5 Alasan Kenapa Orang Tua Tidak Memberikan Uang Jajan Berlebih Kepada Anak Ketika Sekolah


Jajan di sekolah e1775828721979
Ilustrasi Jajan di sekolah (antaranews)

Orang tua mana yang tidak sayang kepada anaknya. Pasti semua sayang kepada anaknya. Karena sayangnya, tak jarang orang tua memberikan fasilitas yang lebih kepada anaknya. Apa pun yang diinginkan anaknya akan dituruti. Termasuk dalam hal pendidikan. Ini memang bagus dilakukan supaya anaknya kelak mempunyai masa depan yang lebih baik dari pada orang tuanya, terlepas dari apa pekerjaan orang tuanya.

Orang tua yang memberikan fasilitas yang lebih kepada anaknya memang bagus, namun tidak semua benar. Tergantung dari segi apa fasilitas yang diberikan kepada anaknya, dan apa manfaat fasilitas tersebut sudah dibutuhkan oleh anak apa belum. Jika memberikan fasilitas yang tidak atau belum dibutuhkan oleh anak, maka akan percuma dan sia-sia saja. Termasuk dalam hal uang jajan ke sekolah. Memberikan uang jajan yang berlebih bukanlah solusi yang tepat untuk menunjukkan kasih sayang kepada anak.

Memberikan uang jajan yang berlebih justru akan berdampak yang kurang bagus kepada anak. Dengan uang jajan yang berlebihan tidak menjamin anak akan lebih baik dalam hal pendidikan. Tak jarang anak dari keluarga dengan taraf ekonomi yang kurang dengan uang jajan yang pas-pasan justru malah berprestasi di sekolahnya.

Berikut beberapa alasan kenapa orang tua tidak boleh memberikan uang jajan berlebihan kepada anak ketika sekolah.

1. Boros

Uang jajan yang berlebih membuat anak tidak bisa mengontrol perilaku dalam hal mengatur keuangan. Hal ini terjadi jika orang tua tidak memberikan pengertian kepada anak tentang cara mengatur uang jajan yang diberikan.

Anak akan bersifat konsumtif. Jika di sekolah, maka ia akan membeli makanan atau minuman di kantin yang seharusnya sudah dirasa mencukupi untuk dia malah digunakan untuk mentraktir teman-teman terdekatnya.

Ini terjadi dikarenakan taraf emosi anak yang belum bisa mengatur keuangan dan membedakan antara mana yang sebaiknya ia lakukan dan yang tidak. Jika uang yang ada masih ada, setelah pulang sekolah tak jarang dibelikan sesuatu yang juga kurang bermanfaat. Ini mengakibatkan sifat yang boros pada anak.

Meskipun orang tua dalam kondisi ekonomi yang mapan, sebaiknya pemberian uang jajan yang berlebih harus dihindari. Anak akan selalu meniru apa yang orang tua lakukan dan orang-orang yang ada di sekitarnya. Ini akan mempengaruhi pola pikir anak terhadap cara mengelola keuangan. Orang tua hendaknya menanyakan kepada anak tentang apa saja yang ia butuhkan baik mengenai pendidikan maupun hal-hal lain yang dibutuhkan oleh anak.

Baca Juga:

2. Tidak bisa berpikir

Orang tua yang memberikan uang jajan yang berlebihan kepada anaknya tak jarang membuat anak tidak bisa berpikir secara baik. Keseringan orang tua bahkan yang selalu memberikan uang jajan berlebihan membuat anak hanya bisa membelanjakan uang yang ia peroleh tanpa bisa berpikir bagaimana cara mengatur uang yang diberikan padanya.

Dalam benak anak bagaimana uang yang ia dapat bisa habis. Anak tidak bisa berpikir bagaimana cara orang tuanya mendapatkan uang sehingga ia dapat dipenuhi kebutuhannya. Jika uang habis ia tinggal bilang kepada orang tuanya. Jika anak tidak bisa mendapatkan uang jakan yang biasanya ia peroleh, maka yang anak lakukan hanya marah dan bahkan mengamuk.

