Biografi

Kisah Inspiratif Zinedine Zidane, Dari Anak Imigran Menjadi Maestro Sepak Bola

Dalam dunia sepak bola, sangat jarang kita menemukan sosok yang mampu meraih kesempurnaan di dua dunia yang berbeda. Zidane meraih kesukses sebagai pemain dan pelatih sepak bola.

Zinedine Zidane merupakan pemain sepak bola Perancis berdarah Aljazair. Pemain  yang akrab disapa Zizou itu merupakan salah satu legenda hidup sepak bola yang dikenal dengan skill tinggi.

Di lapangan, Zizou adalah gelandang penyerang yang sering memberikan umpan matang kepada ujung tombak timnya. Zidane juga dikenal jagonya melakukan dribbling dan penguasaan bola yang sulit dibaca pemain lawan.

Zidane memulai karir sebagai pemain di klub AS Cannes, kemudian hijrah ke Bordeaux, Juventus dan terakhir Real Madrid. Sejak tanggal 25 April 2006 lalu, Zidane telah “gantung sepatu” dari Tim Nasional Prancis setelah Piala Dunia tahun 2006.

Selain kiprahnya di lapangan hijau, sosok ZInedine Zidane yang bernama lengkap Zinédine Yazid Zidane di luar lapangan juga cukup menarik untuk ditelusuri.

1. Berawal dari Ballboy

Jauh sebelum dirinya menjadi sosok legenda, tidak banyak yang tahu bahwa Zizou remaja hanyalah seorang ballboy atau pemungut bola untuk klub Olympique de Marseille. Profesi tersebut dilakoninya lantaran dirinya ingin berdekatan dengan bintang pujaannya yang bermain di klub kebanggaan kota kelahirannya itu.

Zidane muda sangat mengidolakan playmaker fenomenal asal Uruguay, Enzo Francescoli. Belakangan terungkap bahwa gaya permainan Zidane yang luar biasa itu terinspirasi dari gaya bermain idolanya itu.

Saking ngefansnya dengan Enzo Francescoli yang berjuluk El Principe atau Le Prince yang dalam bahasa Indonesia berarti Pangeran itu, Zidane sampai mengabadikan nama sang bintang menjadi nama anak pertamanya.

Baca Juga:

2. Kisah Cinta dan Keluarga

Untuk urusan cinta dan keluarga, Zizou bisa dibilang sebagai lelaki yang beruntung. Istrinya, Veronique Fernandez adalah perempuan yang bisa dibilang adalah cinta sejatinya. Bagaimana tidak, perempuan yang mantan seorang penari sekaligus model berdarah Spanyol itu telah dikenalnya sejak tahun 1988.

Kala itu, Zidane masih bermain bersama AS Cannes, jauh sebelum dirinya mencapai era kejayaannya dan dielu-elukan sebagai seorang pahlawan. Dari pernikahannya itu Zizou dikaruniai empat orang anak yang tiga di antaranya bersekolah di Akademi Real Madrid. Zidane sendiri merupakan sosok sederhana yang penyayang dan membela keluarganya.

3. Seorang muslim yang Taat

Pria kelahiran Marseille, Prancis, 23 Juni 1972 itu adalah legenda Les Blues yang berasal dari keluarga imigran muslim keturunan Aljazair.

Walaupun hidup dan besar di lingkungan sekular khas Barat, sang ayah yang bernama Ismail sangat menekankan pendidikan agama kepada anak-anaknya. Zidane memiliki tiga kakak laki-laki dan seorang adik perempuan.

Oleh karena itu, meski capaiannya di lapangan luar biasa, namun Zidane tidak lupa untuk meletakkan dirinya sebagai seorang Muslim. Ia disebut-sebut sebagai atlet dunia yang taat menjalankan kewajiban salat lima waktu. Dengan menunaikan perintah yang menjadi tiang agama tersebut maka Zidane mengaku penampilannya di lapangan bisa semakin baik.

Selain taat menjalankan ibadah Salat, Zidane juga telah menyempurnakan rukun kelima agamanya dengan menunaikan haji ke Baitullah.

Ketika divonis cedera otot dan harus mendapat perawatan dari tim medis, Zidane diperintahkan untuk istirahat demi masa pemulihan. Tapi bukannya malah berbaring dan mengikuti terapi kesehatan, waktu luang itu dimanfaatkannya untuk beribadah haji.

4. Momen terbesar dalam karir sepak bola Zidane

Peristiwa tandukan Zidane terhadap Marco Materazzi di final Piala Dunia 2006 merupakan salah satu momen terbesar dalam kehidupan sepakbola Zidane. Peristiwa ini sempat menjadi misteri yang mengundang tanda tanya besar di kalangan publik terkait apa yang memicu Zidane bereaksi melakukan tindakan tidak sportif itu.

Sempat beredar kabar bahwa Matterazi telah melakukan pelecehan verbal bernada rasisme terhadap Zidane yang menyinggung ibunya. Namun belakangan Matterazi akhirnya menyampaikan ke publik bahwa dirinya memang telah bersalah melakukan provokasi yang menyinggung adik perempuan Zidane.

Namun Matterazi menyangkal bahwa provokasi verbalnya itu berkaitan dengan agama, politik dan rasis.

“Saya tidak mempunyai referensi untuk agama, politik atau rasis. Saya tidak melecehkan ibunya, saya sendiri telah kehilangan ibu saya saat saya berusia 15 tahun, saya tidak pernah melecehkan siapa pun yang berhubungan dengan ibu mereka,” kata Matterazi pada sebuah stasiun televisi Prancis.

