Life

Kembali ke Masjid, Cara Ampuh Membayar Utang di Pinjaman Online

MASJID NUSANTARA Adab adab Ketika Berada di Masjid PEXELS e1784989739975
Ilustrasi merenung d Masjid (pexels)

Kehidupan di dunia memang bagaikan putaran roda, Kadang kita di atas, dan kadang pula kita berada di bawah.

Saya kembali mengambil dompet di saku belakang celana. Hanya ada lembaran hijau 1 lembar. Uang saya tinggal 20 ribu rupiah. Saya cek mobile banking yang ada hp saya, ada mandiri, BRI, BNI, dan BCA. Saya pun melihat kembali saldo gopay dan DANA yang saya miliki, semuanya tidak ada yang bisa diambil. Bahkan sekedar beli makan siang di kantin sebesar 15 ribu saja melalui QRIS, tidak bisa dilakukan.

Terbayang oleh saya, bahwa saya harus membayar uang sekolah anak, jajan anak, belanja dapur, dan saya pun harus ada uang untuk transport saya ke kantor. Saya adalah seorang PNS, dari golongan staf biasa dan bukan pejabat.

Entah sudah berapa masjid yang sudah pernah saya singgahi. Bukan hanya sekedar salat, baca Al-Qur’an, zikir, tapi kebiasaan saya mendatangi masjid. Semua itu saya lakukan karena saya sudah mentok, tidak mampu lagi membayar utang.

Semua berawal dari pinjaman online

Ya, saya memang terlibat dalam pinjaman online. Dari yang awalnya cuma pinjam sebesar 500rb, menjadi ketagihan. Berkembang menjadi 1 juta, 2 juta, 5 juta, dan akhirnya sayapun gali lubang tutup lubang untuk menyelamatkan diri. Hingga akhirnya total utang saya hampir mencari 1 Milyar.

Bikin HRD Kepo! 7 Tips Membuat CV Menarik yang Pasti Dilirik

Berbagai teror dari DC, FC pinjol terus menghantui saya. Serasa 24 jam hidup saya, penuh dengan teror. Hidup saya menjadi tidak tenang, gelisah, takut, labil, dan penuh emosi. Seringkali mata ini, berurai air mata membayangkan penyesalan dan ketakutan yang tidak terhingga.

Dalam posisi itu, ketika saya bingung tidak lagi bisa membayar utang dengan utang, saya pun menyerah. Waktu berjalan terus, hingga teman, saudara, dan kerabat tidak ada yang bisa membantu saya.

Di tengah teror dari DC dan FC, saya pun mulai tegar. Saya harus bisa mempertanggungjawabkan hal ini kepada istri, anak, kerabat, dan juga kepada Allah. Mau kabur? Kabur kemana? Bagaimana dengan anak dan istri saya?

Baca Juga:

Menata ulang kehidupan kembali dari Masjid

Perlahan-lahan, saya mulai menyerahkan persoalan ini kepada Allah. Perlahan-lahan saya pun mulai menata kembali kehidupan saya, walaupun hutang terasa bertambah banyak karena bunga yang semakin bertambah.

15 Tanaman Hias Indoor Paling Favorit 2026, Mana yang Belum Kamu Punya?

Hal utama yang harus saya perbaiki adalah salat saya. Saya mulai rutin berjamaah di masjid 5 kali sehari. Setiap kali mendengar azan, saya pun siap untuk ke masjid

Serasa Masjid menjadi tempat kabur paling baik buat saya. Walaupun hanya merenung dan menangis di dalam masjid, hati saya perlahan-lahan mulai tenang.

Ya, masjid adalah tempat satu-satunya tempat yang mau menerima saya setiap saat. Masjid serasa menjadi saksi penyerahan hidup saya kepada Allah.

Sejak itu, di tengah kesibukan pekerjaan saya, saya hampir tidak pernah meninggalkan masjid walaupun 1 hari. Akan ada penyesalan besar yang menghinggapi saya jika saya tidak ikut salat berjamaah di sana.

Saya semakin bersemangat ke masjid, karena saya tidak sendiri. Ada beberapa orang yang bernasib seperti saya yang pernah saya temui dan ajak ngobrol di masjid.

Pulang dari masjid, memang saya tidak mendapat uang hingga berkarung-karung untuk membayar utang saya. Hanya di masjid saya bisa menemukan sesuatu yang tidak bisa saya ungkapkan dengan kata dan tulisan, sangat berkesan dalam untuk saya. Tapi paling tidak, saya mendapat ketenangan yang luar biasa.

Keluar dari masjid, uang saya juga tidak bertambah, tetap di dompet masih ada 15 ribu rupiah. Namun, ada motivasi lain yang membuat semangat saya bertambah, ‘Terus berusaha, perbanyak ibadah dan berdoa, biarlah Allah yang mengatur segalanya’.

Baca Juga:

Perlahan-lahan kondisi ekonomi mulai membaik

Saya sadar, masjid bukanlah tempat untuk mengumpulkan uang, kecuali jika nekat mencuri kotak amal. Motivasi untuk terus berusaha, perbanyak ibadah dan berdoa, seakan menjadi tambahan energi saya untuk terus berjuang melunasi uutang.

Sedikit demi sedikit, hutang saya yang hampir 1 milyar tersebut semakin berkurang. Gaji saya juga tidak naik, masih minus karena potongan riba di Bank, namun entahlah hutang pinjaman online tersebut perlahan-lahan mulai terbayar.ย  Beberapa pinjol sudah tidak meneror saya, tagihan yang datangpun saya mampu bayar walau terlambat. Selalu ada jalan keluar untuk membayar tagihan tersebut.

Saya sangat sadar, bahwa ini adalah bentuk pertolongan Allah dari jalan yang tidak disangka-sangka. Karena secara logika, saya sudah tidak mampu lagi membayar. Jangankan untuk membayar utang, buat makanpun tidak ada.

Namun itulah jalan keluar dari Allah. Pelan tapi pasti. Saya juga sadar, bahwa hal ini masih akan berlangsung sangat lama, karena utang saya yang hampir 1 milyar. Mungkin Allah menyukai hal ini, karena semakin lama keimanan saya semakin bertambah, dan saya makin sering berkunjung ke masjid.

Dan saya yakin, dosa-dosa saya karena riba, akan semakin berkurang, seiring dengan berkurangnya utang-utang saya.

 

NN

Pojok masjid, Juli 2026

Baca Juga: Ubah Pola Hidup, 5 Cara Menghindari Hidup Miskin Selamanya

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

ร—
ร—