9 Quotes Tamparan dari Khulafaur Rasyidin untuk Para Pemimpin Masa Kini

Seorang pemimpin memikul tanggung jawab yang tidak ringan di hadapan umat dan di hadapan Tuhan. Dalam sejarah, sangat sulit mencari pemimpin yang tabah bertahan dan rela menderita bersama rakyatnya dalam masa sulit, jauh dari fasilitas yang diinginkan.
Rasulullah adalah contoh terbaik seorang pemimpin yang ideal. Rasulullah selalu mendahulukan kepentingan umat daripada kepentingan sendiri.
Setelah Rasululllah wafat, tongkat kepemimpinan dilanjutkan oleh para sabahat nabi yang bergelar Khulafaur Rasyidin, yaitu Abu Bakar Ash-Shiddiq, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib.
Dari mereka kita mendapatkan praktik baik tentang kepemimpinan. Banyak kata bijak ataupun quotes dari para Khulafaur Rasyidin tentang kepemimpinan. Berikut beberapa di antaranya
1. Pemimpin harus luwes namun tidak boleh lembek
Petuah dari Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq yaitu, “Kepemimpinan (pemerintahan) ini tidak akan berjalan baik kecuali dengan keketatan tanpa kekerasan, dan keluwesan tanpa kelembekan.” Pemerintahan dan pemimpin boleh dan bisa jadi harus ketat tetapi harus menghindari kekerasan. Pemerintahan dan pemimpin harus luwes tetapi tidak boleh lemah lembek.
Baca Juga:
2. Pemimpin seharusnya semakin takwa kepada Allah
Khalifah Umar bin Khattab mengatakan, “Seandainya seekor kambing mati sia-sia di tepi Sungai Furat, sungguh aku meyakini bahwa Allah akan menanyakan hal itu kepadaku pada Hari Kiamat.” Menjadi pemimpin itu bukan untuk menyombongkan diri, tetapi menjadi pemimpin itu adalah mengayomi dan menghidupi semua yang dipimpin bukan hanya manusia tetapi juga kepada makhluk hidup lainnya seperti hewan, karena semua nanti akan ditanya pertanggungjawabannya oleh Allah. Menjadi pemimpin seharusnya semakin bertaqwa kepada Allah dan semakin khusyuk ibadah kepada-Nya.
3. Pemimpin jangan banyak tertawa
Khalifah Umar bin Khattab juga pernah berkata, “siapa yang banyak tertawa (terbahak, bukan tersenyum dan ceria), maka sedikitlah wibawanya.” Setiap pemimpin tentu saja harus berwibawa, jadi harus diusahakan berbicara dengan lugas dan jangan sampai banyak cengengesan, sehingga wibawanya jatuh.
4. Pemimpin harus bisa mengubah kebiasaan buruk bawahannya
Keempat Khalifah Umar bin Khattab mengatakan bahwa menjadi pemimpin harus mampu mengubah kebiasaan buruk pegawainya. Misal, seorang pemimpin memiliki pegawai yang zalim terhadap rakyat, seharusnya pemimpin tersebut mampu menasehati pegawai tersebut hingga akhirnya mau bertaubat dan berubah.
Jangan sampai malah membiarkan pegawainya yang berbuat zalim atau bahkan kongkalingkong dengannya. Karena, kalau begitu pemimpin tersebut sama saja menzalimi pegawainya. Maka pemimpin dan pegawai sama-sama berdosa. “Siapapun pegawai dalam pemerintahanku yang menzalimi seseorang, lalu kudengar kabar tentang kezalimannya tapi aku tidak mengubahnya (membuatnya bertaubat), maka sungguh aku telah menzalimi pegawai tersebut.”
5. Berbuat baik kepada penjahat
“Yang berbuat baik kepada orang jahat adalah pemimpin,” begitu pesan Khalifah Umar bin Khattab. Pesan Khalifah Umar ini memang menyentil para pemimpin. Bahwa menjadi pemimpin bukanlah hanya gelar pemimpin yang didapatkan, tetapi juga harus berbuat sesuatu seperti pemimpin.
Salah satunya adalah berbuat baik kepada orang jahat. Bagaimana berbuat baiknya? Menasehati, menghukum, memenjarakannya dengan cara atau akhlak yang baik. Maka sebaliknya, jika ada pemimpin yang belum berbuat baik kepada orang jahat, maka dia belum menjadi pemimpin sejati.
Khalifah Utsman bin Affan pernah berkata. “Kalian lebih butuh kepada pemimpin yang aktif, ketimbang pemimpin yang sering mengumbar kata-kata.”
Hal ini perlu diperhatikan oleh semua pemimpin. Rakyat tidak butuh pemimpin yang hanya sekedar omong-omong, selalu berjanji manis, namun nol perbuatan. Sebagai pemimpin harus mampu bertanggungjawab, setiap dia berbicara atau berjanji maka juga harus dilaksanakan.
7. Berikan nasihat kepada pemimpin
Para Khalifah juga tidak hanya memberikan petuah kepada pemimpin tetapi juga kepada rakyat agar membantu pemimpin dengan menasehati mereka ketika mereka keluar dari jalur Islam dan kebenaran. Seperti pesan Khalifah Utsman bin Affan, “Wahai hamba-hamba Allah, berhati-hatilah kalian. Bantulah pemimpin kalian, nasihatilah mereka jangan kalian menganiaya mereka.”
Baca Juga:
8. Jangan Memilih pemimpin untuk tujuan duniawi
Ali Bin Abi Talib pernah berkata, “Apabila engkau menghendakiku (maksudnya mengangkat Ali bin Abi Thalib sebagai pemimpin umat) demi tujuan-tujuan duniawimu, maka aku tidak siap melayani sebagai alatmu. Tinggalkan aku dan pilihlah orang lain yang mungkin memenuhi tujuanmu. Engkau telah melihat kehidupan masa laluku bahwa aku tidak bersedia mengikuti apapun selain al-Qur’an dan Sunnah Nabi, dan tidak akan melepaskan prinsip ini untuk mendapatkan kekuasaan”.
Khalifah Ali menegaskan, bahwa dia ditunjuk bukan untuk melayani masyarakat memenuhi nafsu duniawi yang tidak ada habisnya. Ali mengajarkan untuk mengikuti Al-Qur’an dan sunah sebagai prinsip hidup
9. Memajukan kemakmuran rakyat
Dalam surat kepada Gubernur Al Asthar di Kairo, Ali bin Abi Thalib menulis, ”Pemimpin itu harus bisa melihat dengan mata rakyat, harus mengerti bahasa rakyat, dan merasakan perasaan rakyat. Memajukan kemakmuran rakyat adalah tugas setiap pemimpin.”
Rasulullah bersabda, ”Setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban (di hadapan Allah) tentang kepemimpinannya.” Maka, betapa tak terpujinya para pemimpin yang hanya berorientasi melanggengkan kekuasaan dan melupakan penderitaan rakyatnya. Pemimpin yang baik adalah pemimpin yang selalui mendahului kepentingan rakyat, dibanding kepentingan sendiri.
Baca Juga: Quotes Tentang Kehidupan dari 5 Mantan Presiden Indonesia, Siapa yang Paling Menginspirasi?
