Zidane pun mengamini pengakuan Matterazi dan menyesalkan aksi pemain belakang tim nasional Italia tersebut.

“Ada yang sangat pribadi, mereka melakukannya kepada ibu dan adik saya. Dia mengatakan kata-katanya sangat keras, dan dia ulangi beberapa kali. Anda mendengar sekali, maka anda tidak akan terlalu menanggapi, itu yang saya lakukan. Anda mendengar dua kali, dan tiga kali,” katanya.

5. Bangga dengan Asal Usulnya

Zidane adalah pesepak bola yang memiliki loyalitas yang tinggi untuk Prancis, meskipun dalam tubuhnya mengalir kuat darah Aljazair yang diwariskan dari kedua orang tuanya. Zizou kecil dibesarkan di La Castellane, sebuah pemukiman kumuh atau biasa disebut Ghetto di wilayah Marseille Utara yang dikenal keras dan terbelakang.

Ayahnya bukan dari mayoritas Arab tetapi Berber yang berimigrasi dari Kabylie sebuah kota di Aljazair ke daerah Marseille pada tahun 1960-an. Ayahnya sempat dituduh sebagai seorang Harki, sebutan untuk orang Aljazair yang berperang membela Prancis dalam upaya meredam tuntutan kemerdekaan Aljazair. Pendek kata, ayahnya dicap sebagai pengkhianat untuk orang Aljazair.

Namun Zidane membantah dan tak pernah mengakui bahwa ayahnya bukanlah seorang harki. Ia sempat mengeluarkan sebuah pernyataan untuk membantah anggapan tersebut usai menjadi pahlawan Prancis di Piala Dunia dulu.

Zidane juga dinobatkan sebagai pahlawan kaum imigran. Bagi warga keturunan Afrika Utara, keberhasilan lelaki asal Aguemoune, sekitar 250 kilometer sebelah timur Algiers, Aljazair itu tak hanya memberikan kebanggaan, tetapi semangat hidup baru kaum imigran.

Zidane telah membuktikan bahwa seorang imigran mampu berhasil memberikan kebanggaan bagi negaranya yaitu Perancis.

Baca Juga:

6. Seorang yang gigih namun emosional

Zidane mulai mengenal dan belajar bermain sepak bola di lapangan pusat kota La Castellane yang dikenal keras. Dari sana dirinya belajar bagaimana bisa melindungi diri di lapangan yang permainannya kadang bisa tiba-tiba berubah menjadi brutal.

Seorang sahabat masa kecilnya pernah mengisahkan bahwa Zidane kecil adalah sosok sederhana yang memiliki keyakinan kuat untuk selalu memenangkan permainan.

Karier sepakbola Zidane mulai merangkak saat dirinya dikontrak AS Cannes ketika ia berusia 16 tahun. Di awal kedatangannya, selama beberapa minggu pertama di Cannes dirinya tidak lantas mendapat perlakuan yang nyaman.

Tugas pertamanya di minggu-minggu awal di Cannes adalah membersihkan sepatu dan kamar ganti pemain sebagai hukuman karena memukul lawan yang mengejek asal-usulnya dari Ghetto. Zidane seketika bisa berubah menjadi emosional dan tempramen jika asal usul dirinya diusik.

Namun setelah dirinya mulai muncul di lapangan, Zidane langsung meraih simpati dan rasa hormat. Visi bermainnya di atas rata-rata, fisiknya kuat, kontrol bolanya mematikan, gerakannya indah dan skill olah bolanya begitu elegan.

Melihat Zidane bermain seperti melihat keanggunan seorang penari, itu yang dikatakan pemain-pemain besar seperti Maradona, Pele, Platini, hingga ke Beckenbauer.

7. Pribadi yang tertutup

Zidane adalah seorang pesepak bola yang lebih suka bermain dengan melakukan interaksi dan kerjasama dengan rekan setimnya. Dia bukanlah tipe pesepakbola selfish yang suka berlama-lama dengan bola dan mencoba melakukan penetrasi sendiri ke jantung pertahanan lawannya.

Namun di luar lapangan dirinya sangat berbanding terbalik dengan sosoknya di lapangan. Saat bermain untuk Juventus, rekan-rekan setimnya mengingatnya sebagai pribadi yang gemar menutup diri. Dia tidak pernah terlihat di klub malam, kencan dengan wanita selain istrinya, dan tidak hidup glamour dengan hartanya.

8. Sukses sebagai pelatih

Banyak legenda sepak bola gagal saat mencoba peruntungan sebagai manajer. Namun, Zidane mematahkan kutukan tersebut. Kembali ke Real Madrid sebagai pelatih pada 2016, ia melakukan hal yang dianggap mustahil oleh banyak pakar.

Hanya dalam waktu singkat, ia mempersembahkan tiga gelar Liga Champions berturut-turut (2016, 2017, 2018). Rekor ini menjadikannya satu-satunya pelatih dalam sejarah yang mampu melakukan hat-trick gelar UCL di era modern.

Kunci sukses sebagai pelatih di Real Madrid, adalah tidak sekedar mampu meracik taktik tim yang hebat, namun Zidane memiliki kemampuan mengontrol ego pemain bintang seperti Cristiano Ronaldo, dan pemain bintang lainnya.

Baca Juga: Kisah Sukses Michael Jordan, Menjadi Yang Terbaik Hingga Pensiun 3 Kali di NBA

Fransisca Dewi

Doyan traveling, dan kuliner

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button