kolonial Belanda mulai menerbitkan sertifikat haji. Ini merupakan bentuk seleksi bagi orang-orang yang telah pergi berhaji. Siapapun yang baru pulang berhaji wajib menghadap bupati untuk mendapatkan sertifikat tersebut.
Wawancara disaksikan oleh kiai dan ulama, mereka yang pulang dari haji harus menjawab pertanyaan tentang haji. Jika dinyatakan lolos, maka akan diberi sertifikat dan gelar haji.
Pada tahun 1916 penjajah Belanda mengeluarkan keputusan Ordonansi Haji, yaitu setiap orang yang pulang dari haji wajib menggunakan gelar agar berbeda dengan orang yang berangkat haji. Hal ini juga sudah diatur di dalam Peraturan Pemerintahan Belanda Staatsblad tahun 1903.
Dalam Peraturan Pemerintah Belanda tersebut, orang-orang yang telah menunaikan ibadah haji diharuskan untuk menambahkan gelar di depan namanya. Untuk laki-laki gelarnya adalah Haji dan untuk perempuan gelarnya adalah Hajjah.
Tokoh agama islam dianggap berbahaya bagi Belanda
Pada masa itu, tokoh-tokoh islam yang baru pulang menimba ilmu di luar negeri dan yang baru pulang berhaji menyuarakan semangat kemederkaan bagi Indonesia. Hal ini tidak disukai oleh kolonial Belanda pada saat itu.
Diketahui bahwa Muhammadiyah didirikan oleh KH Ahmad Dahlan setelah pulang dari menjalankan ibadah haji. Kemudian, KH Hasyim Asyari mendirikan Nahdlatul Ulama. Sedangkan Samanhudi mendirikan Sarekat Dagang Islam. Sementara Cokroaminoto mendirikan Sarekat Islam.
Berdirinya organisasi-organisasi Islam itu tidak disukai oleh kolonial Belanda. Sehingga tokoh-tokoh Islam yang baru pulang berhaji dianggap membahayakan kedudukan mereka. Selain itu, mereka juga menganggap orang yang sudah pergi berhaji adalah orang suci.
Semakin banyak Muslim Indonesia pergi haji dan mendirikan organisasi Islam, maka akan makin tinggi pula rasa persatuan serta persaudaraan mereka. Hal ini tentu akan dapat memicu pemberontakan pada pemerintah kolonial dan mengguncang posisi Belanda di Indonesia. Belanda akhirnya mulai membatasi pergerakan organisasi Islam termasuk dakwah serta kepergian ke Tanah Suci.
Baca Juga:
Memudahkan Belanda untuk mengawasi pergerakan tokoh agama
Tujuan dari pemberian gelar ini adalah mempermudah Belanda dalam mengawasi gerak-gerik Muslim yang dianggap membahayakan setelah pulang berhaji dan mencari orang-orang yang berpotensi memberontak untuk kemudian dipenjara atau bahkan dieksekusi.
Biasanya yang menjadi tokoh utama pergerakan atau pemberontakan adalah para ulama yang sudah pernah berhaji. Jadi supaya gampang mengawasi pergerakan para ulama tersebut, maka disematkan gelar haji.
Gelar haji dipakai hingga saat ini
Setelah bangsa Indonesia merdeka, nyatanya masih banyak umat Muslim Indonesia yang menggunakan embel-embel haji di depan nama sepulangnya dari perjalanan ibadah ke Tanah Suci. Kebiasaan yang tertanam selama ratusan tahun ini tentu tidak mudah dihapuskan begitu saja. Hingga kini, sudah jadi semacam tradisi di mana mereka yang telah menunaikan rukun Islam kelima akan dipanggil dengan sebutan “Pak Haji” atau “Bu Hajjah”.
Baca Juga: Jejak Akulturasi Budaya, 12 Tradisi Unik Masyarakat Indonesia Menyambut Ramadhan

0 Comments