3. Tidak bisa berkonsentrasi pada pelajaran

Perberian uang jajan yang berlebihan juga berdampak pada anak tidak bisa berkonsentrasi ke pelajaran. Di dalam kelas pada waktu pelajaran anak sering berpikir bagaimana caranya membelanjakan uang saku tersebut supaya habis. Anak berpikir nanti pada waktu istirahat ia makan dan minum apa? Setelah pulang nanti mampir ke mana? Mau beli apa dengan uang jajan yang belum habis? Dan masih banyak lagi cara-cara yang ia pikirkan untuk membelanjakan uangnya tersebut.

Ini membuat anak sering melamun dan tidak bisa mengikuti pelajaran. Apa yang telah dijelaskan oleh guru di dalam kelas hanya angin lalu, masuk telinga kanan dan keluar telinga kiri. Tak jarang karena tidak berkonsentrasi tersebut membuat anak ketinggalan pelajaran. Teman-temannya sudah bisa mengerjakan soal yang mudah ia tidak bisa mengerjakannya. Apa lagi soal yang sedang bahkan sukar.

Jika di dalam kelas sudah ketinggalan pelajaran, maka di rumah juga akan mengalami kesulitan jika ada tugas atau PR. Hal ini yang menyebabkan anak sering menyontek tugas atau PR kepada temannya tanpa mengetahui bagaimana cara mendapatkan jawaban yang sebenarnya sudah ada di buku. Karena tidak paham pada mata pelajaran, maka aksi curang saat ulangan atau tes kerap terjadi. Dengan demikian pemberian uang jajan yang berlebihan dapat menyebabkan prestasi anak menurun.

4. Menimbulkan kecemburuan sosial

Tidak semua orang tua anak mampu dalam satu kelas. Apalagi di lingkup sekolah negeri, pekerjaan orang tua masing-masing murid sangat beragam. Ada anak yang orang tuanya menjadi pengusaha, PNS, pekerja swasta, pedagang kecil, tukang ojek, dll.

Selain itu, ada juga orang tua yang sudah sadar, dengan tidak memberikan uang jajan berlebihan kepada anaknya. Jadi, tidak semua anak diberikan banyak uang jajan ketika sekolah. Hal seperti inilah yang mesti anda pikirkan. Agar anak anda tidak menjadi biang kerok kecemburuan sosial karena jajan banyak.

Anak perlu diterima dengan baik di lingkungan pergaulannya. Tanpa bermaksud meremehkan kemampuan ekonomi keluarga teman-temannya, tetapi sebaiknya anak tidak tampil mencolok di antara mereka. Pemberian uang saku berlebih malah bisa menyusahkan anak.

Ia terlihat jauh lebih kaya daripada teman-temannya. Barangkali hanya beberapa orang yang berani mendekatinya. Murid satu kelas akan terpecah menjadi dua kelompok. Kelompok anak yang tampak kaya dan kelompok anak yang lebih sederhana. Bila mereka semua membaur, tentu bakal lebih baik.

Baca Juga:

5. Kecenderungan uang jajan anak akan terus bertambah besar

Tanpa sadar, banyak orang tua berpikir bahwa makin besar anak, makin besar juga kebutuhannya buat jajan selama di sekolah. Akibatnya, setiap naik kelas, uang jajan anak juga ikut naik. Padahal, kebutuhan anak sebenarnya tetap. Satu kali mengudap dan satu kali makan besar sampai tiba waktu pulang.

Pemikiran kurang tepat seperti di atas perlu diubah. Jangan sampai mindset anak ketika pergi ke sekolah adalah buat jajan. Selagi ongkos transportasi bisa bertambah seiring jauhnya sekolah anak, uang jajan masih dapat disamakan sampai harga jajanan memang mengalami kenaikan yang signifikan.

Itulah beberapa alasan orang tua tidak berlebihan memberikan uang jajan kepada anaknya. Jangan karena anda mempunyai ekonomi yang mapan terus selalu memberikan uang jajan yang berlebihan. Anda harus berpikir untuk masa depan anak.

Baca Juga: 7 Tips Melatih Anak Untuk Berpuasa, Dimulai Sejak Balita!

 


Professional

0 Comments

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *