Travel

Bosan Nongkrong di Malioboro? Ini 6 Lokasi Berburu Makanan Jadul di Yogyakarta

Jalan-jalan ke Yogyakarta, sangat tidak lengkap rasanya jika tidak mencicipi kuliner khas Yogyakarta. Jogja, Selain dikenal dengan tempat wisatanya yang banyak dan cantik, juga dikenal sebagai surganya wisata kuliner.

Mau kuliner khas yang jadul atau yang kekinian? Atau mau kuliner siang atau malam bahkan dinihari, semua komplit ada di Yogyakarta.

Biar kamu gak makin bingung, berikut rekomendasi beberapa tempat kuliner yang menjajakan makanan jadul di Yogyakarta.

1. Gudeg Pawon

gudeg pawon01.jpg e1769267454452
Gudeg Pawon (jogjaempatroda.com)

Makan Gudeg di sini unik, karena langsung disajikan dari pawon atau dapur penjualnya. Bahkan, beberapa kursi dan meja untuk pengunjung memang diatur di dalam dapur tersebut. Gudeg Pawon cocok untuk kamu penggemar kuliner di malam hari karena dia baru mulai beroperasi mulai pukul 10 malam sampai dagangan laku terjual.

Gudeg Pawon sudah ada sejak tahun 1958. Anda harus datang ke dapur yang berlokasi di Jalan Dr. Soepomo, Umbulharjo ini. Gudeg ini cepat habis lho, jadi disarankan untuk kamu mulai antri lebih cepat.

Baca Juga:

2. Angkringan Lik Man

Angkringan Lik Man e1769240786154
Angkringan Lik Man (homestaydijogja.net)

Angkringan tertua ini dimiliki oleh Mbah Pairo sejak tahun 1950-an yang kemudian dilanjutkan oleh anaknya, Lik Man. Angkringan Lik Man yang berlokasi di dekat Stasiun Kereta Api Tugu ini memiliki menu khas yang membuatnya berbeda dari angkringan lainnya, yaitu Kopi Joss. Kopi Joss adalah kopi panas yang dicelupkan arang panas membara untuk memberi efek rasa kuat.

Kalau menu angkringannya, mungkin kamu sudah tak asing lagi, seperti nasi kucing dengan oseng-oseng tempe atau teri, dengan lauk telur puyuh, kepala dan ceker ayam, sate usus, sate ayam, aneka gorengan, dan lainnya. Jangan heran kalau angkringan ini selalu dipadati pengunjung dengan antrian yang panjang.

3. Bakmi Pele

Bakmi Pele e1769265114168
Bakmi Pele (gudeg.net)

Dulunya, warung bakmi satu ini hanya dinaungi tenda yang berada di bawah pohon-pohon rindang di kawasan Alun Alun Selatan, Yogyakarta. Namun jangan salah, pengunjungnya selalu ramai. Mereka datang tidak hanya dari kota pelajar, namun juga dari seluruh Indonesia. Seiring waktu, warung Bakmi Pele meluaskan area dan memungkinkan pengunjung untuk menikmati mie khas tersebut sambil duduk lesehan. Namun tetap saja, antrian pengunjung yang penasaran dengan rasanya, panjang.

Bakmi Pele dimasak di atas tungku menggunakan arang, sehingga mie dan segala bumbu serta kuah yang dimasak secara slow cooking itu terasa lebih nikmat dan meresap.

4. SGPC Bu Wiryo

SGPC Bu Wiryo e1769268022204
SGPC Bu Wiryo (kompas.com)

SGPC adalah singkatan dari sego pecel alias nasi pecel. SGPC Bu Wiryo adalah tempat menyantap nasi pecel paling laris yang terletak di dalam komplek Universitas Gadjah Mada. Warung ini sudah ada sejak tahun 1959. Dimulai dari warung biasa sampai akhirnya sekarang sudah berada dalam bangunan kokoh. Setiap hari minggu ada live music tempo dulu, yang pasti akan membuat kangen setiap pengunjung yang pernah makan di sini.

5. Mangut Lele Mbah Marto

Mangut Lele Mbah Marto
Mangut Lele Mbah Marto (kumparan.com)

Berbeda dengan mangut lele kebanyakan yang menggunakan kuah santan, ciri khas masakan mbah Marto adalah bumbu pedas dan lele yang diasap.

Awalnya mbah Marto berjualan mangut lele secara berkeliling. Dia berjualan sambil memikul makanannya hingga belasan kilometer ke pusat kota Yogyakarta. Setiap harinya, mbah Marto berjualan dengan berjalan kaki sampai Pasar Beringharjo. Hingga pada tahun 1986, mbah Marto memutuskan untuk berjualan di rumahnya, yang berada di belakang kampus Institut Seni Indonesia (ISI).

Baca Juga:

6. Sate Klathak Pak Pong

Sate Klathak Pak Pong e1769266083327
Sate Klathak Pak Pong (salsa wisata)

Wisata kuliner Jogja legendaris ini merupakan warisan keluarga dari seorang pedagang Sate Klathak yang sudah berjualan sejak tahun 1970-an. Pak Pong adalah orang pertama yang menciptakan menu sate ini dengan menggunakan besi bekas jari-jari sepeda sebagai tusukannya, sehingga daging yang dihasilkan matang sampai ke dalam.

Sate Klathak adalah sate dari daging kambing. Sebelum dibakar, daging cukup dibumbui dengan garam dan sedikit ketumbar. Makannya pun tidak dengan siraman saus kacang atau kecap, melainkan kuah gulai yang disiramkan ke nasi panas. Kalau kurang pedas, kamu bisa menambahkan irisan cabe rawit. Hmm, selamat menikmati! Kunjungi Warung Sate Klathak Pak Pong yang sudah melegenda di Jalan Imogiri Timur, Bantul.

Jadi, tunggu apa lagi. Mumpung masih di Jogja, sempatkan mampir di beberapa tempat kuliner yang menjajakan makanan jadul di Yogyakarta.

Baca Juga: Museum Sonobudoyo, Tempat Kencan di Jogja yang Nggak Bikin Kantong Jebol

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Articles

Back to top button